BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Belajar Membebaskan dari Sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw [by Aris Comandante]

image

Dalam sejarah awal Islam, Khalifah yang harus menghadapi Fitnah paling besar adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu. Di 4-5 tahun jabatannya sebagai Khalifah, beliau dihadapkan pada tiga golongan yang bisa disebut musuh dalam Islam; Qasithin, Naqitsin, Mariqin.

Lima tahun pula beliau harus menghadapi fitnah itu dengan sikapnya yang berbeda terhadap tiga golongan yang dominan muslim tersebut, bukan kafir atau pun musyrik. Thaha Husain, seorang sastrawan dan pemikir muslim dari Mesir menuliskan sejarah Fitnah Besar tersebut dalam kitab karyanya 'Al Fitnah al-Kubra' dengan sangat terperinci dan detail. 

Kata fitnah sendiri seringkali disalahartikan sebagai sesuatu yang negatif dan peyoratif sepanjang sejarah pemikiran Islam, hingga diadopsi ke dalam bahasa Indonesia pun masih tetap seperti kata serapannya, fitnah, tanpa arti yang jelas, karena sangat arbitrer.

Padahal jika mengacu pada kata dasarnya dalam Kamus Lisanul 'Arab karya Allamah ibn Mandzur, fatana berarti proses menempa. Contoh, 'fatantu adz-dzahab wa al-fidzdzah,' jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya aku menempa emas dan perak (mas lan slaka, pesantren). Menempa di sini adalah proses memisahkan unsur emas dan perak dari batu batu di dasar bumi melalui pembakaran dengan suhu tinggi agar terpisah antara unsur batu dan emas peraknya. Proses tempa tidak berhenti sampai di situ, ada proses tempa berikutnya untuk memisahkan kadar dan karatnya hingga menghasilkan emas murni dan turunannya. Sampai di sini sudah bisa dimengerti asal kata fitnah? 

Sayyidina Ali sebagai sosok Agamawan, Negarawan, Politisi, Panglima Perang, Orator, Diplomat,dll, yang di dunia modern sekarang dipartisi satu per satu, tahu benar harus seperti apa menghadapi ummat/rakyat yang didominasi oleh tiga golongan utama di atas. Mu'awiyah sebagai golongan apa, Khawarij sebagai golongan bagaimana, Thalhah dan Zubair sebagai siapa, sudah diketahuinya secara antropologis, sosiologis bahkan psikologis sejak masa kecil bergumul dalam bimbingan (tarbiyah dan ta'dibah) Rasulullah. 

Dalam suasana Perang dan Damai, Ali tahu kapan harus melakukan perlawanan, duel satu lawan satu, pemberontakan, impunitas, remisi, arbitrase, hukuman, permaafan, dan pembebasan. Mungkin, dan bisa jadi seorang sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoi, ketika menulis novelnya yang berjudul 'War and Peace', Penyerbuan ke Kazan, dan Haji Murad, memasukkan unsur unsur spirit ini dari sosok Pintu Ilmu Nabi dalam bubuhan sastrawi di novel-novelnya. 

Dalam Perang Shiffin, Ali tahu bahwa yang dihadapinya adalah orang-orang yang bingung. Sebagai sesama muslim yang harus berhadap-hadapan dalam sebuah Front, sikap tegas harus ditampakkan untuk melanjutkan perang atau arbitrase. Ali, seperti halnya tradisi Rasulullah sebelum laga kolosal dilakukan, meminta salah satu panglima terbaiknya untuk perang tanding, hal ini dilakukan untuk mengukur kemampuan bertahan dan menyerang dari dan terhadap pasukan Mu'awiyah.

Siapa yang tidak kenal Ali, sosok pembawa bendera putra kemenakan kinasih Rasulullah, yang tidak pernah kalah di laga baik kolosal maupun tanding. Yang pintu benteng Khaibar, menurut riwayat tidak bisa diangkat oleh 40 orang dewasa yang kuat, dijebolnya hanya dengan satu tangan untuk dijadikan tameng. Ketika Shiffin hampir dimenangkan pasukan Ali, pasukan Mu'awiyah berulah dengan siasat liciknya menancapkan Mushaf Al Qur'an di atas pedang dan tombak sebagai usaha mengecoh pihak yang ragu ragu dari pihak Ali. Dan benar, ketika Ali menghimbau agar tetap menyerang karena itu adalah tipu muslihat, pihak Ali yang kemudian memisahkan diri dari barisan yang setia itu kemudian menjadi khawarij, tetap memilih gencatan senjata. Ali pun harus pasrah demi maslahat. Sekiranya Ali adalah orang Jawa, dia akan bilang,"Yo wes lah." 

Pasca Arbitrase (tahkim) yang dipolitisir pemenangannya oleh pihak Mu'awiyah, Ali tetap hidup sebagai rakyat biasa yang hanya memiliki segelintir pengikut yang setia. Ali tetap memposisikan diri di Kufah sebagai Pemimpin Spiritual yang sewaktu waktu harus menghadapi Umat Sumbu pendek khariji dengan pandangan awas dan teliti. Ketika mereka bertanya, berdebat, sampai berperang tetap dilayani dengan hormat sesuai kadarnya. Terlalu sepele bagi Sosok Pintu Ilmu Nabi ini menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka Kaum Khawarij.

Hingga tiba waktu dimana Ali yang tidak mungkin dilawan di medan perang itu pun harus menjumpai syahadahnya di mihrab Masjid Kufah saat tertebas oleh pedang beracun Abdurrahman ibn Muljam, di shalat Subuhnya. Ali masih bisa melanjutkan shalat Subuhnya hingga salam, ketika dipertengahan shalat, Abdurrahman bin Muljam yang, ahli puasa di siang hari, penghapal Qur'an, dan ahli sholat malam itu membatalkan shalat subuhnya untuk mendaratkan tetakan pedang beracunnya di kepala kemenakan kinasih Rasulullah itu. 

Ketika Abdurrahman mengerang saat ditangkap oleh sahabat lainnya dengan terlalu kencang ikatannya di tangan, Ali yang sudah tidak berdaya menahan sakit dari racun yang sudah mulai menyebar di seluruh tubuh itu, meminta melonggarkan ikatan tangan Ibn Muljam, memberikan makanan dan menasehatinya sebagai pesan terakhir. Sebelum hukum qishash diberlakukan atas Ibn Muljam, bentuk kehormatan kehormatan, keadilan kemanusiaan. George Jordac, Seorang Pendeta Kristen Syiria menuliskannya dalam "Al Imam Ali Shaut al Adalat al Insaniyyah." 

Ketika Jokowi membebaskan Abu Bakar Ba'asyir, Pemimpin Jama'ah Ansharut Tauhid yang selalu berpidato menolak Pancasila sebagai Ideologi Negara, harus diingat bahwa sikap permaafan seperti ini sudah pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib. Juga sikap berbeda dari Sukarno terhadap sahabat satu kosnya, SM Kartosuwiryo ketika harus berbeda haluan Ideologi di akhir hayatnya. 

'Cosmopolitasm and Forgiveness' karya Jacques Derrida mungkin harus juga menjadi bacaan Pak Jokowi tidak hanya sebagai usaha membebaskan ABB, tapi juga memulangkan anak anak negeri di Eropa dan Amerika yang, karena tersangkut G 30 S, meski hanya sebagai anak, kerabat, keluarga, tidak bisa pulang ke Negara tercinta Indonesia. *** 

Batan, 21 Januari 2019


Tue, 22 Jan 2019 @13:52

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved