Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Sang Penerjemah [by Aris Comandante]

image

Kerja penerjemahan adalah kerja yang harus dihargai setara kerja penulisan Karya Ilmiah. Ada proses hermeneutik dan semiotik di dalamnya. Bukan hanya sekedar menerjemahkan dari satu kata ke kata lainnya dalam bahasa yang berbeda dari bahasa asli yang diterjemahkannya. Proses memilih diksi yang tepat dalam setiap kalimat, tanpa mereduksi makna dari kalimat asli adalah tugas yang mahaberat. Sama hal nya ketika Nabi harus menggunakan bahasa masyarakat Arab ketika menerjemahkan bahasa Tuhan, yang bahkan Musa pun harus pingsan berkali kali dan bukit Sinai hancur berkeping-keping oleh sedikit frekuensi Cahaya Tuhan.

Al-Ghazali memahami proses ini sebagai usaha yang sangat Sophisticated ala Kaum Sufi. Ia menyebutnya sebagai Hermeneutika Sufistik Esoterik, ketika kita berbicara dengan burung-burung agar berkicau, tidak bisa dengan bahasa kita, tapi cukup dengan menggunakan siulan dan petik jari. 

Ketika saya melakukan penerjemahan pertama kali terhadap sebuah risalah berbahasa Arab hanya sebanyak 41 lembar untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, awalnya saya merasa sangat berat untuk melakukannya. Hingga keteguhan niat tersebut terkumpul karena di dalam teks tersebut berisi otokritik dari Imam Ja'far as-Sadiq SA buat para pengikutnya sepanjang zaman. Sementara saya telah menjadi bagian dari proses kepengikutan itu, terhitung sudah 18 tahun sejak pertama mengenal literatur-literatur Pemelihara Ilmu di kalangan Keluarga Nabi tersebut. 

Ada banyak tokoh penerjemah yang menginspirasi saya untuk tetap mengasah ilmu terjemah ini beserta ilmu-ilmu yang mendukungnya, diantaranya adalah: Muhammad Bagir (Ayah Pak Haidar Bagir), Fuad Hasyim (adik O. Hasyem), Ali Audah (Penerjemah Hayatu Muhammad karya Husain Haikal), Abdulaziz Sachedina (penerjemah salah satu karya Ayatullah Khu'i, Prolegomena to The Qur'an), Guru kami sendiri Kang Jalaluddin Rakhmat (telah menerjemahkan karya agung Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad, Sahifah Sajjadiyah), Wardah Hafidz (penerjemah Negeri Bahagia, City of Joy), dan masih banyak lagi karya terjemahan dari para penerjemah yang saya kenal konsisten dan hebat.

Beranjak dari sini, saya sedang dihadapkan pada sisi yang paling paradoks antara panggilan jiwa penerjemah dengan pasar yang menghargai terjemah tidak lebih dari harga kurang dari satu gelas kopi Excelso per lembar. Saya sadar bahwa usaha seperti ini lahir dari proses panjang penguasaan seseorang akan bahasa asing yang dikuasainya, dari bahasa Arab, Inggris, Persia, Spanyol, Jerman, dan bahasa-bahasa mayor lainnya.

Saya yang terus berproses untuk menguasai bahasa-bahasa mayor itu, selalu menjadikan beberapa poliglot sebagai penyemangat: RMP Sosrokartono (menguasai 34 bahasa Eropa beserta bahasa daerah daerah di sana), Soekarno, Hadji Agus Salim, Tan Malaka, Koesalah Soebagyo Toer, Muhammad Iqbal, Isabelo de los Reyes, dan masih banyak lagi yang lain. Semakin banyak inspirator, semakin banyak spirit terkumpul. 

Proses penerjemahan secara tidak langsung adalah juga proses pendalaman, rekonstruksi, dekonstruksi, atas karya yang diterjemahkannya. Pernah beberapa penerjemah saya tanya pada posisi ini, apakah memahami alur berfikir tokoh yang karyanya diterjemahkan dengan utuh. Mereka menjawab dengan jawaban yang mengecewakan saya, TIDAK. 

Saya mungkin akan lebih apreciate terhadap Fuad Hasyim, yang telah menerjemahkan 'The Road to Mecca' nya Leopold Weiss (Muhammad Asad). Sebuah catatan perjalanan seorang Yahudi melakukan konversi menjadi Muslim, bahkan menjadi Pemikir Muslim avant garde cum Bapak Republik Islam Pakistan. Sekiranya penerjemahan itu harus dilakukan selama proses Perjalanan Leopold Weiss menjadi Muhammad Asad, itu harus diapresiasi sebagai sebuah karya perjalanan se-masterpiece 'Futuhat al Makiyyah (Meccan Revelation) nya Ibn Arabi. Di sini Fuad Hasyim tidak membutuhkan gaji sebagai penerjemah, tapi ingin mengubah orientasi penbaca setelah membaca 'Road to Mecca' tersebut. 

Sekiranya saya merasa suntuk untuk menerjemahkan beberapa karya, hanya dari kemampuan menguasai bahasa bahasa yang ada secara rata-rata penerjemah Indonesia, sebagai katarsisnya, saya akan membaca novel dari salah seorang Novelis dari Khartoum Sudan, Laila Abuleila dengan 'The Translator' nya, atau membaca karya terjemahan dari masih satu satunya penerjemah Bahasa Spanyol di Indonesia, Mas Ronny Agustinus, seperti karya karya Subcomandante Insurgente Marcos (Zapatista), Ben Anderson, dll. Sekiranya saya pun, dalam proses mematangkan bahasa Jerman saya sampai tingkat mahir, tidak kunjung mendapatkan beasiswa fully funded untuk studi lanjut ke Jerman, saya akan menerjemahkan karya Theodore Noldeke, Geschichte des Qoran. Pada akhirnya, hanya Allah yang tahu berapa usia yang layak diberikan kepada orang orang yang visioner. *** 

Batan, 18 Januari 2018

Wed, 23 Jan 2019 @08:22

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved