Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Al-Quran Kitab Teologi [by Munim Sirry]

image

Minggu ini mahasiswa membaca dua surat al-Quran, yakni al-Ma'idah (5) dan al-Syu'ara' (26), untuk dua tema berbeda: pertama "The Qur'an and Christianity" dan kedua "God, prophets and the history of the world." Seperti biasa, diskusi sangat hidup dan semarak.

Argumen yang saya kembangkan di kelas ialah bahwa al-Qur'an itu kitab teologi. Tidak sulit mengembangkan argumen tersebut ketika membaca surat al-Ma'idah yang memang sangat teologis. Setelah dua ayat pertama berbicara soal makanan, ayat ketiga langsung memperlihatkan superioritas Islam sebagai agama sempurna. Soal makanan Ahl al-kitab disinggung pada ayat ke-5, juga kawin dgn mereka.

Al-Quran memperlihatkan kedekatan dengan Kristen dalam surat ini. Mereka disebut dgn panggilan "nashara", "ahlul kitab" dan "ahlul injil." Hanya dalam surat ini ada sebutan ahlul-injil bagi umat Kristiani. Kedekatan al-Qur'an dengan Kristen juga terlihat dlm kritiknya terhadap sikap ahlul kitab terhadap kitab sucinya. Al-Qur'an sangat keras terhadap umat Yahudi, menggunakan bahasa laknat, tapi tdk demikian halnya terhadap Kristen. Bahkan ketika mensejajarkan umat Yahudi dan Kristen pada ayat 82, ditegaskan "kalian akan mendapatkan umat yg paling dekat kecintaannya kepada kaum beriman ialah mereka yg mengatakan 'kami ini orang-orang Kristiani'." 

Lalu, bagaimana dengan surat al-Syu'ara'? Bukankah dalam surat ini diceritakan kisah-kisah para Rasul dan Nabi? Jawab saya, benar bnyk kisah disebutkan dalam surat itu, tapi sebetulnya bukan untuk menceritakan suatu kisah, melainkan aspek teologis di balik kisah. Kisahnya sendiri tidak penting. 

Sebelum saya elaborasi poin terakhir itu, mari saya jelaskan poin lain supaya argumen saya lebih jelas. Perhatian al-Qur'an untuk menceritakan kisah "historis" itu sangat kecil. Bisa dikatakan, al-Qur'an tdk peduli soal aspek historisitas. Bahkan, terkait sejarah dirinya sendiri ia tidak banyak bicara. Inilah Kitab Suci yang berbicara sangat sedikit tentang lingkungan di mana dan kapan ia muncul. 

Kalau anda hanya baca al-Qur'an anda tidak akan pernah tahu dimana dan kapan ia muncul. Bahkan kepada siapa ia diturunkan pun kita tdk tahu dari teks al-Qur'an. Kata "Muhammad" saja hanya muncul 4 kali. Satu lagi, kata "Ahmad." Jadi, sangai sedikit informasi yang kita dapatkan dari teks al-Qur'an, karena memang bukan kitab sejarah.

Dengan kerangka seperti itu kita bisa memahami surat al-Syu'ara: yakni, bukan untuk menceritakan kisah-kisah historis. Ada tujuh Nabi diceritakan dalam surat itu: Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Salih, Luth dan Syu'aib. Di akhir setiap kisah mereka itu ada kalimat begini "Di situ ada tanda-tanda (ayah)." Apapun maksud "tanda-tanda", yang ditekankan bukan kisahnya, melainkan bagaimana mengambil pelajaran.

Jika anda perhatikan seksama kisah Nuh, Hud, Salih, Luth dan Syu'aib, akan terlihat alur ceritanya sama. Bahkan, mereka mengatakan kalimat-kalimat yang sama. Jadi, al-Qur'an itu punya semacam "template" cerita dan kemudian memasukkan nabi-nabi yg berbeda sebagai aktornya. Saya menyebut konsep kenabian al-Qur'an ini sebagai "mono-prophecy." Yakni, sebenarnya satu kisah, tapi nama aktornya dibuat berbeda-beda.

Dengan demikian, menjadi terang benderang, bahwa al-Qur'an menyebut nabi-nabi itu bukan untuk menceritakan kisah historis mereka, tapi pelajaran apa yang bisa diambil. Di mana aspek teologisnya? 

Tujuan al-Qur'an ialah untuk menempatkan nabi Muhammad dalam rentetan nabi-nabi sebelumnya. Di awal surat itu diisyaratkan bahwa nabi Muhammad sedih karena banyak yg menolak ajakannya. Kisah-kisah nabi terdahulu dibuat dgn template tertentu untuk "menghibur" nabi. Setiap nabi yang diutus kepada suatu kaum, ditolak oleh sebagian dan diterima oleh sebagian yang lain. 

Al-Quran mengajarkan nabi Muhammad seperti ini. "Muhammad, katakan kepada umatmu, jika kalian menolak, maka kalian akan dihukum sebagaimana umat-umat terdahulu dihukum karena menolak nabi-nabi mereka." 

Anda bisa bayangkan betapa semaraknya diskusi di kelas. Sebab, mereka tahu kisah sebagian nabi-nabi itu dalam Bible. Menariknya, Hud, Salih dan Syu'aib adalah nabi Arab yg tdk ada dalam Bible. Ada mahasiswa yg nanya: Bagaimana mungkin mereka juga menggunakan template nabi-nabi dalam Bible? Dengan senyum saya jawab: Lho namanya juga template, kan aktornya bisa siapa saja. Serentak mereka tertawa. 

Setelah kelas usai, saya teringat diskusi di Salihara tahun lalu yang menghadirkan Rocky Gerung dan tiga pembiacara lain, termasuk saya. Diskusi itu sebenarnya didesain untuk memberi Rocky sebuah forum agar dia bisa mengelaborasi pernyataannya "Kitab Suci itu fiksi." Ternyata Rocky tidak punya argumen solid. Saya yakin, mahasiswa saya di kelas lebih canggih berargumen soal tema itu. Sampai jumpa minggu depan ya. *** 

SUMBER: Facebook Munim Sirry

 

Wed, 30 Jan 2019 @08:41

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved