BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Belajar Filsafat bersama Sayyidina Ali [by Aris Comandante]

image

Ilmu adalah Cahaya, ungkap Sayyidina Ali dari Rasulullah. Jika matan yang sangat umum didengar oleh khalayak muslim hingga hari ini sahih adanya, maka hadis yang sangat singkat ini hanya bisa dijelaskan secara filosofis oleh pintu ilmu Nabi. Banyak penjelasan syar'i atas hadis ini, tapi tidak banyak penjelasan falsafi atasnya. 

Kenapa ilmu dimetaforkan sebagai cahaya itulah pertanyaan awal yang harus dimendasarkan. Manifestasi cahaya yang paling terang adalah matahari (sang surya). Jangkauan cahaya adalah cakrawala (aafaaq, ufuq). Cahaya siang hari menyinari dalam jangkauan, ufuk timur hingga ufuk barat. Semakin jauh dari cahaya, semakin sedikit mendapatkan pendarnya. Semakin dekat dari cahaya (matahari) semakin banyak pencerahan didapatkan. 

Cahaya memiliki gradasi warna jika dipantulkan pada sebuah benda (coklat, merah, oranye, kuning, hijau, biru, violet, abu abu, putih). Cahaya memiliki sifat divergen (menyebar) dan konvergen (mengumpul). Demikian halnya Ilmu, ia terikat dan terurai. Sayyidina Ali digelari Pintu Ilmu Nabi karena mampu menyimpul, mengikat, Ilmu seluas Kota (Nabi). Imam Muhammad Baqir digelari Baaqir al-Ulum karena mampu mengurai Ilmu Nabi. Sayyidina Ali tidak butuh menjelaskan ilmu Nabi dengan penjelasan yang panjang lebar jika tidak dimulai dengan sebuah pertanyaan yang mendasar dan filosofis, beliau senantiasa berkata di setiap majelis Ilmu,'Tanyalah aku sebelum kalian kehilangan aku!." 

Para filosof Muslim lebih suka memberi judul masterpiecenya dengan kata 'aql, hikmah, isyraq, nur, dll. Hal ini untuk mencari relasi epistemologis, ontologis, teleologis atas ilmu. Al-Farabi dengan, Suhrawardi dengan Hikmat al-Isyraqi, Ibn Arabi dengan Fushush al-Hikam, Al-Ghazali dengan Misykat al-Anwar, Mulla Sadra dengan Hikmat al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyat al-Arba'ah, dll. 

Hikmah (hochmah,Ibr) disepakati sebagai pengganti kata Filsafat, Falsafah, Philosophia, Kebijaksanaan. Cahaya (Nur, anwar) disepakati sebagai manifestasi Ilmu (pengetahuan), logos, entitas, dll. Akal disepakati oleh para filosof segala zaman dari klasik hingga posmodern sebagai subjek yang berfikir, berkreasi, berimajinasi, berkhayal (Pure Reason). 

Proses berfikir hierarkial dan transendental diumpamakan dalam empat perjalanan akal (al-asfar al-'aqliyat al-arba'ah) oleh Mulla Sadra dalam judul magnus opus-nya yang 9 jilid itu. Sadra yang berasal dari Persia kuno sadar harus menggunakan bahasa yang tepat untuk konstruksi rasio transendental nya dalam bahasa Arab, bukan bahasa asli dimana dia dilahirkan, Syiraz, kecuali memang bahasa yang digunakan di abad 16 di Persia waktu itu adalah bahasa Arab. 

Ada pun proses perolehan ilmu (hikmah) menurut Sayyidina Ali, dalam salah satu aforisme-nya, adalah dengan senantiasa menjadi hamba di hadapan 'alim, "kuntu 'abdan liman 'allamani harfan." Selalu tunduk dan patuh sebagai hamba di hadapan sang 'Alim. 

Pertanyaannya, jika menjadi kawula saja bisa mendapat satu huruf (simbol, sandi, ayat, tanda), bagaimana jika menjadi kawan, keluarga, kerabat dekat? Bayangkan proses inisiasi ilmu dari Nabi kepada keluarganya yang dikhususkan (suci). 

Hikmah sendiri, sabda Nabi, adalah sesuatu yang terserak dari kaum mukmin. Jangan khawatir untuk mengambilnya dari berbagai sisi, fragmen, ragam, warna. Ia bisa berupa.

Tanda (ayat) yang untuk menguaknya harus mempelajari Semiotika. Ia juga bisa berupa hamparan luas dari timur hingga barat yang untuk mendapatkannya harus mendatangi (safar) ke negeri-negeri yang tidak kita kenal. Tapi ia juga bisa mengejawantah dalam kitab suci apakah Qur'an, Injil, Taurat, Kabbalah, etc. 

Tulisan ini ditutup sementara dengan mengutip sabda dari Ibn Arabi:"Hatiku telah mampu menerima berbagai bentuk, Padang gembala rusa atau biara pendeta Kristen, dan Kuil berhala, Ka'bah tempat peziarah, dan kitab Taurat, dan Al-Quran, aku mengikuti agama cinta, ke mana pun unta cinta membawaku, ke situlah agamaku dan keimananku."[] 

2 Februari 2019

Aris Comandante

 

Mon, 4 Feb 2019 @10:20

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved