Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Bible dan Al-Quran: Seri kelas Islam dan Teologi Kristen [by Munim Sirry]

image

Minggu ini kita mendiskusikan hubungan al-Qur’an dan Bible. Kita mencoba untuk melampaui perbincangan yg sudah umum tentang tahrif, yakni tuduhan bahwa kaum Kristiani telah mendistorsi kitab suci, atau bahwa Bible tidak otentik.

Ada banyak alasan untuk menguburkan diskusi tdk produktif semacam itu. Pertama, al-Qur’an mengakui secara eksplisit otentisitas Bible sebagai bersumber dari Allah. Kedua, setiap kali menyebut Taurah atau Injil, nada al-Qur’an selalu positif. Misalnya, di dalamnya terkandung “petunjuk dan cahaya” atau “hukum dan peringatan.” Ketiga, bahkan saat mengkritik sikap kaum Kristiani terhadap kitab sucinya sekalipun tidak jelas apa yang dikritik al-Qur’an.

Mahasiswa-mahasiswa saya di kelas menggambarkan hubungan al-Qur’an dan Bible dengan berbagai ekspresi, seperti “mixed feeling” atau “complicated.” Ekspresi itu terkait hubungan cinta. Ya kan? Mungkin karena mereka masih remaja. Saya yang tidak lagi remaja pernah menulis artikel melukiskan hubungan al-Qur’an dan Bible sebagai “benci tapi rindu.” Al-Qur’an tampak mengambil jarak dari “pengaruh” Bible, tapi pada saat yang sama sering menyebutnya. Kata pepatah Arab, “man ahabba syai’an katsura dhikruhu” (orang yang mencintai sesuatu akan sering menyebutnya).

Dalam al-Qur’an banyak terkandung “Biblical materials.” Ini sesuatu yang tak perlu diperdebatkan. Ada dua argumen yang saya kembangkan di kelas dan menyulut diskusi menarik. Pertama, al-Qur’an itu lebih dekat kepada kitab suci Kristen daripada Yahudi. Bukankah kitab suci Yahudi juga diakui kaum Kristiani sebagai Perjanjian Lama? Jawabnya, iya. Tapi, al-Qur’an lebih condong ke tafsir Kristen.

Mari saya jelaskan dengan contoh. Misalnya, cerita Adam dan jatuhnya ke bumi. Yang diceritakan al-Qur’an itu mirip dengan kitab Kejadian dalam Perjanjian Lama. Salah satu yang membedakan adalah, dalam al-Qur’an, Adam dan Hawa (nama ini tdk disebutkan) digoda oleh setan. Kalau dalam Perjanjian Lama, yang memperdaya Hawa adalah ular. Menariknya, dalam tafsir Kristen, ular itu kadang dipahami sebagai setan. Jelas kan al-Qur’an lebih condong ke versi Kristen.
Contoh lain, misalnya, kisah Kabil dan Habil (nama mereka juga tdk disebut eksplisit di Qur’an), tapi ceritanya ada. Dalam dialog mereka sebelum Habil dibunuh, ia berkata “Jika kamu mengulurkan tangan untuk membunuhku, aku tak akan mengulurkan tangan untuk membunuhmu.” Itu seperti prototipe ajaran Yesus: Tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Disebutkan, Yesus mengajarkan: Jika kamu ditempeleng di pipi kanan, berikan pipi kirimu. Artinya, kedepankan cinta kasih, jangan balas kekerasan dengan kekerasan.
Tampak jelas kan betapa dekatnya al-Qur’an dengan versi Kristen. Implikasi argumen ini sangat jauh dan dahsyat terkait usal-usul atau konteks historis kelahiran Islam. Sangat sulit dibayangkan Islam lahir dalam lingkungan musyrikum, orang-orang yang menyembah berhala. Ini tema  diskusi menarik yang saya diskusikan di kelas dengan agak detil.
Argumen kedua saya terkait audience al-Qur’an itu: Mereka pastilah sangat mengenal kisah-kisah dalam Bible. Mereka bukan penyembah berhala seperti yang umunya diduga. Al-Qur’an itu sulit dipahami jika audience-nya tidak mengenal Bible dengan baik.
Banyak mufasirun kesulitan memahami ayat-ayat tertentu dlm al-Qur’an justeru karena mereka tidak lagi membaca/mengenal Bible. Saya bisa ajukan banyak contoh, tapi utk kepentingan kuliah FB cukup satu saja ya.
Jika kita baca Kitab Kejadian 18 (ayat 2), di situ diceritakan 3 orang yang bertamu ke Ibrahim. Setelah makan, Yahweh mengumumkan bahwa Sarah, istri Ibrahim, akan segera melahirkan anak. Mendengar kabar itu, Sarah tertawa. “Mana mungkin saya akan punya anak, umur saya sudah terlalu tua,” kira-kira begitu kata Sarah. Cerita itu dimaksudkan untuk menjelaskan nama anaknya “Ishaq”, yang dalam bahasa Ibrani berarti “dia tertawa.”
Nah, coba baca al-Qur’an surat Hud. Ayat 71, disebutkan “Dia (Sarah) tertawa, maka Kami memberinya kabar gembira tentang Ishaq.” Pembaca al-Qur’an akan bingung: Sarah itu tertawa dahulu baru diberi kabar ttg kehamilannya, atau kabar kehamilan (yang tidak mungkin) itu menyebabkan dia tertawa?
Urutan dalam al-Qur’an kan yang pertama. Dan itu tdk masuk akal. Karena itu, para mufasirun kesulitan memahami kronologi kejadian itu. Makanya, ada mufasir yang memahami kata “dlahikat” sebagai “menstruasi,” bukan “tertawa.” Artinya, Sarah itu mengalami menstruasi lagi dan kemudian hamil.

Padahal, kalau membaca al-Qur’an bersandingan dengan Bible, akan mudah memahaminya. Tdk perlu mengada-ada makna “dlahikat” sebagai menstruasi. Cukup kata “fa” setelah dlahikat diartikan “ketika,”bukan “maka.” Maka, terjemahan Qur’an jadi begini: “Dia (Sarah) tertawa KETIKA Kami memberinya kabar gembira tentang Ishaq.” Beres kan?

Itulah pentingnya mengembangkan tafsir yang kreatif, bukan mengulang2 tahrif doang. Seperti halnya mahasiswa saya di kelas mengajukan banyak pertanyaan, anda pasti ingin berkomentar. Monggo, silahkan. Sampai jumpa minggu depan ya.***

Wed, 6 Feb 2019 @09:01

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved