INFORMASI MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima kiriman artikel/opini atau resensi buku. Silakan kirim melalui e-mail: abumisykat@gmail.com

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Sirah Nabi dan Kristen Ideal [by Munim Sirry]

image

Kita masih di bagian pertama dari empat bagian yg akan kita lalui semester ini. Begian pertama dimaksudkan sebagai pengantar tentang Islam dan hubungannya dengan Kristen. Minggu ini kita baca sejarah hidup Nabi Muhammad, yang dikenal dengan sirah. Kitab yang kita baca ialah karya Ibn Ishaq yg disunting oleh Ibn Hisyam. Inilah kitab sirah paling awal yang sampai kepada kita sekarang.

Mahasiswa saya di kelas sudah mengetahui bahwa saya skeptik terhadap reliabilitas atau akurasi kisah dan episode hidup Nabi dalam kitab sirah. Saya sudah menjelaskan tren-tren dalam kesarjanaan mutakhir. Tapi saya tdk setuju kitab-kitab sirah tersebut ditinggalkan saja. Diperlukan sikap kritis.

Bagi saya, cara paling baik melihat kitab sirah ialah bukan sebagai catatan sejarah, tapi catatan ulama dlm mengingat nabinya, seorang figur yg menjadi teladan hidup, uswah hasanah. Dialah pribadi yang sempurna dan nabi paling agung.

Sebagai bagian dari cara ulama Muslim mengingat Nabinya, kitab-kitab sirah menciptakan potret Kristen ideal. Seorang Kristen yang baik ialah yang memberikan kesaksian tentang kenabian Muhammad.

Pengakuan tokoh-tokoh Kristen terhadap kenabian Muhammad cukup banyak ditemukan dalam kitab sirah. Pengakuan itu bahkan disebutkan sebelum Muhammad jadi Nabi. Dalam perjalanan ke Suriah bersama pamannya, Abu Thalib, Muhammad dan rombangan distop oleh rahib Bahirah, yang melihat tanda kenabian di antara bahu Muhammad.

Juga ketika Muhammad membawa barang dagangan Khadijah ke Suriah, saat duduk di bawah pohon, seorang rahib Kristen mengamati dan terheran. Sebab, tidak ada orang lain yg berteduh di bawah pohon tersebut kecuali nabi-nabi terdahulu.

Peristiwa itu disampaikan oleh Khadijah kepada sepupunya, seorang tokoh Kristen bernama Waraqah bin Naufal. Mendengar kabar itu, Waraqah berkata: Jika benar kabar itu, maka Muhammad akan menjadi nabinya umat saat ini.

Kisah Waraqah ini berlanjut ketika Muhammad menerima wahyu pertama, yang menjadi pertanda dia sebagai Nabi. Pendek cerita, istri Nabi Muhammad, Khadijah, menceritakan apa yang dialami Nabi di gua Hirak. “Malaikat yang datang ke Musa sekarang datang kepada Muhammad,” kata Waraqah.

DIceritakan Ibn Hisyam, Waraqah ini adalah satu dari empat orang di zaman Jahiliyah yang menolak ajaran syirik. Mereka disebut hunafa’ (sing. hanif), yakni orang yang beriman tauhid tapi tdk menganut agama tertentu. Pada akhirnya, Waraqah memeluk agama Kristen.

Tiga orang lainnya mengambil jalan berbeda. Satu memeluk Islam dan ikut hijrah bersama sejumlah kaum Muslim ke Etiopia, tapi dia pindah ke Kristen. Dia mati di sana. Satu lagi pergi ke Bizantium dan memeluk Kristen dan menjadi petinggi di sana. Tak ada kabar tentang dia. Yg terakhir tetap memilih sebagai hanif. Dia bernama Zaid dan beberapa kali berjumpa dan berdialog dengan Nabi Muhammad.

Kitab sirah memilih berbicara detail tentang Waraqah. Dia digambarkan berpengetahuan luas dan fasih dalam Alkitab. Bahkan ketika ditemui Khadijah, dia sedang menulis dalam bahasa Ibrani. Kitab sirah hendak mengatakan, pengetahuan ttg Alkitab itulah yang mengantarkannya mengakui Muhammad itu nabi, walaupun ia sendiri tdk masuk Islam.

Kisah ini untuk menegaskan ayat al-Qur’an bahwa di dalam Alkitab terdapat ayat-ayat tentang kenabian Muhammad. Maka, ibn Hisyam merujuk ayat-ayat parakletus dalam Alkitab, yang dianggapnya sebagai referensi pada Muhammad.

Kesaksian tentang kenabian Muhammad tdk hanya berasal dari tokoh-tokoh Kristen. Ketika Nabi pergi ke Tha’if untuk mencari perlindungan, dan di sana dia tdk disambut baik tapi malah dianianya, seorang budak Kristen menghampiri dan memberinya makan. Dalam dialog, budak Kristen itu terkesima dengan perkataan Nabi. Dia berkata, yang dikatakan Muhammad itu bukanlah sesuatu yang biasa didengar di Tha’if. Kata-kata Muhammad mengingatkannya pada petuah-petuan nabi-nabi di Alkitab. Maka, dia mencium tangan dan kening Nabi.

Gambaran tentang “Kristen yang baik” banyak dijumpai dalam kitab sirah. Beberapa kawan aktivis dialog agama di Indonesia begitu bangga menyebut sebagian kisah-kisah itu, seolah-olah untuk menunjukkan hubungan baik antara Nabi Muhammad dan kaum Kristen. Para aktivis ini tdk menyadari unsur polemis di balik penggambaran itu.

Saya mengajukan pertanyaan berikut untuk didiskusikan di kelas: Seberapajauh pengakuan orang-orang Kristen dalam karya Ibn Hisyam itu merefleksikan konteks saat buku itu ditulis? Apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh Ibn Hisyam dengan membuat klaim-klaim tersebut tentang tokoh-tokoh Kristen?

Ketika Ibn Ishaq menulis kitab sirahnya di awal pemerintahan Abbasiyah, kaum Muslim memerintah sebagai kelompok minoritas di tengah penduduk yg mayoritas beragama Kristen. Tdk sulit membayangkan bnyk umat Kristiani menolak mengakui kenabian Muhammad.

Sangat mungkin Ibn Ishaq ingin mengatakan begini: Lho kalian menolak kenabian Muhammad, padahal dulu tokoh-tokoh dan para rahib Kristen sudah memberi kesaksian bahwa Muhammad adalah Nabi Allah.

Dengan demikian, kisah-kisah pengakuan rahib Kristen tentang kenabian Muhammad merefleksikan perkembangan belakangan dan berfungsi sebagai narasi dahwah. Figur-figur Kristen ideal diciptakan dalam iklim polemik untuk menunjukkan superitas Islam dan keagungan Nabinya.
Di kalangan umat Kristen juga muncul narasi tandingan. Penulis Kristen membuat cerita berbeda ttg Bahirah, misalnya. Sergius Bahirah digambarkan sebagai penganut bid’ah dan ditolak. Justderu dialah yang mengajari Muhammad. Menurut versi ini, Qur’an itu ditulis oleh Bahirah yang dia ajarkan ke Muhammad untuk disebarkan.

Dikisahkan, ketika Muhammad sedang berada di tengah sahabat-sahabatnya, Bahirah ini ingin menyampaikan tulisan ke Muhammad. Supaya tdk ketahuan, dia mengikatkan tulisannya itu di tanduk sapi agar sampai ke Muhammad seolah-olah berasal dari wahyu. Tulisan itu sekarang menjadi surat al-Baqarah, surat tentang sapi, dalam al-Qur’an.

Itulah sekelumit contoh bagaimana figur “Kristen ideal” dan “Kristen bid’ah” diciptakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Semoga sekarang menjadi jelas, bahwa pertanyaan saya di atas tdk mengada-ada. ***

SUMBER: Facebook Mun'im Sirry 

https://web.facebook.com/masirry?fref=search&__tn__=%2Cd%2CP-R&eid=ARCfhm2gy-X9zl0SnMUN5R7z2zXVvZ7x8KjZDeaz2VY2X9suW22HcTKf8o5bCgaJCHE8pg7RE5Z7FIu0

Sun, 10 Feb 2019 @10:26

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved