Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Santri, Fiksi, dan Kitab Suci [by Aris Comandante]

image

Dunia santri tidak bisa dilepaskan dari sastra. Dari kata dasarnya yang diambil dari era pra-Islam Jawa sendiri (Hindhu-Buddha), Santri dari transformasi kata sastri dan cantrik. Sastri adalah pembaca sastra (dalam hal ini Kitab Suci), cantrik adalah kawula yang sedang berusaha memperoleh ilmu dari seorang Guru (Begawan, Rsi, Brahmin, Kyai).  

Dalam sejarahnya Sastri sendiri, di era pra-Islam, hanya dikuasai oleh Kasta Brahmana. Seorang Brahmin adalah yang bisa dan boleh membaca kitab suci (Weda, Tripittaka, Bhagavad Gita, Ramayana, dll). Ada pun Kasta Ksatria ke bawah hanya diperkenankan menjadi pendengar, pengikut, murid, siswa. Dari kata Ćiva inilah istilah Mahasiswa diadopsi.

Dalam sebuah bait syair yang diajarkan di Pesantren tingkat pemula (ibtida'), Alala, disebutkan bahwa:

'Elingo ndak kasil ngelmu, anging kelawan enem perkara, bakal tak jelasake kumpule kanthi pertela. Rupane limpad, loba, sabar, ana sangune, lan piwulange guru, lan sing suwe mangsane.'

(Ingatlah, tidak akan memperoleh ilmu seorang santri, kecuali dengan enam perkara, kecerdasan, kedermawanan, sabar, ada bekal, petunjuk guru, waktu yang lama). Konon ini berasal dari maqalah (ungkapan) Sayyidina Ali. 

Bagi siapa pun yang pernah mendalami ilmu agama di Pesantren Tradisional (dominan NU), bukan Pondok Modern, akan menyadari proses trasfer ilmu agama secara berjenjang (hierarkial). Disiplin ilmu diajarkan, dengan metode bandongan maupun sorogan, dilakukan secara bertahap dan bertingkat. Dari tingkat elementary (ibtida'iyah), Madya (Tsanawiyah), Atas (Aliyah) sudah ditentukan sesuai dengan kapasitas masing-masing santri. 

Disiplin ilmu yang diajarkan adalah Fiqh, Nahwu, Sharaf, Hadis, Tafsir, Mustalah Hadis, Tajwid, Balaghah (Sastra), Falaq (Astronomi), Thibb (Pengobatan), dan lain lain. Semuanya diajarkan sesuai kapasitasnya. Santri tahu dan nurut pelajaran pelajaran dimulai dari dasar hingga jenjang paling tinggi di Pesantren dimulai dari kitab yang dikaji sesuai dengan tingkatannya. 

Untuk mengaji fiqih (yurisprudensi) biasanya santri diajarkan kitab-kitab dasar bermadzhab Syafi'i seperti; mabadi`ul fiqhiyyah, fiqh al-wadhih, hingga diperkenankan mengaji Fathul Qarib, Syarah Taqrib, Fath al-Mu'in, dan seterusnya hingga santri dibukakan peluang untuk berfikir plural dengan kajian fiqh empat sampai lima madzhab (Ja'fari, Maliki, Hanafi, Syafi'i, Hanbali), bahkan madzhab fiqh yang tidak terkenal.

Untuk menjadi seorang Sastrawan, secara tidak langsung, harus melalui proses panjang pembelajaran ilmu yang mendukung standard sastra (balaghah), baik dasar dasar ilmu nahwu dan Shorof (gramatika), ilmu 'arudl wa al-qawāfi (matsnawiyāt dan rubā'iyyāt), dll. Hal ini untuk bisa membedakan definisi Kitab Suci sebagai kitab Sastra Tertinggi yang tidak bisa diungguli oleh standard karya sastra mana pun di kalangan Arab klasik hingga modern. Sayyidina Ali sadar ketika mengatakan bahwa "Qur`an adalah Kitab yang tertutup (closed corpus) di antara dua sampul, dia tidak berbicara, tapi manusia lah yang berbicara (menafsirkan, menerjemahkan, menta`wilkan)." 

Tulisan ini hanya berusaha menegaskan secara kritis dengan rasio kategoris (Kantian), logika 'kitab suci adalah fiksi, fiksi menyehatkan imajinasi.' Mungkin bisa untuk Bibel yang telah diterjemahkan oleh Martin Luther dari bahasa Latin ke dalam bahasa Jerman, menjadi Kitab Sastra 'Jerman' yang tidak bisa ditandingi secara sastrawi, saat itu (reformasi gereja). 

Tapi tidak kepada Al-Qur`ān yang meski oleh Nasr Hamid disebut produk budaya (karena persinggungannya dengan komunitas Arab waktu itu), tetap harus dibedakan unsur yang tetap (tsābit, kitab suci) dan unsur yang berubah (mutahawwil, tafsir), meminjam bahasanya Adonis (Ali Ahmad Said).

Secerdas cerdas sastrawan periode awal Islam, tetap tidak pernah mampu menggungguli Al-Qur`an, dengan Imajinasi Kreatif-nya. Bahkan ketika Al-Qur`an diturunkan secara gradual dan periodik, masyarakat Arab bisa membedakan bahasa Kitab Suci dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. ***

HVA, 13 Februari 2019
Aris Comandante

Wed, 13 Feb 2019 @19:49

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved