Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Betapa Besar Hak Orangtua

image

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad

Dari Abu Ja’far as, “Sesungguhnya seorang hamba berbuat baik pada kedua orangtuanya semasa hidup keduanya, kemudian mereka meninggal dunia dan ia tidak membayarkan utang mereka, ia tidak memohonkan ampunan bagi mereka, maka Allah Swt akan menuliskannya sebagai anak yang durhaka.” (Al-Kulayni, al-Kafi 2:163)

Betapa besarnya hak orangtua. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt menyandingkan beberapa hal. Ada yang selalu bersama. Kata Imam Ali al-Ridha as, “Sesungguhnya Allah Swt memerintahkan yang tida disandingkan dengan tiga hal lainnya. Dia memerintahkan shalat dan zakat. Maka barangsiapa shalat tetapi tidak membayar zakat, tidak diterima shalatnya. Dia memerintahkan syukur kepadaNya dengan syukur pada kedua orangtua. Maka barangsiapa tidak berterima kasih pada kedua orangtua, tidak dihitung bersyukur kepada Allah Swt. Dan Allah Ta’ala memerintahkan takwa kepadaNya dengan menyambungkan silaturahmi. Barangsiapa tidak menebarkan silaturahmi, ia tidak memelihara ketakwaan pada Allah Swt.” (‘Uyun Akhbar al-Ridha as, 1:258) 

Hak orangtua karenanya sungguh teramat berat sekali. Karena kemuliaan yang Allah Ta’ala sertakan bersama kehadiran mereka. Merekalah wasiat Allah Ta’ala di tengah kita. Merekalah azimat pusaka, wali nikmat yang menjadi perantara karunia Allah Swt untuk kita. Bacalah hak-hak ayah dan ibu menurut Imam Ali Zainal Abidin as, kita akan memohon ampun kepada Allah Ta’ala karena takkan sanggup menunaikannya.

Ayah saya pernah meminta saya membaca buku tentang hak-hak orangtua. Saya tak sanggup habis membacanya. Rasanya, berat sekali. Misalnya, tak boleh melangkah lebih depan dari orangtua. Tak boleh duduk bila mereka berdiri. Tak boleh berdiri bila mereka duduk. Bila duduk, duduklah lebih rendah. Bila hendak berdiri, berdirilah dengan izin mereka. Berat bukan? Siapa di antara kita yang bisa mengamalkannya?

Al-Qur’an menggunakan dua kata untuk ‘berbuat baik’ pada orangtua: ihsan dan al-birr. Ihsanul Walidayn dan Birrul Walidayn. Menariknya, bahasa Arab punya keunikan tersendiri, sebagaimana juga setiap bahasa yang ada di dunia. Bahasa Indonesia punya banyak kata untuk ‘benda’ yang sama: padi, gabah, beras, dan nasi. Orang Inggris mungkin menyebut semuanya: rice. 

Demikian pula, ada banyak kata dalam bahasa Arab, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama maknanya, padahal Al-Qur’an menggunakan pilihan kata yang berbeda. Ma’ruf, khair, hasanah, shalih, birr semua diterjemahkan sama: kebaikan. Padahal ada perbedaan di antaranya. Ma’ruf adalah kebaikan yang dikenal luas, apa pun kelompok dan agama yang dianut setiap manusia. Hasanah adalah kebaikan yang indikatornya terletak pada penerimanya bukan pelakunya. Dan birr adalah kebaikan yang mendatangkan kebaikan yang lebih luas lagi. Berbuat baik pada orangtua menggunakan ‘hasanah’ dan ‘birr’ itu.

Maka berbuat baik pada orangtua bukan melakukan kebaikan menurut perspektif anak, melainkan apa yang dipandang baik oleh orangtua. Berbuat baik pada orangtua mestilah melahirkan kebaikan yang lebih luas lagi, perkhidmatan dan kebermanfaatan kita di tengah-tengah masyarakat. Setiap amal dan bakti kita, di sana orangtua pun turut serta. Itulah mengapa, orang Irak mengucapkan terima kasih dengan kata: Rahimallahu walidayk. Semoga Allah Ta’ala menyayangi kedua orangtuamu. Seakan-akan ia berkata: “Kau takkan bisa berbuat baik seperti ini tanpa kedua orangtuamu; tanpa kasih sayang dan bimbingan mereka kepadamu.” 

Muncul pertanyaan. Mana yang lebih berat: berbakti pada orangtua di saat mereka hidup, atau setelah mereka berpulang ke rahmatullah? Bagi saya, yang kedua lebih berat. Mengapa? Kita bisa mengetahui perkenan orangtua itu di saat mereka masih hidup. Kita bisa mengetahui indikator kebaikan itu melalui jawaban mereka. Tapi bila mereka sudah tiada, bagaimana? Bagaimana mengetahui mereka ridha dengan akhlak kita setelah mereka tiada? 

Alkisah, Imam Ali Zainal Abidin as, diriwayatkan tidak pernah terlihat makan dalam satu hamparan bersama dengan ibundanya. Mungkin demikian yang diperhatikan para sahabat. Seorang di antara mereka bertanya: “Imam, aku lihat engkau tidak duduk satu hamparan dengan ibumu saat menyantap hidanganmu?” Imam as menjawab: “Karena aku tidak ingin memasukkan sesuatu ke dalam mulutku yang ibuku menginginkannya.” 

Imam as tidak ingin ia menikmati sesuatu, pada saat yang sama ibundanya ada hasrat untuk merasakannya. Sungguh indah teladan orang suci, berat benar menunaikannya. 

Buku kecil dan tulisan ini dibuat sebagai hadiah sederhana untuk almarhum ayahanda kami: H. Abbas Hadisunyoto bin Sarno Ahmad Chaerodji. Beliau berpulang ke haribaan Allah Ta’ala tiga tahun yang lalu. Lebih dari seribu hari yang lalu. Tetapi, berdasarkan cerita-cerita tentang perjalanan ke kampung keabadian itu, hitungan hari kita dengan hari almarhum tidak lagi sama. “Malaikat-malaikat dan ruh (malaikat Jibril) naik kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij [70]:4) 

Sehari (di alam sana) sama dengan lima puluh ribu tahun (di dunia)? Maka, katanya, yang dirasakan oleh almarhum adalah perasaan kehilangan: cepat benar keluargaku melupakan aku. Karena tak terkirim lagi hantaran doa, tak terucap lagi nama mereka usai shalat kita, tak ada lagi kiriman pahala perbuatan baik untuk mereka. 

Berbuat baik pada orangtua, justru dimulai pada saat mereka meninggal dunia. Setiap amalan kita, setiap kebaikan kita mengalirkan pahala untuk mereka. Perkhidmatan kita pada orangtua kita dinilai dari sebanyak apa kita berbuat baik untuk sesama kita. Semakin kita punya masalah dengan sesama, semakin pula almarhumin menderita karenanya. Semakin kita berbuat baik, semakin pula almarhumin dibahagiakan karenanya.

“Membaca Al-Qur’an dari mushaf, mendatangkan kenikmatan bagi pandangan, dan mendatangkan ampunan bagi kedua orangtua, walau mereka orang kafir sekalipun.” (Imam Ja’far al-Shadiq as, al-Kafi, 2:613) Sesering apakah kita membaca Al-Qur’an? Sebanyak atau sesedikit itu pulalah bakti kita pada kedua orangtua kita.

Bapak, selamat jalan. Maafkan kami lambat berkhidmat, sedikit sekali mendoakan. Maafkan bila kami tak sering mengunjungi pesarean. Maafkan bila hanya menghantar doa dalam kesendirian. Kami tahu, Bapak mengucap nama kami setiap usai shalat Bapak. Mendoakan yang terbaik bagi kami. Bahkan di alam keabadian sana. Ya Allah, anugerahkan pada kami kemampuan untuk menyebut nama kedua orangtua kami setiap usai shalat kami.

Bapak, ibu sehat wal ‘afiyah, alhamdulillah. Kata Ibu, tidak terasa sudah empat tahun tanpa Bapak. Semangat Ibu menyala bila sudah membicarakan Bapak. Katanya Bapak dulu begini dan begitu. Ibu ingat persis saat-saat bersama Bapak. Bidadarimu, Bapak, tak pernah berhenti mengingatmu. Tak pernah lekang mencintaimu. Doakan Ibu sehat. Dan hari-hari Ibu diisi dengan kebahagiaan keluarga, ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Mohon Bapak tidak risau atas kami. Kami memelihara persaudaraan, menjaga erat kekerabatan. Berusaha untuk mengamalkan apa yang Bapak titipkan di tengah kami: Bersatulah dan saling membantu. Bapak adalah orang yang sangat memperhatikan keluarga. Hingga akhir usia keluarga selalu jadi perhatian utama. 

Selamat jalan Bapak. Dalam waktu yang tak lama, kita akan bersama.

#alwayssayshalawat🌹
#14Feb2015
#14Feb2019

SUMBER Facebook: Enovita Miftah

Fri, 15 Feb 2019 @13:52

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved