Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Dialog Teologis dalam Iklim Saling Menghargai: Islam dan Teologi Kristen [by Munim Sirry]

image

Minggu ini kita diskusikan dua teks berbeda. Pertama, teks yang merekam dialog antara khalifah Al-Mahdi dan Patriakh Timothy dari Gereja Timur, yang kemungkinan terjadi pada akhir abad ke-8. Naskah ini ditulis oleh Timothy sendiri. Kedua, tulisan seorang Muslim rasionalis abad ke-9, bernama Abu Isa al-Warraq, yang mengkritik tiga sekse Kristen: Melkites, Jacobites dan Nestorians. Itu tiga kelompok Kristen yang dikenal di jazirah Arabia saat itu.

Sementara teks pertama berupa jawaban atau, lebih tepatnya, pembelaan (apology) Kristen atas keberatan kaum Muslim, teks kedua lebih merefleksikan kritik-kritik rasional Muslim terhadap teologi Kristen, terutama soal Trinitas dan Inkarnasi. Dua teks itu kita diskusikan di dua pertemuan perbeda. Karena itu, saya akan fokus pada salah satunya saja, yaitu, teks pertama. Jika ada waktu, saya akan tuliskan diskusi di kelas terkait teks kedua juga. Tapi tidak janji karena minggu ini sangat sibuk. 

Naskah dialog Mahdi-Timothy ditulis dalam bahasa Suryani, dan sulit dipastikan apakah betul-betul merekam isi dialog antara kedua tokoh politik dan agama itu. Sangat mungkin dialog itu memang terjadi, hanya diragukan apakah naskah yang ditulis Timothy mencerminkan isi dialog itu sendiri. 

Jadi, lebih aman kita melihat naskah dialog tersebut sebagai karya literer, bukan rekaman dialog. Dalam naskah itu, khalifah Mahdi diposisikan sebagai penanya berbagai hal yg dianggapnya problematik. Misalnya, bagaimana mungkin Maryam melahirkan Yesus tanpa merobek selaput keperawanannya? Bagaimana mungkin Tuhan dilahirkan? Jika Allah itu Bapaknya Yesus, bagaimana mungkin Ia juga Tuhannya?  

Banyak pertanyaan lain diajukan Mahdi, termasuk soal Logos (kalimah), Ruh Kudus dan problem Trinitas. Mahdi juga bertanya, apakah Yesus beribadah dan menghadap ke mana? Apakah dia disunat? Dua pertanyaan terakhir dimaksudkan untuk mengesankan bahwa orang-orang Kristen tidak mengikuti ajaran Yesus. Sebab, Yesus salat menghadap ke Jerusalem, sementara Kristen menghadap ke timur; Yesus disunat, sementara umat Kristiani tidak. 

Prediksi soal berita kedatangan Nabi Muhammad dalam Bible mendapat porsi besar dalam naskah Timothy. Termasuk ayat parakletos yang kerap dipahami sebagai referensi kepada Muhammad. Semua pertanyaan Mahdi itu masih merefleksikan keberatan kaum Muslim hingga sekarang. Ini juga berarti, pemahaman kaum Muslim tidak banyak berkembang dari sejak abad pertengahan silam. 

Tentu saja, Timothy “berhasil” menjawab pertanyaan2 Mahdi dengan meyakinkan. Di kelas kita diskusikan metode yang dikembangkan Timothy dalam merespons keberatan Mahdi. Pertama, kita sebut “scriptural reasoning”. Yakni, menjawab pertanyaan dgn merujuk pada ayat-ayat dalam Bible untuk membuktikan bhw keimanan Kristen sesuai dgn kitab suci. Tapi, bukan sekadar mengutip ayat, melainkan menunjukkan bagaimana ayat itu dipahami untuk mendukung kebenaran ajaran Kristen. 

Misalnya, soal keperawanan Maryam. Dikutip ayat tentang kelahiran Hawa dari tubuh Adam, dan ditunjukkan bahwa Hawa lahir tanpa merusak rusuk Adam. 

Metode kedua bersifat dialektis atau analogis-rasional. Misalnya, analogi dgn buah-buahan yg muncul tanpa merusak pepohonan. Timothy menjelaskan, yang dilahirkan itu aspek kemanusiaan Yesus, bukan ketuhannya. Soal kasus penyaliban: yg mati itu watak kemanusiaan Yesus, bukan ketuhannya. Itulah maksudnya, Yesus itu sepenuhnya Tuhan dan sepenuhnya manusia. 

Terkait Allah sebagai Bapak dan Tuhan Yesus, Timothy menganalogikan dgn surat-surat yang ditulis oleh khalifah Mahdi sendiri. “Surat yg tuan buat itu berasal dari pikiran tuan. Dan tuan boleh disebut pemilik atau pun bapaknya surat itu,” kata Timothy. 

Tampak Timothy mengembangkan argument-argumen rasional untuk menjawab Mahdi. Terkait Tinitas, misalnya, dia membandingkan dengan matahari. Cahaya dan panas itu satu dgn matahari. Atau, bau harum dan rasa manis itu satu dengan apel. 

Metode ketiga ialah dialogis. Jika anda berkata begini, maka saya respons begitu. Dengan metode dialogis ini Timothy dapat menjelaskan poin-poin yg menjadi keberatan kaum Muslim. Misalnya, kenapa orang Islam meyakini Bible telah memprediksi kenabian Muhammad? Tidak cukup dikatakan, al-Qur’an menyebutnya begitu. Perlu bukti. Maka disebutlah kata “manahhamana” atau “parakletos” itu. 

Timothy mengajukan banyak alasan untuk menunjukkan parakletos itu bukan Muhammad, tapi Ruh Kudus. Dialog berlanjut ke soal tahrif. “Dari mana Raja tahu bahwa kitab suci kami telah berubah?” tanya Timothy. Pandangan “Bible tdk otentik” itu tdk masuk akal karena orang-orang Yahudi yang menolak keras keimanan kami pun mempunyai Bible yang sama. 

Dialog tentang tema-tema teologi yang sulit itu mengalir sebegitu rupa. Kedua tokoh tersebut saling menghargai. Sementara Mahdi memanggil Timothy dgn sebutan Katolikus, Timothy memberi gelar pujian tinggi kepada Mahdi, seperti Raja yang paling dicintai Tuhan atau Raja diraja, dan seterusnya. 

Siapapun yang baca naskah itu tidak akan sulit membayangkan Mahdi dan Timothy berdiskusi serius sambil ngopi bareng. Sesekali mereka tertawa lebar. Pasti juga saling lempar banyolan. Di akhir pertemuan dua hari itu, Mahdi bertanya: “Menurut kamu, Muhammad itu Nabi bukan sih?” 

Wah Raja nanya serius banget, guman Timothy. Gimana kalau saya jawab begini: “Muhammad berada di jalan para Nabi, di jalur orang-orang yang dicintai Tuhan. Semua Nabi mengajarkan ketauhidan, demikian juga Muhammad.” 

Mendengar itu, pasti Mahdi tersenyum senang. Dan, Timothy pun tak akan disalahkan oleh umatnya. Prinsipnya, semua jadi gembira, termasuk anda yang baca status ini. Karena, untuk dan demi Anda cerita dialog Mahdi dan Timothy ini saya tulis. Monggo lanjutkan ngopi bareng. Sampai berjumpa minggu depan.*** 


Sumber: Facebook Munim Sirry

 

Mon, 25 Feb 2019 @17:24

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved