Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kristen Tidak Setia Pada Ajaran Yesus, Seri Kelas Islam dan Teologi Kristen [by Munim Sirry]

image

 

Minggu ini kita baca teks Kristen dan Muslim di dua pertemuan berbeda. Yang pertama, risalah (surat) al-Kindi menjawab ajakan seorang ulama Muslim bernama Abdullah bin Isma’il al-Hashimi. Kemungkinan, dua penulis Kristen dan Muslim ini bukan figur historis, tapi personifikasi dari Kristen dan Islam.

Dalam risalah-nya al-Kindi menolak kebenaran Islam dengan memfokuskan pada dua hal: kenabian Muhammad dan keabsurdan ajaran Islam. Soal kenabian Muhammad, dia mengajukan dua argumen. Pertama, Muhammad tidak didukung oleh mu’jizat, berbeda dgn nabi-nabi sebelumnya. Bahkan, al-Qur’an sendiri tidak menyebut mu’jizat apa pun yang melekat pada Muhammad.

Kedua, dia menolak bahwa kemenangan dalam peperangan menandakan kenabian Muhammad atau kebenaran Islam. Setelah mengutip Kitab “Ulangan” 9:4-5, dia membandingkan apa yang dilakukan Muhammad dan Musa. Nama yg terakhir, kata Kindi, melakukan penaklukan atas perintah Tuhan.

Sementara terkait ajaran Islam, al-Kindi membeberkan dgn rinci betapa rukun Islam dan praktik keagamaan lainnya sulit dijustifikasi. Wudu itu menekankan hal yang sangat fisik, sementara haji tak ubahnya menyembah kubus. Kaum Muslim bersunat padahal Nabinya sendiri tidak.

Yang lebih mengerikan dari semua itu, tulis al-Kindi, ialah ketentuan bahwa seorang wanita yang ditalak tidak boleh kembali ke suaminya kecuali ia kawin dulu dengan orang lain. Mereka harus berhubungan badan sebagai suami-istri, baru boleh kembali ke suami pertama.

Tapi yang ingin saya ceritakan lebih detil ialah diskusi tentang teks kedua, yaitu kritik terhadap asal usul Kristen ditulis oleh Abdul Jabbar (w.1025). Kritik Jabbar ini ditulis dalam karya besarnya, Tatsbit dala’il al-nubuwwah (konfirmasi dalil-dalil kenabian).

Dua catatan kecil tentang karya Jabbar ini. Pertama, inilah karya paling rinci mengkritik Kristen. Kedua, Jabbar mengombinasikan kritiknya pada Kristen dengan genre dala’il al-nubuwwah. Karena itu, karya Jabbar ini sangat istimewa, dan mulai mendapat perhatian dalam kesarjanaan Barat.

Sebelumnya, kritik Kristen dan dala’il al-nubuwwah itu adalah dua genre berbeda. Sebelum Jabbar, banyak ulama Muslim, terutama dari kalangan Mu’tazilah, menulis kritik terhadap Kristen sehingga menjadi genre sendiri, al-Radd ‘ala al-nashara (penolakan terhadap Kristen). Juga, kritik Kristen mendorong banyak penulis Muslim menulis tentang mukjizat Nabi Muhammad, sehingga menjadi genre dala’il al-nubuwwah.

Di kalangan mu’tazilah, ketertarikan untuk menolak ajaran Kristen sangat kuat karena doktrin mereka yg menekankan tauhid. Jabbar melanjutkan tradisi itu, tapi juga bermaksud menjawab kritik-kritik Kristen tentang kenabian Muhammad.

Di situlah dilema bermula. Mu’tazilah menolak cerita aneh-aneh yang tak masuk akal, termasuk mu’jizat. Kebenaran Islam harus didasarkan pada logika universal. Jadi, apa yang dilakukan Jabbar? Dia fokus pada pengetahuan Nabi tentang ajaran Kristen yang, menurutnya, akurat padahal Muhammad itu ummi dan tak diajari oleh umat Kristen.

Karena itu, Jabbar berusaha menunjukkan apa yang dikatakan Qur’an itu benar adanya, tak ada kesalahpahaman. Misalnya, ketika Qur’an mengatakan umat Kristiani mengimani tiga Tuhan. Trinitas itu, kata Jabbar, memang konsep tiga Tuhan sebab masing-masing berdiri sendiri. Tuhan Bapa itu yg beranak, Tuhan Anak itu tdk beranak dan bukan Bapa, dan Tuhan Ruh Kudus itu bukan Bapa atau Anak.

Bahwa ketiga anggota Trinitas memiliki aspek keilahian tak berarti mereka adalah satu. Dia memberi contoh: Abdulah yang orang Arab dan Khalid yang orang Persia. Keduanya memiliki kesamaan sebagai “manusia”, tetapi mereka itu dua orang, bukan satu.

Poin utama Jabbar adalah konsep Trinitas dan Kreda Nicea merupakan inovasi belakangan yang bertentangan dgn ajaran Yesus dan nabi-nabi sebelumnya. Dia mendiskusikan pandangan Kristologi tiga kelompok Kristen: Melkites, Jacobites (Monophysites) dan Nestorians (Gereja Assyrian).

Seperti diketahui, tiga kelompok ini menerima Nicene Creed, tapi memahaminya berbeda. Melkites, misalnya, mengimani Kristus sepenuhnya Tuhan dan sepenuhnya manusia, dan karenanya kelahiran dan kematian terjadi pada dirinya secara keseluruhan (Tuhan dan manusia). Jacobites menekankan aspek keilahian Yesus, dan mereka mengklaim Maryam mengandung dan melahirkan Tuhan. Implikasinya, Tuhan juga mati. 

Nestorians mempertegas dua watak Yesus: Tuhan dan manusia. Mereka mengklaim, yang lahir dan mati itu adalah watak kemanusian, bukan ketuhanan Yesus. Sepintas lalu, pandangan Nestorians ini tidak terlalu bermasalah bagi paham monoteisme.

Itu tidak benar, kata Jabbar, sambil mendedahnya secara rasional. Jika benar yang ada dalam kandungan Maryam itu kemanusiaan Yesus, apakah Yesus dalam kandangan itu bisa dikatakan Kristus? Sebab, menurut anda, kemanusiaan Kristus itu bukan Kristus, karena Kristus juga watak Ilahi. Hanya kombinasi dua watak (Tuhan dan manusia) yang bisa dikatakan Kristus.

Ditilik dari argumen ini, pandangan Nestorians jadi runtuh. Sebab, yang dikandung oleh Maryam adalah Kristus, dan karenanya Tuhan dan manusia dilahirkan. Keduanya menderita disalib dan mati.

Demikianlah Jabbar menggunakan dalil-dalil rasional untuk menolak dokrtin Kristen. Perhatian utamanya ialah untuk menunjukkan bahwa umat Kristiani tidak taat atau setia pada ajaran Yesus. Dia mengutip banyak ayat dari Bible utk membuktikan bahwa Yesus sendiri mengimani Tuhan yg satu, dan umat Kristiani salah mengartikan bahasa metaforis Bible terkait kata “bapak” dan “anak.”

Kritik-kritik Jabbar ini masih diulang-ulang hingga kini, termasuk di kalangan kaum Sunni yang menolak paham mu’tazilah. Saya tdk yakin, mereka membaca karya Jabbar dan memahami kesubtilannya. Alih-alih paham konteks zaman pertengahan di mana Jabbar hidup, mereka cenderung membawa semangat konflik sektarian ke zaman kita.

Pertemuan minggu depan akan mendiskusikan karya Romo Katolik terkemuka pada abad ke-13, St. Thomas Aquinas, yang menggunakan argumen rasional untuk menjelaskan keimanan Kristen. Masih dalam semangat zaman pertengahan, Aquinas sengaja menulis untuk menjawab kritik-kritik dari ulama Muslim, seperti Jabbar. Mohon sabar menunggu ya. Sampai jumpa minggu depan, insya Allah. ***

SUMBER: Facebook Munim Sirry

 

Thu, 28 Feb 2019 @14:26

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved