Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Membaca Perempuan dan Islam dengan Kacamata Kritis [by Aris Comandante]

image

Wacana tentang 'perempuan' adalah wacana yang tidak pernah habis digali, dibaca, diamati, dan diteliti. Ia hadir dalam beragam perspektik (subjek) dalam milieu yang beragam dari masa sejak diwacanakan dalam kitab Suci, interpretasi (tafsir) klasik, modern, hingga posmodern (kontemporer).

Pada tataran ontologi teks Al-Qur'ān, pemakaian kata (kalimat) rijāl yang selalu disandingkan dengan kata nisā` memiliki makna, peran dan cakupan yang berbeda dari kata dzakar dan untsā. Secara etimologis, kata nisā dan untsā mungkin sama ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, perempuan. Namun bahasa Al-Qur'an membedakan peran biologis (nature) kata untsā dengan peran ideologis, feminis (nurture) kata nisā. Di sini lah letak keunikan bahasa Al-Qur'ān yang tampak paradoks berkenaan dengan pemilihan kata 'perempuan.'

Rentang panjang pembacaan dari Interpretasi atas kitab suci (,tafsir) periode Islam awal hingga hari ini dipilah, dikritisi, dari sisi teks, konteks dan kontekstualisasi untuk kemudian dibangun ulang (rekonstruksi) tesis, sintesis bahkan antitesisnya sesuai dengan konteks ruang dan waktu yang berbeda, terus dilakukan oleh para pemikir muslim, di kalangan mufasir, feminis muslim(ah), dan aktifis Jender. Historisitas perempuan pada tataran ontologis tidak lantas dibangun normatifitasnya dengan acuan historis tersebut. Mencari legitimasi tekstual untuk dunia perempuan yang terus bergerak, dinamis, grogresif harus dilihat dari sisi teks yang universal, bukan pada teks yang berlaku parsial.

Ketika kita mendapati fakta atas pembacaan terhadap 'Perempuan' yang seperti kalajengking (Sayyidina Ali), lemah akal (Abu Hurairah), Keledai, Jalang (bitch), Tukang Sihir (witch), seperti atau tercipta dari tulang rusuk, dan lain lain, sebenarnya kita sedang dihadapkan pada dua sisi perempuan yang paradoksal dan polar. Fakta dimana perempuan menjadi second sex yang tersubordinasi, objek hegemoni patriarki harus dibaca pada skala yang lebih luas.

Ada perempuan-perempuan zaman yang ditampilkan dalam sejarah untuk menjadi figur anomali (tampil di permukaan sebagai yang berbeda) dari rata-rata perempuan di era era tertentu, dengan kecerdasan (IQ, EQ, SQ, QQ) di atas rata-rata kaumnya.

Nama-nama yang bisa disebut memiliki pembacaan yang masuk dalam kategori neo-modernis hingga kontemporer (post-modern) dalam wacana perempuan adalah Fatima Mernissi dan Riffat Hasan (Setara di hadapan Tuhan), Qasim Amin (Tahrīr al-Mar`ah), Asghar Ali Engineer (Pembebasan Perempuan), Nawal El-Sadawi (Perempuan di Titik Nol), Nasr Hamid Abu Zaid (Dawā`ir al-Khauf; Qirā`ah fi Khițab al-Mar`ah), Khalil Abdul Karim (Mujtama'u Yatsrib), Ali Syari'ati (Fatimah is Fatimah), Murtadha Mutahhari (Perempuan dan Hak Haknya dalam Pandangan Hukum Islam), Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah (Dunya al-Mar`ah), Sachiko Murata (The Tao of Islam), dan masih banyak lagi yang harus disebutkan dari kalangan Sunni, Syi'ah, Moderat, hingga Liberal.

Di Indonesia sendiri telah banyak pemikir Muslim dari kalangan NU, Muhammadiyah, IJABI, dll yang memberikan perhatian khusus, atas wacana perempuan dengan tulisan yang kritis, elaboratif, dan dekonstruktif. Kita bisa menyebut nama-nama seperti: Kyai Husein Muhammad (pendiri Institut Studi Islam Fahmina, penggagas Kongres Ulama Perempuan Indonesia, mantan Komisioner Komnas Perempuan RI) yang telah menulis banyak karya tentang wacana, isu perempuan. Nasaruddin Umar (Argumen Kesetaraan Gender), Musdah Mulia, Syafiq Hasyim, Guntur Romli, semua dari kalangan NU. Kang Jalal (KH Jalaluddin Rakhmat) sebagai Cendekiawan Muslim Ketua Dewan Syuro IJABI juga telah banyak menulis tentang 'Perempuan dalam Perspektif Madzhab Ahlul Bait' di beberapa bukunya.

Dan masih banyak lagi pemikir Muslim dan Non-Muslim yang memiliki concern pada wacana 'Perempuan' dengan perspektif pembacaan yang berbeda dan beragam untuk sekedar memberikan pemahaman yang berimbang, tentang demitologisasi 'perempuan' dalam teks-teks yang 'misoginis', menempatkan perempuan dalam relasi setara, resiprokal, saling dengan laki-laki, mendekonstruksi logos dalam relasi intersubjektif laki-laki dan perempuan.

Tulisan ini lebih banyak menyebut nama-nama tokoh pemikir muslim feminis yang telah bersungguh sungguh menghadirkan apa adanya wacana 'perempuan' dengan sajian karya ilmiah, novel, essai, catatan kritis. Tidak lantas tugas itu selesai. Perempuan-perempuan zaman ke depan memiliki tugas yang lebih untuk sekedar menulis tentang dirinya. Tokoh-tokoh tersebut telah lebih dahulu menulis setelah melakukan pembacaan mendalam atas tema-tema 'perempuan' di sekitar teks dan konteks. Tugas selanjutnya adalah pada masing-masing perempuan untuk melanjutkannya.***

Batan, 2 Maret 2019

Aris Comandante

Mon, 22 Apr 2019 @09:51

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved