Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Benarkah Ketaatan kepada Orangtua adalah Keharusan?

image

Soal: Apakah kita bisa mengatakan bahwa ketaatan pada orangtua (adalah) suatu keharusan?

Jawab: Apabila kita mengkaji Al-Quran al-Karim, kita mendapati bahwa Al-Quran tidak berbicara tentang ketaatan anak kepada kedua orangtuanya. Dengan kata lain, tidak ada ayat yang jelas-jelas mengatakan bahwa perintah orangtua menunjukkan kewajiban atau nilai yang mengikat pada anak dan seharusnya ditaati sebagaimana perintah Rasul, para tokoh yang berwenang atau Allah yang seharusnya ditaati. Agama Islam tidak menjadikan perintah orangtua sebagai kewajiban hukum yang mengikat dan mesti dipenuhi oleh anak-anak. Ayat Al-Quran memerintahkan berbuat baik kepada kedua orangtua.

Sebenarnya, kata "baik" sering diulang-ulang dalarn Al-Quran al-Karim kepada kedua orangtua dan Allah Swt benar-benar menjelaskan makna kalimat tersebut dengan cara mengikutsertakannya dengan sebuah contoh dalam firman-Nya: dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika adalah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaan maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan yang buruk (ah) dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (QS al-Isra: 23-24). 

Kedua ayat tersebut mengatakan kepada kita bahwa Allah yang Maha Tinggi hendak mengatakan: Berlaku baiklah kepada kedua orangtuamu, jangan menyakiti mereka, jangan memperlakukan mereka dengan buruk, terbukalah pada mereka, merendahlah pada mereka, sayangilah mereka, selalu ingat bagaimana mereka membesarkanmu sebagai anak dan hadapilah mereka seperti itu juga. 

Jadi, Al-Quran tidak menyebutkan tentang ketaatan. Namun, Al-Qur an menjelaskan aspek-aspek ketaatan yang negatif dalam firman-Nya: Tetapi apabila mereka menyuruh mempersekutukan-Ku dengan hal-hal yang engkau tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah engkau mentaati mereka. Namun, gaulilah mereka dengan adil (dan kasih sayang), dan ikutilah jalan yang mengikuti-Ku (dengan cinta) (QS Luqman: 15).

Seperti yang kita ketahui, ayat ini melarang berbuat baik pada mereka apabila mereka mulai menyuruh perbuatan yang menyimpang dari jalan yang benar dan menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. 

Sebenarnya, kita mengetahui bahwa menyembah kepada selain Allah dalam konteks ini dimaksudkan untuk menjadi contoh dari berbagai bentuk penyimpangan yang orangtua bisa perintahkan. Dan hal tersebut meliputi paksaan pada anak untuk melakukan perbuatan syirik, amal yang buruk, melakukan perbuafan yang bertentangan dengan keselamatannya atau melarangnya melakukan kegiatan-kegiatan yang memperkuat spiritualitas dan ketaatan, misalnya ke masjid, membantu pertumbuhan keagamaan, dan intelektualnya misalnya menghadiri ceramah keagamaan dan lain-lain. 

Hal ini juga meliputi persoalan jihad (berjuang di jalan Allah) di mana ia menjadi bagian yang efektif; dalam kasus seperti ini kita percaya bahwa orang tua tidak memiliki hak untuk melarang anak-anaknya melakukan jihad walaupun jihad merupakan tugas kolektif, bukannya tugas yang setiap orang mesti penuhi.

Dengan demikian, ayat ini dengan jelas mengindikasikan bahwa engkau tidak akan melakukan kebaikan pada orangtuamu dengan cara tidak mentaati Allah Swt. Ayat ini juga tidak mengatakan bahwa engkau seharusnya mentaati mereka selama mereka tidak menyuruhmu melakukan kesalahan. Ayat ini hanya mengatakan bahwa kamu seharusnya berbuat baik kepada orangtua.

Karena itu, apabila orang tua menyuruh anak-anaknya untuk melakukan hal yang bertentangan dengan kewajiban besar misalnya menikah atau menceraikan ini dan itu, berspesialisasi dalam sebuah bidang studi yang mereka tidak sukai, atau melakukan perdagangan khusus yang tidak bisa dilakukan dengan baik dan lainnya, maka mereka (anak-anak) sebaiknya menolak mematuhi mereka walaupun akan melukai hati mereka. ***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)

Tue, 5 Mar 2019 @12:16

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved