Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Mempraktekan Riba dan Pencabutan Hak Waris

image

Soal: Apakah saya boleh mempraktekan riba dalam berurusan dengan ayahku?

Jawab: Secara prinsip tidak boleh karena kita memiliki fakta dan riwayat yang lemah yang menunjukkan kebolehan dan karena ada pendapat bulat yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak otoritatif. ***


 

Soal: Apabila ayah saya mencabut hak waris saya karena saya tidak mentaatinya dalam permasalahan tertentu, apakah tindakannya sah?

Jawab: Pencabutan hak waris dapat dinilai dari dua perspektif. Tatkala selama hidupnya dan selama ia menikmati kapasitas legal dan kesehatan yang baik, dia (sebagai bapak Anda) mentransfer harta miliknya secara pasti kepada salah satu putranya, pada sebuah lembaga amal dan lain-lain, maka tatkala ia meninggal, ia tidak meninggalkan warisan yang Anda klaim sebagai milik Anda atau yang Anda klaim sudah dicabut.

Di sisi lain, apabila dia memberi sumbangan atau alokasi semacam itu tatkala penyakit yang serius menimpanya yang mungkin menyebabkan kematian, maka terdapat dua persoalan yang berlaku di sini. Yang pertama mengatakan bahwa dia hanya mendapat sepertiga dengan cara dijual atau hadiah persis seperti yang diwasiatkan. Namun, pendapat yang lainnya yang kita ambil mengatakan bahwa pemberian dari seorang yang meninggal sama dengan pemberian pada saat ia sehat dan fidak bergantung pada persetujuan orang lain. Dan di sini mencabut hak waris seseorang dinilai absah karena manusia adalah tuan yang absolut bagi harta miliknya. 

Oleh karena itu, selama masa hidupnya seseorang memiliki kekuasaan yang lengkap atas harta kekayaan dan dapat memberikannya sesuai dengan keinginannya dengan cara mentransfernya. Namun, seandainya pemberian ini dipenuhinya dengan cara mengalokasikan wasiatnya pada satu atau beberapa anggota keluarganya dan mengabaikan yang lain; maka wasiat itu tidak akan diaplikasikan kecuali sepertiganya saja. Mengapa? Karena jika seseorang diwarisi lebih dari sepertiga, maka wasiat tersebut tidak akan sah kecuali kalau para ahli waris menyatakan izinnya dan jika sebagian dari mereka menolak, maka mereka mesti diberi bagiannya dari wasiat tersebut.*** 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)


Fri, 22 Mar 2019 @09:52

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved