Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Belajar Memahami Sejarah dari Murtadha Muthahhari

image

Murtadha Muthahhari lahir pada 1338 H./1919 M. di Firman, Masyhad, Iran. Ia belajar agama Islam dari ayahnya Muhammad Husein Muthahhari. Kemudian menempuh pendidikan hawzah (sekolah agama) dan belajar kepada Allamah Thabathabai dan Imam Khumaini. Tidak hanya paham ilmu agama, Muthahhari juga menguasai filsafat Barat sehingga dalam sejumlah karya tulisnya tampak sikap kritis terhadap pemikiran Barat. Muthahhari juga aktif dalam gerakan politik dan bergabung dengan revolusi di bawah komando Imam Khumaini. Muthahhari wafat pada 3 Mei 1979 ditembak oleh kelompok Hizbe Furqan. 

Selain menjadi penceramah agama dan pengajar di universitas, Muthahhari rajin menulis buku. Berikut ini buku-buku karya Muthahhari, baik yang ditulis sendiri maupun transkrip ceramah, yaitu Ta’liqât ‘ala Ushûl al-Falsafah wa al-Madzhab al-Waqî’iy, Qishâsh al-Mukhlisîn, Al-Insân wa al-Mashir, Mas’alat al-Hijâb, Al-‘Adl al-Ilâhi, Ad-Dawâfi’ Nahw al-Mâdiyah, Al-Jadzb wa al-Daf’ fî Syakhsiyyat al-Imâm ‘Alî, Al-Adamât al-Mutaqâbilat bayn al-Islâm wa Iran, Nizhâm Huqûq al-Mar’at fî al-Islâm, Fî Rihâb Nahj al-Balaghah, Al-Imdâdat al-Ghaibiyyah fî Hayât al-Insân, ‘Isyrûn Hadits, Nahdhat al-Imâm al-Mahdi, Khatm al-Nubuwwah, Al-Nabîy al-Ummiy, Anmath al-Walâ’ wa Anwâ’ al-Wilâyat, Al-Akhlâq al-Jinsiyyat min Wijhah al-Nazhar al-Islâm, Tashhîh wa Kitâbah Hawasy Kitâb al-Tashil li Bahmatiyar bin Marzaban, Kulliyât al-‘Ulûm al-Islamiyah, dan lainnya. 

Berdasarkan telaah atas karya tulisnya, Muthahhari dalam mengkaji setiap persoalan keilmuan maupun fenomena sosial tidak lepas dari tinjauan Al-Quran. Begitu juga dalam mencetuskan pemikiran sejarah disandarkan pada Al-Quran dengan membandingkan analisa dari penulis Barat yang beraliran idealis maupun materialis. Yang menarik dari Muthahhari bahwa menulis kritik secara khusus untuk filsafat materialisme sebagai bentuk perlawanan pada peradaban Barat. 

Dalam buku Masyarakat dan Sejarah[1] dan Mengenal Epistemologi,[2] Muthahhari menyebut sejarah bagian dari pengetahuan dan menjadi sumber dari ilmu pengetahuan. Muthahhari membagi sejarah pada tiga. Pertama, sejarah transmisif adalah sejarah yang dilaporkan, atau informasi berkaitan dengan masa lalu yang dikisahkan dalam Al-Quran, hadis atau riwayat, dan tradisi masyarakat. Sejarah transmisif ini bisa juga dikatakan materi sejarah. Kedua, sejarah ilmiah. Sejarah merupakan ilmu khusus dan memiliki aturan, karakter, dan mengandung makna. Para peneliti dan sejarawan melakukan kajian sejarah (secara ilmiah) ini dalam laboratorium mental (intelektual). Ketiga, sejarah filsafati. Sejarah berkaitan dengan perkembangan, tahapan, hukum yang mengatur jalannya sejarah, gerak, perubahan, faktor penggerak sejarah, dan sebab akibat. Menurut Muthahhari bahwa sejarah bergerak maju ke depan menuju sempurna (progresif linier). Dari sisi waktu hampir seluruh  manusia usia bertambah, dunia juga memiliki usia yang terus bertambah dan terjadi perubahan-perubahan yang dilakukan manusia. Kemudian dari setiap masa selalu ada penyempurnaan terhadap pengetahuan, kebudayaan, dan karya manusia. Misalnya, setiap punya keinginan agar hidupnya lebih baik di masa depan. Bahkan, ingin anak keturunannya lebih baik dari dirinya sendiri sehingga diberi pendidikan dan diharapkan menjadi manusia yang terbaik. Banyak produk teknologi informasi yang setiap tahun berubah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Kemudian muncul lagi dengan fasilitas yang lebih lengkap dari sebelumnya.  Dalam kendaraan pun demikian: terjadi perkembangan. Dari binatang, gerobak, sepeda, motor, mobil, dan pesawat terbang. Senantiasa ada penyempurnaan dalam setiap karya manusia. Inilah bukti dari upaya-upaya manusia menuju kesempuranaan dan termasuk dalam perkembangan sejarah.[3] Namun, masa depan yang sempurna terwujud ketika hadirnya Imam Al-Mahdi sebagai tanda berakhirnya masa kegaiban dan tibanya hari akhir (kiamat).[4] 

Selain membahas gerak dan tujuan akhir sejarah, Muthahhari menyebutkan ada faktor atau kekuatan pendorong (penggerak) sejarah (driving forces historis).

Dengan merujuk pada berbagai karya ilmuan sebelumnya, baik Barat maupun Islam, Muthahhari menyederhanakan di antaranya adalah pertama faktor rasial. Ras-ras tertentu mampu membentuk budaya dan peradaban. Gagasan ini berasal dari filsafat Aristoteles dan Count Gobineu. Kedua, geografis. Lingkungan alam tertentu melahirkan budaya, pendidikan, dan industry. Daerah yang beriklim sedang melahirkan temperamen sedang dan otak yang tangguh. Daerah pantai dan pedalaman mempengaruhi karakter dan budaya manusia yang berbeda. Filsuf yang mendukung teori geografis ini adalah Ibnu Sina dan Montesquieu.  Ketiga, orang jenius dan pahlwan. Kebudayaan dan perubahan terjadi karena adanya orang jenius dan para pahlawan. Mereka ini jumlahnya minoritas, tetapi kreatif dan mampu mengubah sejarah. Filsuf yang mendukung teori ini adalah Thomas Carlyle. Keempat, ekonomi adalah kekuatan pendorong dalam sejarah. Struktur masyarakat ditentukan ekonomi, materi, dan alat produksi. Kehidupan manusia tida bisa lepas dari aspek ekonomi dan materi. Yang mendukung teori ini adalah Karl Marx dan pendukung filsafat materialisme. Kelima, keagamaan (teologis). Semua perubahan dan perkembangan sejarah merupakan perwujudan kehendak Tuhan. Sejarah kehidupan manusia dengan kebudayaan dan perubahan yang terjadi di dunia bukan karena manusia, tetapi Tuhan yang berada di balik semua itu. Teori scenario Tuhan ini dipegang oleh Bishop Bossuet dan diyakini oleh Agustinus. 

Namun yang disebutkan itu oleh Muthahhari dikritik kembali karena bersifat parsial atau spekulatif dan kecocokannya terbatas area tertentu. Yang dianggap faktor penggerak sejarah yang universal adalah peranan orang jenius dan pahlawan, dan peranan personalitas manusia.[5] Dengan faktor yang dipilihnya itu, bahwa Muthahhari ingin mengembalikan posisi manusia sebagai subjek dalam sejarah. Manusia sebagai pelaku dan pencipta perubahan dengan segala kemampuan dan potensinya hingga lahir kebudayaan. Sedangkan aspek di luar manusia, bisa dipahami sebagai hal yang mendukung atau melengkapi analisa terhadap sejarah. Untuk menguatkan pemikirannya, Muthahhari menggunakan Al-Quran dan sejumlah karya ulama terdahulu sehingga memiliki kemampuan menggabungkan khazanah ilmu Islam dengan disiplin ilmu-ilmu modern dan tidak segan untuk bersikap kritis. Sekali pun pada pemikiran Islam di kalangan pengikut mazhab Syiah. Karena itu, sosok Muthahhari ini layak dijadikan teladan dalam karier intelektual.*** 

(Ahmad Sahidin, alumni prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung)   

 


[1] Murtadha Muthahhari, Masyarakat dan Sejarah (Bandung: Mizan).

[2] Murtadha Muthahhari, Mengenal Epistemologi (Jakarta: Lentera).

[3] Murtadha Muthahhari, Menguak Masa Depan Umat Manusia: Suatu Pendekatan Filsafat Sejarah (Bandung: Pustaka Hidayah, 1992).

[4] Murtadha Muthahhari, Menguak Masa Depan Umat Manusia: Suatu Pendekatan Filsafat Sejarah (Bandung: Pustaka Hidayah, 1992).

[5] Murtadha Muthahhari, Tafsir Holistik: Kajian Seputar Relasi Tuhan, Manusia, dan Alam (Jakarta: Citra, 2012) hal. 553-560.

Tue, 16 Apr 2019 @11:32

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved