Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (1-3)

image

AL-MA’AD atau Kebangkitan kehidupan kembali setelah kematian adalah prinsip keimanan yang harus diyakini oleh seorang muslim. Bahkan dalam al-Qur'an pada banyak ayatnya Allah SWT menggandengkan antara kewajiban beriman kepada Allah dan Hari Akhir (QS 2:177). Keyakinan ini pun ada pada semua agama. Kesadaran bahwa kehidupan tak terhenti di dunia semata membuat manusia mawas diri akan adanya perjalanan kehdupan berikutnya yang disana setiap tindakan akan mendapatkan perhitungannya. Setiap perbuatan sekecil apapun akan tersaksikan (QS 99:6-7). 

Memiliki Ma'rifat al-Ma'ad menjadi mendasar untuk memahami rahasia perjalanan diri kita dalam kehidupan berikutnya dan memahami tujuan utama Allah ciptakan diri kita. Kesempurnaan tak pernah terjadi dalam kehidupan singkat kita di dunia ini dan apa pun yang ada di dunia ini hanyalah bagian sekilas dari proses perjalanan kehidupan yang kita tempuh. Para penempuh perjalanan Ruhaniah menyadari betul tentang al-Ma'ad ini sehingga dapat menuntun mereka berjalan mendekati Allah SWT. 

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya" (QS 22:5). ***

MELALUI QS 22: 5, Allah SWT memberikan bukti bahwa proses kehidupan manusia dari Tiada menuju Ada. Dari tingkat semata Potensialitas yang ada pada tanah kemudian mengaktualitas berubah menjadi nutfah, berubah kembali menjadi segumpal darah dan seterusnya hingga menjadi manusia maka meneruskan kehidupan yang sudah ada pada tingkat berikutnya setelah kematian terjadi bukanlah persoalan yang mencengangkan. 

Elemen yang menjadi sumber kehidupan pada diri manusia bukanlah fisik materinya karena fisik materi yang ada pada manusia tidak berbeda dengan fisik materi yang ada pada tanah, air, api dan uap. Namun fisik menjadi bentuk yang sempurna kemudian hidup dengan segala aktivitasnya menunjukkan bahwa dibalik fisik ini ada elemen yang menjadi sumber kehidupannya yang disebut al-Ruh, "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS 15:29). 

Para Filosof muslim memaknai al-Ruh: "Elemen halus yang bersifat non-materi dan menjadi sumber kehidupan bagi raga manusia". 

Al-Qur'an sendiri membagi dua dimensi ciptaan ini ada yang material disebut "Alam al-Khalq" dan yang non-material disebut "Alam al-Amr", yaitu Ingatlah bahwa Ciptaan (الخلق) dan Perintah (الأمر) hanyalah hak Allah (QS 7:54); dan Karenanyalah ketika ada yang bertanya tentang al-Ruh maka Allah menjawab bahwa al-Ruh adalah Al-Amr Tuhan (QS 17:85). 

Karenanya perubahan bentuk yang terjadi pada diri manusia tidaklah menghilangkan kehidupan dari manusia tersebut. Yang terjadi semata Perubahan Bentuk tidak lebih. 

Perubahan-perubahan inilah yang kadang kita sebut dengan kematian. Jalaluddin Rumi dalam Syairnya berkata:  "Dahulu aku sebagai materi keras kemudian dihidupkan sebagai tumbuh-tumbuhan kemudian menjadi binatang kemudian menjadi manusia maka mengapa aku harus takut pada kematian karena setelah ini aku akan hidup dan terbang bersama para malaikat". ***

AL-RUH istilah yang digunakan al-Qur'an kadang ditujukan untuk malaikat jibril (Ruh al-Quds (QS 2:87) Ruh al-Amin (QS 26:193)  dan kadang ditujukan untuk substansi yang menghidupkan manusia "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalmanya Ruh-Ku maka tundukah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS 15:29). 

Al-Ruh karena merupakan sumber kehidupan yang non-materi maka dia tidak mengalami keteruraian seperti pada raga dan tidak juga mengalami kematian seperti pada krmatian raga. 

Setiap orang memiliki ruh spesifik yang merupakan jati diri orang tersebut. Sehingga Ruh nya merupakan substansi yang tetap tdk sebagaimana raga yang berubah. Atau kita bisa menyatakan bahwa raga dapat berubah-ubah namun karena Ruhnya tunggal maka dirinya tetaplah dirinya sekalipun terjadi perubahan berkali-kali dalam proses kehidupannya. 

Karena Ruh bersumber dari elemen Ilahi "Aku tiupkan Ruh-Ku", maka Ruh selalu ingin kembali kepada sumber dirinya yang tidak.lain adalah Allah SWT. Al-Qur'an memyatakan: "Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya." (QS 84:6) Di dalam filsafat ada kaidah "Kamal al-Ma'lul fi al-Illatihi" (Kesempurnaan akibat ada pada sebabnya). Karenanyalah setiap akibat berusaha untuk menggapai sebabnya. Ruh, kesempurnaannya tidak lain pada Allah maka Ruh akan terus berusaha untuk mendekati Allah SWT. 

Kita bisa melihat bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia pada intinya adalah upaya dirinya untuk menggapai kesempurnaan. 

Jalaluddin Rumi pada Matsnawi mengibaratkan "Dengarkanlah, Nyanyian pilu seruling bambu yang ingin kembali ke rumpun asalnya" Ruh kita semua berasal dari Allah dan selalu rindu untuk kembali kepada Allah. *** 

Ditulis oleh Dr Kholid Al-Walid, Dosen UIN SGD Bandung

Tue, 14 May 2019 @09:29

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved