Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (4-6)

image

AL-QURAN menggunakan tiga istilah terkait Kematian, yaitu al-Ajal, al-Wafat dan al-Mawt. Ketiga istilah ini pun kerap digunakan dalam bahasa kesaharian walaupun setiap ata tersebut memiliki makna khas tersendiri.

Al-Ajal pada dasarnya memiliki makna "الوقث المعين المعهود" (Waktu yang telah ditetapkan sesuai perjanjian).  Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini memiliki batas waktu yang telah dijanjikan Allah SWT. 

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya" (QS 7:34). 

Walaupun manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan makhluk-makhluk lainnya namun pada dirinya ada batasan-batasan yang mengikat dirinya sebagai manusia. Sesempurna apapun seorang manusia tetaplah dirinya sangat terbatas dibnadingkan kesempurnaan yang ada pada Allah SWT. 

Dalam masa kehidupan di dunia ini ada batas masa dan waktu yang menjadi garis 'demarkasi' kehidupannya di alam dunia ini. Padanya tidak ada potensi untuk abadi pada alam dunia ini karena memang dunia pun diciptakan dalam batasan yang tidak abadi. 

Ada batasan waktu kehidupan bagi setiap manusia yang memaksa dirinya untuk pindah kehidupan pada alam berikutnya. Batasan waktu kehidupan dunia inilah yang disebut dengan al-Ajal. 

Ada dua jenis al-Ajal pada manusia. Ada al-Ajal Mutlak dan ada al-Ajal al-Musamma. "Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)" (QS 8:2). 

"Al-Ajal Mutlak" adalah batasan yang Allah tetapkan bagi manusia secara umum bahwa setiap manusia akan mengalami kematian tidak peduli siapapun dirinya, Ajal pada kontek ini dapat mengalami perubahan ataupun penundaan sesuai dengan amal yang dilakukan oleh manusia tersebut. Sedangkan "al-Ajal al-Musamma" waktu tibanya ketentuan teesebut sesuia yang telah digariskan dan ditetapkan Allah SWT yang manusia tidak mengetahuinya dengan cara apa dan dimana kematian itu menjemput dirinya. 

"Dialah Yang Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati" (QS 31:34). 

Dan jika seluruh sebab bagi batas akhir kehidupan manusia terpenuhi sesuai dengan "al-Ajal al-Musamma" maka terjadilah proses kematian yang tak mungkin di undur maupun dimajukan sesaat : "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)" (QS 10:49). 

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata: "Jiwa setiap manusia melangkah setiap saat menuju ajalnya." Semoga perjalanan kehidupan kita menuju batas akhir di dunia ini berkesesuaian dg tuntunan Ilahi. *** 

AL-WAFAT adalah term yang digunakan al-Qur'an untuk mengisyaratkan tentang kematian. Kata-kata ini juga terserap ke dalam bahasa Indonesia dan umumnya dianggap lebih halus dibanding kata Mati. 

Secara bahasa kata al-Wafat bermakna " هو إتمام العمل با التعهد سواء كان التعهد با التكوين او با التشريع او             

بالحعل العرفي"

 (Yaitu menunjukkan sempurnanya penunaian janji baik perjanjian atau kesepakatan dalam ketentuan hukum alam maupun ketentuan hukum syari'ah atau ketetapan berdasarkan kesepakatan budaya) atau secara sederhana al-Wafat dimaknai tuntasnya perjanjian dan kesepakatan. Karena itu al-Quran kerap menggunakan kata ini untuk menunjukkan ditunaikannya perjanjian: 

"Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)" (QS 2 : 40); dan "Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya" (QS 17:43).

Kata ini digunakan dalam makna kematian karena telah sempurnanya ketentuan alamiah pada diri seseorang sehingga terjadi kematian padanya: "Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa" (QS 16:70).

Ada kalanya kata al-Wafat bermakna menggenggam: "Allah yang menggenggam setiap jiwa ketika kematiannya" (QS 39:42). Al-Wafat juga bermakna cukup: "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami cukupkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan" (QS 11:15). 

Dari semua pemaknaan ini kita dapat merangkum bahwa makna al-Wafat adalah Sempurnanya tindakan atau ketentuan dan terjaganya kehidupan serta cukupnya batas waktu yang telah Allah berikan bagi diri seseorang." 

Karenanya al-Wafat digunakan dalam kematian bermakna sempurnanya batas waktu kehidupan manusia di dunia ini. Namun kata ini sama sekali tidak berindikasi selesainya kehidupan manusia bahkan seseorang yang dlm keadaan wafat dapat memberikan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan malaikat kepadanya: 

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali" (QS 4:97). 

Seorang penyair Persia berkata: "Ketika engkau wafat//Engkau tengah disadarkan atas setiap amal yang telah engkau lakukan//Engkau berada di dalam kebun mawar yang beraneka warna jikalau engkau sempurnakan hidupmu dengan amal-amal Sholeh//Engkau berada dalam onak penuh dedurian sekiranya keburukan adalah kubangan hidupmu di dunia." 

Maka sempurnakanlah kehidupan kita dengan merajut kebaikan sebelum Allah menyempurnakan janji-Nya untuk menyampaikan kehidupan kita pada tahap berikutnya dalam alam yang berbeda. *** 

AL-MAWT adalah term ketiga yang digunakan al-Quran dalam menggambarkan Kematian. Dalam bahasa Indonesia disebut Mati untuk menggambarkan tidak lagi hidup baik ditujukan untuk makhluk yang memiliki kehidupan maupun sebagai kinayah seperti "Mati Rasa", "Mati Kutu" dan sebagainya. 

Dalam bahasa Arab istilah ini bermakna "أن الموت انتاء الحياة، و الحياة في كل شيء بمقتضي ذاته و خصوصيات وجوده، و يتنوع بتنوع مراتب الموجودات من مرتبة الجمادات، والنباتات، والحيوانات، و الانسان، و الملائكة، و ما وراءها من عوالم العقول" (Bahwa kematian adalah hilangnya kehidupan dan kehidupan pada segala sesuatu sesuai dengan zatnya dan kekhususan keberadaannya, keragaman berdasarkan ragam level keberadaan. Baik dari level materi keras, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, malaikat hingga kehidupan dibalik alam Aqal). 

Pada tingkatan materi keras: "Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)" (QS 16:65). 

Pada tingkat Tumbuh-tumbuhan: "Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran" (QS 7:57). 

Pada binatang dan manusia memiliki kesamaan dalam makna kematian ragawi: "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh" (QS 4:78). 

Namun kata al-Mawt juga dimaknai sebagai Kiamat kecil sebagaimana dalam hadis Nabi Muhmmad Saw:  "من مات فقد قام قبامته" (Barangsiapa Mati maka tegaklah kiamat atasnya). 

Para filosoaf menggambarkan bahwa Kematian adalah keadaan terlepasnya sumber kehidupan (Ruh) dari raga sehingga daya yang ada pada raga tak lagi dapat bekerja seperti sebelumnya.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata: "Dengan kematian tertutuplah pintu dunia dan terbukalah pintu akhirat". 

Dari sini kita dapat menggambarkan bahwa kematian (yang merupakan lawan dari kehidupan sebagai dua makhluk yang Allah ciptakan (QS 67:2)-) adalah terhentinya aktivitas kehidupan duniawi manusia dan pindahnya kehidupan manusia pada tingkat kehidupan berikutnya. Melalui kematian ini tersingkaplah kesadaran manusia pada hakikat alam yang lebih tinggi dengan kesadaran yang lebih jelas sebagaimana Rasulullah saw bersabda "الناس نيام اذا ماتوا إنتبهوا" (Manusia itu tidur jika mati barulah dia terjaga) bahwa dengan kematian hilang kemampuan inderawi materinya akan tetapi pada saat yang sama membuka indera bathinnya untuk menyaksikan beragam fragmen pada realitas Alam Barzakh. 

Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa kematian adalah upaya Allah untuk menarik manusia menaiki jenjang kehidupan yang lebih tinggi. 

Namun bagaimanapun kematian tetap menjadi hal yang menakutkan karena dengan itu manusia tak mampu lagi memperbaiki dirinya dari beragam hal yang buruk yang pernah meliputi kehidupannya. Kematian juga menjadi pemisah antara diri manusia dengan apapun yang selama ini mengitarinya dalam kehidupan duniawinya. Al-Samarqandi, seorang penyair sufi, berkata: 

Akulah kematian yang akan memisahkan segala yang dicintai

Akulah kematian yang memisahkan lelaki dan perempuan, suami dan istri.

Akulah Kematian yang memisahkan anak-anak perempuan dari ibunya

Akulah kematian yang memisahkan anak laki-laki dari bapaknya.

Akulah kematian yang memisahkan saudara dari saudaranya

Akulah kematian yang menundukkan kekuatan anak-anak Adam

Akulah kematian yang menghuni kubur

Tidak satupun makhluk yang mampu bertahan utk tidak merasakanku

 

"Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS 62:8).*** 

Ditulis oleh Dr Kholid Al-Walid, Dosen UIN SGD Bandung

Tue, 14 May 2019 @09:57

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved