Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (7-9) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

APA yang telah digambarkan al-Quran melalui tiga term Kematian: al-Ajal, al-Wafat, dan al-Mawt. memberikan pemahaman bahwa kematian tidak lebih proses perpindahan kehidupan dari tingkat alam material duniawi menuju alam yang lebih tinggi dan sempurna. 

Saat kematian disebut al-Qur'an sebagai saat yang sangat berat. Al-Qur'an mengistilahkan dengan kata Sakrat al-Mawt (Kematian yang menghampiri): "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya" (QS.50:19). 

Pada saat itu dua malaikat menghampiri di sisi kanan dan kiri: "Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri" (QS 50:17). 

Dalam peristiwa kematian sendiri al-Qur'an memberikan gambaran. Saat kematian sebagai saat pencabutan ruh dari raga yang selama ini ditempati: "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu  (غمرت الموت)" (QS 6:93). 

Ketika kematian jiwa naik ke kerongkongan dan orang yang mengalaminya menyaksikan bagaimana proses ruhnya naik: "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan padahal kamu ketika itu melihat" (QS 56:83-84). 

Ada perlakuan yang berbeda yang dirasakan antara org yang beriman dan yang kafir ketika proses kematian itu terjadi: "Ada pun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan" (QS 56:88-89). 

Bahkan digambarkan bagi orang-orang beriman ditampilkan kenikmatan-kenikmatan yang akan dirasakannya di alam berikutnya. Sedangkan untuk orang-orang yang mengingkari kebenaran (Kafir) bagi mereka kematian menjadi peristiwa yang sangat dahsyat dan mengerikan. Malaikat memperlakukan mereka dengan sangat buruk: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar" (tentulah kamu akan merasa ngeri)" (QS 8:50). 

Peristiwa-peristiwa ini ditampilkan al-Qur'an sebagai berita tentang fragmen yang dialami seorang manusia ketika kematian terjadi. Waktu pada saat peristiwa itu berlangsung menjadi sesuatu yang sangat subjektif, mungkin bagi orang yang masih hidup disekitarnya beranggapan peristiwa tersebut terjadi sekilas sedangkan bg orang yang mengalami bisa jadi merasakan peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang sangat panjang dan berat dengan derita yang maha dahsyat. Seperti yang disebutkan dalam salah satu riwayat: "Seringan-ringannya kematian bagaikan 70 kali tebasan pedang. Jika ia ditimpakan pada gunung maka gunung pun akan amblas dan jika ditimpakan pada lautan maka lautan menjadi kering." 

Inilah tahap yang kelak akan dan harus dilewati setiap hamba. Semoga di saat kita melewatinya kita berada dalam lindungan Allah SWT. ***

DALAM isyarat al-Qur'an manusia diciptakan untuk kehidupan abadi bukanlah kehidupan yang fana'. Banyak sekali gambaran keabadian yang Allah SWT sebutkan. Kata yang selalu digunakan adl "خالدين فيها ابدا" (Mereka kekal Abadi padanya). 

Allah juga menegaskan bahwa kehidupan hakiki yang akan dialami manusia adalah Akhirat dan bukanlah dunia ini: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui" (QS 29:64). 

Para filosof juga memberikan bukti bahwa kehidupan manusia tidak selesai dengan kematian. Di antara bukti yang diajukan ada tiga.

Kesatu adalah Bukti Gerak dan Tujuan. Segala sesuatu di alam semesta ini mengalami proses perubahan dan gerak apapun itu. Bahwa gerak mengindikasikan ada tujuan. Tujuan baik yang pendek, sedang dan jauh. "al-Nutfah" tujuan pendeknya adalah menjadi "al-'Alaqah" dan tujuan sedangnya menjadi anak manusia namun manusia memiliki tujuan yang jauh yaitu Hidup Abadi. Hanya sebagian kecil dari tujuan ini terwujud di dunia ini.  "Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?" (QS 2:28). 

Kedua adalah Bukti Fitrah Keabadian. Semua manusia menginginkan kehidupan Abadi. Bahkan hal-hal yang tak Abadi pun seringkali di anggap Abadi: "Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya" (QS 104:3). Keinginan untuk hidup Abadi itu ada pada semua manusia dan tercermin dari sikap manusia yang berusaha dengan segala upaya utk mempertahankan kehidupannya. Allah meletakkan fitrah ini pada diri manusia sebagai bukti bahwa kelak akan ada kehidupan yang Abadi yang sepenuhnya hakikat Allah hadir secara mutlak sehingga manusia berusaha menggapainya. "Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS 84:6). 

Ketiga adalah Bukti Keadilan.  Allah SWT Zat yang Maha Adil: "Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan" (QS 3:18). Salah satu bentuk Keadilan Allah adalah membalas setiap perbuatan manusia: "Ada pun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami"(QS 18: 87-88). 

Sementara kita tidak menyaksikan balasan itu terjadi di dunia ini bahkan sebaliknya adakalanya kita menyaksikan orang-orang yang Zalim hidup dengan kesenangan sedangkan orang-orang yang sholeh justru berada dalam penderitaan. Itu menunjukkan bahwa ada alam lain dimana keadilan Allah untuk menghukum orang-orang yang Zalim dan memberikan kenikmatan bagi orang-orang yang taat ditegakkan.

Ada beragam bukti lain yang dikemukakan para filosof muslim untuk menunjukkan bahwa adanya kehidupan berikutnya setelah kematian. 

Al-Faraghani seorang penyair Sufi berkata: "Engkau membangun istanamu di dunia ini padahal dunia ini menipumu dan segera sirna. Engkau bahagia dengan mawar yang merekah padahal esok hari dia telah layu lunglai. Bergegaslah menuju kampung keabadian karena disitulah cinta dan kekasih yang tak sirna menantimu". *** 

KEMATIAN mengantarkan kita pada kehidupan Barzakhi, yaitu kehidupan yang berada di antara kehidupan dunia dan kehidupan Akhirat. 

Al-Quran sekilas memberikan isyarat tentang alam ini: "Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan" (QS 23:100). 

Barzakh adalah perantara yang menjepit kehidupan manusia. Di mana tidak ada kesempatan lagi bagi manusia tersebut untuk kembali ke alam dunia dan dirinya merasakan efek-efek akhirat. Ada dinding tebal yang memisahkan kedua kehidupan tersebut: "Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing" (QS 55:20). 

Ruh manusia terus berkembang naik, setelah kematiannya ia menyaksikan peristiwa-peristiwa yang belum pernah tersaksikan sebelumnya karena kesempurnaan yang ada di Alam Barzakh. 

Banyak pemikir Islam memberikan gambaran bahwa Alam Barzakh berkali lipat lebih sempurna dari Alam Dunia ini. Bahkan ada yang mengibaratkan sebagai berikut: 

"Perbandingan antara kehidupan dunia dengan kehidupan Alam Barzakh bagaikan perbandingan antara kehidupan Alam Rahim dengan kehidupan Dunia. Jika Alam Rahim adalah fase persiapan dan Alam Dunia adalah alam nyatanya maka demikian juga bahwa Alam Dunia merupakan alam persiapan sedangkan Alam Barzakh adalah alam nyatanya." 

Sehingga apa yang akan dirasakan manusia pada Alam tersebut berkali lipat jika dibandingkan dengan apa yang dirasakan dalam kehidupan dunia ini. 

Kerapkali Alam Barzakh juga dimaknai sebagai Alam Kubur. Dalam salah satu hadis disebutkan: "Demi Allah, Takutlah kalian terhadap Barzakh! Aku bertanya apa itu Barzakh? Kemudian dikatakan: al-Qubur mulai dari kematian hingga hari Kiamat." 

Seperti doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw: "Ya Allah jadikan kubur ini sebagai taman di antara taman surga dan jangan Engkau jadikan tetesan dari tetasan Neraka." 

Ini menggambarkan bahwa Alam tersebut merupakan penggambaran dan manifestasi dari Alam Akhirat. Penghuninya telah terbagi di antara mereka yang beriman dengan beragam kesenangannya dan mereka yang Kafir dengan beragam deritanya. 

Imam Ja'far al-Shadiq as menyatakan: "Arwah orang-orang yang beriman berada di dalam kamar-kamar di surga, mereka memakan makanan, meminum beragam minuman, berziarah satu dengan lainnya dan berkata: Duhai Tuhan kami segerakanlah kiamat bagi kami sehingga kami mendapatkan apa yang Engkau janjikan. Sedangkan Arwah orang-orang Kafir berada dalam liputan api neraka jahannam dan tenggelam di dalamnya serta mereka berkata: Duhai Tuhan kami jangan hadirkan Kiamat dan jangan Engkau timpakan pada kami apa yang Engkau janjikan dan jangan pertemukan di antara kami baik yang dahulu maupun yang akan datang." 

Al-Nakhjawani dalam Tafsir Sufi-nya berkata: "Barzakh akan menggigitmu dalam ketakutan yang tak pernah kau rasakan. Karena tempat itu seluruh apa yang engkau lakukan akan di hamparkan dihadapanmu, sedangkan sanak saudaramu perlahan melupkanmu." 

Nabi Muhammad Saw bersabda: "Berhati-hatilah atas Alam Kuburmu karena Syafaatku hanya akan ada di akhirat kelak". *** 

Dr Kholid Al-Walid, Dosen UIN SGD Bandung

Tue, 14 May 2019 @10:12

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved