Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (10-11) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

SIKSA kubur diisyaratkan Allah ketika Malaikat mendatangi dan menyiksa orang-orang yang zalim: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali" (QS 4:97). 

Sedangkan bagi mereka yang meninggal dunia dijalan Allah mereka mendapatkan kenikmatan yang tak pernah putus: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki" (QS 3:169). 

Realitas siksa dan nikmat kubur yang dialami di alam berikutnya banyak sekali digambarkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Saw, bahkan kubur pun berbicara kepadanya. 

“Kubur setiap hari berbicara 'Akulah rumah yang asing, akulah rumah yang menakutkan aku juga rumah kasih sayang, aku adalah taman di antara taman surga dan nyala dari api neraka” (Mizan al-Hikmah, 456). 

Bahwa sesungguhnya Azab dan Siksa kubur terjadi dari perbuatan manusia itu sendiri. Bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang akan tampak dalam wujud-wujud yang berkesesuaian dengan perilakunya tersebut. 

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula" (QS 99:7-8). 

Mulla Sadra menggambarkan: “Dan ketika telah tersingkap tirai alam kuburnya maka terbentuklah beragam wujud-wujud yang berkesesuaian dengan karakter dirinya. Ia menyaksikan dengan penglihatannya beragam kalajengking, ular berbisa yang mematuk dirinya padahal itu semua adalah perwujudan dari sifat yang ada pada dirinya sendiri. Demikian juga sifatnya yang baik akan menampilkan bentuk-bentuk yang indah.” 

Al-Ghazali menggambarkan bahwa setiap ayat al-Qur'an yang dihafal dan diamalkan seseorang di dunia di alam kubur akan berubah menjadi wujud-wujud rupawan yang menjadi sahabat yang melayaninya. 

Malik bin Dinar

Malik bin Dinar mengisahkan pengalamannya ketika seseorang bertanya kepadanya: "Wahai Malik apa yang menyebabkan dirimu berubah menjadi baik?" 

Malik menceritakan bahwa dirinya dahulu selalu melakukan keburukan hingga suatu masa Allah menganugerahkan seorang anak perempuan untuknya. 

"Sungguh aku mencintai anak perempuanku, setiap saat aku selalu bermain dengannnya hingga usia lucu-lucunya ketika ia berusia 2 tahun. Tiba-tiba ia menderita sakit dan meninggal dunia. Aku marah kepada Tuhan dan aku kembali melakukan beragam dosa hingga satu malam aku tertidur dalam keadaan mabuk. Tiba-tiba aku ditarik pada satu tempat asing. Aku bertanya: "Tempat apakah ini?" Namun sebelum aku mendapatkan jawaban, aku mendengar suara mendesis di belakang kepalaku. Aku melihat ke belakang dan aku saksikan seekor ular yang demikian besar hendak menerkamku, aku berlari tapi kemana pun aku berlari ular itu terus mengejarku. Hingga aku berjumpa dengan seseorang yang sudah tua, aku meminta perlindungan padanya tapi dia berkata: "Bagaimana aku yang sudah renta ini dapat menolongmu. Cobalah engkau ke bukit itu. Insya Allah engkau mendapatkan pertolongan di sana." Aku berlari ke bukit yang ditunjukannya. Dan ketika sampai di kaki bukit itu, tiba-tiba aku menyaksikan anak-anak kecil keluar dengan membawa batu dan melempari ular yang mengejarku hingga ular itu pergi dan di antara anak-anak itu aku menyaksikan anakku yang telah meninggal dunia, aku berlari mengejarnya, memeluknya dengan penuh kerinduan. Aku bertanya padanya: "Sedang apa engkau di sini?" Dan anakku berkata: "Kami adalah anak-anak orang beriman yang meninggal dunia ketika kecil, kami menantikan kedua orangtua kami untuk memberikan pertolongan pada kami." Aku bertanya: "Siapakah ular dan orangtua yang aku temui tadi?" Anakku menjawab: "Ular itu adalah amal-amal burukmu yang hendak menghancurkanmu. Sedangkan orangtua tadi adalah amal baikmu, namun sangat sedikit hingga tak mampu menolongmu."

Kemudian anakku membacakan ayat al-Qur'an untukku: "Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk menundukkan  hatinya mengingat Allah" (QS 57:16). Sejak itulah kata Malik aku merubah hidupku. 

Peristiwa yang terjadi di alam kubur adalah manifestasi dari seluruh proses kehidupan di dunia yang kita lewati. Kitalah yang tengah menanam dan kita pula yang akan menuai semuanya dalam kehidupan di alam kubur kita nantinya. Semoga kita termasuk yang selalu menebar benih-benih kebaikan dalam kehidupan kita saat ini. ***

KETIKA kematian terjadi tubuh materi manusia umumnya segera terurai, bahkan segera menjadi hidangan bagi cacing tanah. Kecuali orang-orang tertentu yang dijaga Allah jasad mereka karena kemuliaan selama kehidupan mereka. Tetapi umumnya manusia mengalami kehancuran jasad. 

Apakah manusia selanjutnya tetap memiliki raga? Dan raga seperti apakah yang akan dimiliki manusia setelah kematiannya? 

Filosof Muslim terakhir dan juga para Sufi memandang bahwa manusia tetap akan memiliki raga karena raga adalah identitas personal diri manusia. Ruh sebagai hakikat kehidupan yang murni non-materi jika tanpa raga maka tak akan memiliki bentuk sedangkan bentuk memberikan identitas  diri bagi manusia. 

Manusia akan tetap memiliki raga namun raga tersebut adalah raga halus yang terbentuk dari karakter dan perilaku manusia itu sendiri. Para Ulama mengistilahkannya dengan "Tajassud al-'Amal" (Perbuatan yang menjadi Jasad) atau ada juga yang menamai "Tajassum al-'Amal" (Perbuatan yang Menjasmani). Bahwa setiap Amal perbuatan dan karakter manusia tersebut menghasikan rupa dirinya dibalik rupa materinya. Bahkan orang-orang mulia dengan karamahnya dapat menyaksikan rupa hakiki kita sejak di dunia ini. 

Abul Bashir yang buta berkata kepada Imam Ja'far al-Shadiq. "Wahai putra Rasulullah betapa luar biasa orang yang menunaikan Hajji tahun ini, betapa ramainya Talbiah yang mereka teriakkan, betapa mulianya mereka." 

Imam Ja'far berkata: "Engkau tidak mengetahui hakikat mereka Ya Abul Bashir." Imam Ja'far kemudian mengusap wajah Abul Bashir dan tiba-tiba tersaksikanlah dihadapan Abul Bashir pemandangan yang menakutkan, hanya sedikit orang yang Thawaf mengelilingi Ka'bah tetap dalam wujud manusia tapi sebagian besar berubah wujud menjadi wujud aneh dan mengerikan. Abul Bashir berteriak: "Apa ini Wahai Putra Rasulullah?" Imam Ja'far berkata: "Itulah hakikat batin mereka wahai Abul Bashir." 

Setiap kita memiliki rupa bathin sendiri-sendiri sesuai amal dan karakter kita. Karena karakter adalah perilaku yang karena berulang kali dilakukan hingga malakah dan menjadi identitas diri kita masing-masing. Dalam kehidupan di Alam Kubur rupa dan raga yang tersembunyi inilah yang justru menjadi zahir kita. Al-Qur'an mengistilahkan: "Pada hari ditampakkan segala rahasia" (QS 86:9). 

Segala rupa yang selama ini yang kita sembunyikan di balik rupa material kita akan tampil menjadi sangat benderang sebagai diri kita sesungguhnya. Bahkan al-Qur'an mengisyaratkan  banyak manusia dibangkitkan dalam rupa binatang buas: "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan" (QS 81:5). 

Husain Mazahiri dalam kitabnya Dirasat al-Akhlaq menjelaskan: "Hakikat manusua dan identitasnya tergambarkan dalam bentuk yang sesuai dengan karakter tersebut. Bagi siapa yang berakhlak dengan akhlak manusia maka derajatnya akan sampai pd tingkat manusia sempurna dan bagi yang berperilaku dengan laku binatang buas (al-Bahimah) derajatnya akan turun dan keluar dari tingkat manusia karena perilaku tsb dan terbentuklah bentuk-bentuk binatang buas dan selainnya yang berkesesuaian dengan karakter tersebut." 

Dalam do'a Arafah cicit Rasulullah saw, Imam Zaynal Abidin berdoa: "Ya Allah lindungilah diriku kelak. Janganlah Engkau panggil Aku dengan panggilan yang jelek. Janganlah Engkau rubah rupaku. Tutupilah aib-aibku dengan Penutupan-Mu. Duhai Penutup segala keburukan." 

Semoga air mata taubat kita mengembalikan kembali cahaya di batin kita dan mengindahkan kembali wajah-wajah hakiki kita dan Allah bangkitkan kita dalam rupa yang indah di alam kubur kita masing-masing. *** 

Kholid Al-Walid adalah Dosen UIN SGD Bandung


Thu, 16 May 2019 @08:12

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved