Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (12-13) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

KEHIDUPAN di Alam Barzakh merupakan proses persiapan menuju kehidupan Akhirat. Seperti pengandaian yang lalu telah diisyaratkan antara alam rahim dengan alam dunia. Demikian juga hubungan antara Alam Barzakh dan Alam Akhirat bahwa Alam Barzakh adalah Alam Rahim bagi Alam Akhirat. Di Alam Barzakh sebuah proses peyempurnaan tengah berlangsung walau dengan hukum yang berbeda dengan Alam Dunia.

Dalam kitab Ahwal al-Qiyamah yang ditulis oleh al-Samarqandi berdasarkan hadis-hadis yang dikumpulkannya, menggambarkan:

“Orang mukmin yang telah meninggal dunia akan membaca dan menghafalkan Al-Quran. Jiwa-jiwa yang lebih mulia akan mendidik jiwa yang masih buruk. Alam Barzakh bagaikan sebuah Madrasah besar yang di dalamnya jiwa-jiwa itu hidup memenuhi waktunya dengan memperbaiki keadaan dirinya. Mereka jauh lebih bersemangat dibandingkan ketika mereka di dunia. Tidak ada kemalasan dan tidak pula kekosongan. Mereka menikmati kehidupan yang jauh lebih sempurna dari kehidupan dunia. Musik-musik yang indah, hidangan yang lezat mereka menikmati semuanya melalui selera ruhaniah.”

Proses kesempurnaan diri yang berlangsung bukan hanya karena amal-amal baik yang telah dilakukan di dunia namun juga oleh do'a-do'a yang dipanjatkan kerabat yang masih hidup untuknya.

Dalam kitab yang sama digambarkan: “Satu malam Abu Qalabah menyaksikan peristiwa yang aneh, ia menyaksikan kubur-kubur terbelah dan ia saksikan para penghuninya bergembira dengan lentera-lentera yang indah. Namun dia saksikan salah seorang tetangganya yang telah meninggal dunia meringkuk tersembunyi dalam kegelapan. Ia bertanya: "Mengapa engkau sendiri dalam kegelapan." Orang itu menjawab: "Aku malu, mereka punya anak-anak dan sahabat yang mendoakan serta bersedekah atas nama mereka. Sedangkan aku punya seorang anak yang melupakanku, dia tidak mendoakan dan bersedekah atas namaku, karenanya tak ada lentera bersamaku."

Abu Qalabah terjaga, ia segera mencari anak tetangganya tersebut. Ia sampaikan apa yang disaksikannya dan anaknya berjanji utk mendoakan dan bersedekah bagi ayahnya. Beberapa waktu berselang Abu Qalabah kembali mendapat penyaksian ruhaniah namun ia dapatkan tetangganya tsb bersama lentera yang kemilau indah cahayanya, benderangnya melebihi benderang matahari. Dia berkata:"Hai Abu Qalabah, semoga Allah membalas kebaikanmu, engkau telah menasehati anakku dan aku selamat dari rasa malu yang menyiksaku."

Di dalam Alquran ada banyak ayat yang mengajarkan kita untuk mendo'akan mereka yang telah meninggal dunia:

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS 59: 10).

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" (QS 14: 41).

Dalam do'a yang biasa dibaca pada Khotbah kedua di Shalat Jum'at kita diharuskan membacakan doa bagi sesama mukmin baik yang hidup maupun yang telah meninggal dunia. Semuanya merupakan bagian dari penyempurnaan diri bagi yang telah meninggal dunia.

Mereka yang telah berada di Alam Barzakh berkunjung satu dengan lainnya sesama saudara yang bertakwa. Karena yang terpisah adalah prrsaudaraan di antara orang-orang kafir dan fasiq: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS 43:67).

Al-Ghazali dengan mangutip satu hadis menggambarkan: “Tatkala seseorang yang baru meninggal dunia berjumpa dengan para sahabatnya. Mereka bertanya tentang keadaan sahabatnya yang lain. Orang yang baru meninggal itu berkata: "Sesungguhnya dia telah lebih dahulu meninggal dunia." Mereka berkata "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali. Sesungguhnya dia telah dilemparkan ke tepi jurang Neraka."

Al-Qur'an mengisyaratkan kebersamaan terus menerus suami istri yang bertakwa: “Orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan” (QS 43: 69-70).

Suatu ketika Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib kw berjumpa dengan seorang perempuan yang wajahnya terlihat sangat sedih. Imam Ali bertanya: "Mengapa engkau tampak sangat sedih?" perempuan itu berkata: "Wahai Amirul Mukminin suamiku baru saja meninggal dunia, aku sedih mungkin dia telah melupakanku." Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib kw berkata: "Ketahuilah sesungguhnya suamimu tengah menantikanmu dengan penuh kerinduan seperti seseorang yang menantikan kepulangan kekasihnya yang tengah berpergian."

Bagi orang-orang mukmin kehidupan di Alam Barzakh adalah kehidupan yang penuh kebaikan dan kebahagian yang jauh lebih sempurna di alam ini. Mereka tengah berproses menyempurnakan dirinya untuk kehidupan yang lebih hakiki di alam Akhirat.

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi berkata: “Jangan kau tangisi kematianku karena kematian adalah hari raya bagiku. Para Malaikat kelak kanenjemputku dan mengarakku bak pengantin menjumpai kekasihnya.” Semoga nama kita tercatat di antara yang mendapatkan kebaikan tersebut. ***

BERAPA lamakah seseorang tinggal di Alam Barzakh? Al-Qur'an hanya menjelaskan dua hal. Pertama, Hingga hari dibangkitkan: "... Di belakang mereka ada dinding (Barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan" (QS 25:53). Kedua, Hingga hari Kiamat: "Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur" (QS 22:8).

Pada dasarnya keduanya sama bahwa hari Kiamat merupakan hari dibangkitkannya segala sesuatu. Namun pemaknaan lebih spesifik tentang Kiamat Insya Allah akan kita bicarakan berikutnya. Bahwa waktu atau masa tinggal di Alam Barzakh sangat relatif dan berbeda satu dengan lainnya di antara manusia. Sebagaimana al-Qur'an mengisyaratkan: "Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: Berapakah lamanya kamu tinggal di sini? Ia menjawab: Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya" (QS 2: 259).

Sebagaimana di dunia ini waktu kehidupan adalah sesuatu yang bersifat relatif. Demikian pula panjang masa di Alam Barzakh. Bahkan, dalam salah satu hadis: "Kami para Nabi tidak melewati Alam Kubur lebih dari tiga hari."

Mengapa para Nabi hanya melewati Alam Barzakh dalam bilangan masa yang pendek? Sebagian menjelaskan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang telah mencapai derajat kesempurnaan sehingga tidak memerlukan masa yang panjang untuk melewati masa Alam Barzakh. Mereka bertempat di "al-Illiyin" (Tempat yang tinggi) di Alam Akhirat. Dan yang berada ditempat tersebut bukan hanya para Nabi akan tetapi: "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" (QS 4: 69).

Selain para Nabi juga para "al-Shidiqin", "al-Syuhada" dan "al-Sholihin". Imam Ali bin Abu Thalib kw menyebutkan bahwa masa yang terjadi di dunia dengan di Alam Barzakh berbeda. Di dunia disebut dengan "al-Zaman". Sedangkan di Alam Barzakh disebut dengan "al-Dahr".

Jika "al-Zaman" dihasilkan melalui proses gerak rotasi Bumi mengelilingi Matahari sedangkan "al-Dahr" diperoleh berdasarkan tingkat kesucian diri manusia masing-masing. Semakin bersih dan suci jiwa seseorang semakin singkat masa perjalanan kehidupannya di Alam Barzakh.

Jawad Tabrizi menggambarkan: “Barzakh bagaikan dua lautan yang saling menghimpit, mereka yang berdosa berada dalam hempasan ombak lautan yang saling menindih satu dengan lainnya sedangkan mereka yang suci melintas di antaranya bagaikan kilatan cahaya”.

Semakin banyak dosa dan keburukan maka semakin panjang dan lama masa yang harus ditempuh seseorang di Alam Kuburnya. Semoga derai air mata kita memohon ampunan Allah menjadi kendaraan untuk melintas di Alam Kubur kita nantinya. ***

Kholid Al-Walid adalah Dosen UIN SGD Bandung

Sat, 18 May 2019 @06:48

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved