Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (14) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

KIAMAT adalah Keyakinan penting yang harus dimiliki ummat Islam. Perjalanan puncak kehidupan manusia yang seluruh perbuatan diperhitungkan dan harus dipertanggung jawabkan. 

Selain kata Kiamat Allah memperkenalkan 110 nama atau istilah lainnya yang mengindikasikan realitas perjalan kehidupan akhir manusia. Bahkan beberapa surah al-Qur'an dinamai dengan nama yang mengindikasikan peristiwa akhir tersebut: "al-Waqi'ah" (Kejadian), "al-Haqqah" (Hari yang Benar), "al-Qiyamah" (Kiamat), "al-Naba'" (Berita Besar), "al-Takwir" (Menggulung),  "al-Infithar" (Terbelah), "al-Ghasiyyah" (Peristiwa yang Dahsyat), "al-Zilzalah" (Kegoncangan), dan "al-Qari'ah" (Yang Mengetuk dengan Keras). 

Secara umum al-Qur'an menggambarkan dua makna besar dari Kiamat. Pertama, hancurnya seluruh sistem Alam Semesta material yang merupakan tempat kehidupan duniawi manusia. “Ketika Matahari digelapkan, Tatkala Bintang-bintang dijatuhkan, Tatklaa gunung-gunung dihancurkan, Tatklaa Unta-unta hamil di abaikan, Tatkala Binatang-binatang buas dikumpulkan, Tatkala Lautan didihkan" (QS 81:1-5).

"Apabila Langit terbelah. Dan Apabila Bintang-bintang jatuh berserakan. Dan Apabila Lautan meluap, Dan Apabila Kubur-kubur dibongkar" (QS 82:1-4). 

Penggambaran Kiamat sebagai hancurnya sistem alam material ini merupakan kemestian alamiah bahwa segala sesuatu ada batas akhirnya. Sebagaimana para saintis membuktikan bahwa telah banyak tata-tata surya lainnya di alam semesta ini yang telah mengalami Kiamat. Namun pelukisan Kiamat dalam pola ini sekali pun sebagai peristiwa dahsyat yang pasti terjadi bukanlah hakikat Kiamat yang sesungguhnya. 

Kedua, Kiamat dimaknai sebagai ditegakkanya manusia dihadapan ketentuan Allah dan manusia sampai pada perjalanan akhir dari proses penyempurnaan dirinya serta manusia berada dalam ketundukkan mutlak dari ketentuan Allah SWT: "(yaitu) Hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain, dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah" (QS 82:19). 

"(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan" (QS 40:16). 

Dalam pemaknaan kedua ini Kiamat bukan sekadar hancurnya alam semesta, namun bangkitnya manusia dari Alam Kubur atau Alam Barzakh mereka dan masuk pada Alam Akhirat sebagai Alam yang hakikat kemutlakan Allah SWT betul-betul nyata dan manusia berada dalam realitas ketidakberdayaannya dihadapan kekuasaan mutlak Allah SWT. Peristiwa bangkitnya seluruh manusia pada Alam Akhirat ini setelah manusia mengalami kematian keduanya di Alam Barzakh. Al-Quran menggambarkan bahwa manusia akan dihidukan dua kali dan dimatikan dua kali dan setelahnya mengalami keabadian kehidupan. 

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?" (QS 2:28). 

Bahwa manusia setelah menempuh tahap yang panjang dari perjalanan kehidupannya sampai pada puncak akhir dari perjalanan tersebut. Karenanya Akhirat dinamai sebagai Akhirat karena merupakan tahap Akhir dari perjalanan kesempurnaan kehidupan manusia. 

Namun banyak tahap-tahap yang akan dilalui manusia di Alam Akhirat ini sebelum sampai pada hakikat yang paling murni dan abadi bagi manusia yaitu Surga dan Neraka. Tahap-tahap itu adalah fragmen yang menyaring manusia dengan beragam saringan hingga sampai pada hakikat sejati dirinya. Disitulah terungkap jati diri yang sesungguhnya dari setiap diri manusia. 

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata: "Duhai betapa pendeknya usia dan betapa panjangnya perjalanan." 

Jalaluddin Rumi dalam syairnya berkata: "Duhai seruling nyanyikanlah kembali suara rindumu//Kini pedang cinta telah menebasmu//Engkau telah saksikan semua keindahan sang kekasih//Kini seluruh pakaianmu telah ditanggalkan//Karena hanya sang Kekasih yang boleh menampakkan Dirinya". *** 

Dr Kholid Al-Walid adalah dosen UIN SGD Bandung

 

Mon, 20 May 2019 @11:03

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved