Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (16) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

Tiupan Sangkakala yang dalam istilah al-Qur'an "Nafkh al-Shur" umumnya dimaknai sebagai terdengarnya suara yang Maha Dahsyat yang mematikan segala sesuatu dan kemudian menghidupkannya kembali: 

"Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat" (QS 69: 13,14,15). 

Ada dua tiupan terjadi. Tiupan pertama adalah tiupan penghancuran dan kematian bagi seluruh makhluk yang ada dan tiupan kedua adalah tiupan kebangkitan dan pengumpulan: 

"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)" (QS 39:68). 

Secara spesifik penerjemahan "Nafkh al-Sur" sebagai Tiupan Sangkakala tidaklah terlalu tepat. Al-Qur'an dalam beberapa ayat memberikan pemaknaan tentang "Nafkh al-Sur", yaitu: 

Sebagai tiupan yang sekilas: "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi" (QS 79:13,14). 

Suara yang membangunkan: "(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari ke luar (dari kubur)" (QS 50:42). 

Muhammad Husein dalam kitab "al-Insan" mengibaratkan bahwa dua tiupan tersebut bagaikan komando pd tentara. Komando pertama menyiapkan barisan bagi seluruh tentara dan komando kedua adalah menuju medan perang. Demikianlah "Nafkh al-Sur" sebagai tiupan yang mengguncang sehingga menyebabkan kematian seluruh yang bernyawa dan kemudian menghidupkan kesemuanya lagi dalam forma baru kehidupan. 

Akhirat adalah saat Allah SWT menampilkan kemutlakkan dan keagungan diri-Nya. Tidak ada makhluk apapun yang dapat menampung kehadiran-Nya secara mutlak. Seperti peristiwa yang juga terjadi pada Nabi Musa as: 

"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" (QS 7:143). 

Ketika hakikat Allah yang mutlak hadir maka seluruh selain-Nya menjadi sirna hanya Wajah-Nya semata yang abadi: 

"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan" (QS 28:88). 

Secara sederhana kita bisa mengandaikan ketika cahaya yang maha benderang terpancar maka seluruh cahaya selainnya menjadi sirna namun pada saat yang sama cahaya yang maha benderang itu menjadikan segala sesuatu terang benderang. Demikian juga Tiupan sangkakala adalah tanda Haybah atau Keagungan Allah tampil secara mutlak yang membuat segala sesuatu menjadi Sirna namun pd saat yang sama menampilkan realitas kemutlakkan Allah itu sendiri yang di Alam Dunia dan di Alam Barzakh belum tampil secara sempurna. Karena itu Hari Kiamat disebut juga sebagai "Yawm al-Haqq". 

Ibn Arabi memkanai "Nafkh al-Sur" (Tiupan Sangkakala) sebagai saat dimana Allah menggantikan seluruh forma (bentuk) Duniawi dan Barzakhi dengan cara menanggalknanya (menghancurkannya) dan kemudian menggantikannya dengan forma (bentuk) yang berkesesuain dengan tingkatan kehidupan Akhirat. Karena hanya dengan cara itu manusia mampu memahami dan menyaksikan keadaan kehidupan akhirat yang maha sempurna. Karenanya Allah berfirman: 

"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam" (QS 50:22). 

Imam Ali Zaynal Abidin dalam munajatnya: "Ilahi, ketika Engkau jagakan kami dari kematian kami//Benderangkanlah penglihatan kami//Agar Kami mampu menyaksikan keindahan-Mu//Karena tidak ada keindahan yang lebih indah kecuali menatap keindahan-Mu." ***

Dr Kholid Al-Walid adalah dosen UIN SGD Bandung


Wed, 22 May 2019 @07:33

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved