Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (19) [by Dr Kholid Al Walid]

image

TIMBANGAN atau al-Mizan adalah fase di mana setiap amal baik dan amal buruk seorang hamba dinilai. "Al-Mizan" ditegakkan setelah fase Pengumpulan (al-Hasyr) dan dimulainya proses perhitungann (al-Hisab). Allah SWT berfirman: "Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami" (QS 7:8-9). 

"Al-Mizan" tentu tidak sekedar diterjemahkan dalam bentuk yang ada di dunia akan tetapi satu mekanisme yang Allah ciptakan untuk menunjukkan bukti dihadapan setiap hamba bahwa keadilan Allah ditegakkan: "Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat" (QS 18:105). 

Nilai diri seorang hamba dinilai berdasarkan berat ringannya amal baiknya. Tidak seperti gambaran yang umum terjadi bahwa di satu sisi amal baik dan shaleh, sedangkan di sisi lain amal buruk yang kemudian di timbang mana di antara keduanya yang lebih berat. Amal buruk tidaklah memiliki nilai apa pun untuk ditimbang, bahkan amal buruk dapat menyebabkan habisnya amal-amal baik. 

"Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata" (QS 4:119). 

Bahwa keburukan akan menyebabkan kerugian dan menghabiskan amal-amal baik seseorang. Bahkan,  ada amal buruk yang sekaligus menghapuskan kebaikan seorang hamba: "Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat" (QS 18:105). 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu. Sedangkan kamu tidak menyadari" (QS 49:2). 

Sehingga yang dapat dinilai atau di timbang hanya semata amal baik karena hanya amal baik yang memiliki nilai. Sebagian besar ayat-ayat al-Quran menggunakan kata al-Mizan dalam bentuk Jamak (Plural) al-Mawazin (Timbangan-timbangan). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa yang ditimbang bukan hanya satu hal saja akan tetapi seluruh bagian dan dimensi diri manusia. 

Umur, nikmat, ilmu, rezeki, pendidikan, kesempatan, keluarga, kesehatan, kedudukan, jabatan dan seluruh potensi yang ada pada diri manusia akan di timbang. Tidak akan ada satu hal pun yang telah Allah berikan pada diri manusia kecuali semuanya akan di timbang Allah SWT: 

"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan" (QS 21:47).  Tidak satu pun bagian dari diri manusia kecuali akan ditimbang Allah.

Mimpi Burujerdi

Marhum Burujerdi, seorang ‘Alim dan Arif. Enam bulan sebelum meninggal dunia, sama sekali tidak keluar untuk mengajar seperti biasanya. Bahkan tak seorang pun diizinkan menjumpai dirinya. 

Setelah meninggal dunia, seorang muridnya bertanya pada putra Marhum Burujerdi: "Mengapa ayahmu tak mengajar selama enam bulan ini, apakah beliau sakit?"

Putra beliau menjawab: "Ayahku tidak sakit. Akan tetapi enam bulan lalu ayahku bermimpi. Dalam mimpinya ia berada di padang Mahsyar, padang yang begitu dahsyat dan mencekam. Begitu banyaknya manusia dengan aneka ragam bentuk yang tidak pernah ia saksikan sebelumnya.

Ayahku kemudian berkata: Aku menyaksikan seorang malaikat dengan wujud yang menakutkan dan mencekam, ia bertanya kepadaku: Golongan apa engkau? Sebelum aku menjawab tiba-tiba seluruh bagian tubuhku berbicara: Aku adalah Ulama. Mulailah ia bertanya padaku tentang semua hal, kepada siapa aku ajarkan ilmuku, mengapa aku belum mengamalkan apa yang aku ajarkan, mengapa aku belum mempelajari beragam buku yang aku miliki, mengapa aku menulis ini dan itu. Semuanya ditanya dariku sehingga aku tak berdaya apa pun dan merasa diriku masuk golongan celaka.

Karenanyalah ayahku ingin menutupi segala kekurangannya dan menutup dirinya dari segala sesuatu selama enam bulan ini." 

Semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita semua untuk memperbaiki Mizan kita masing-masing. ***  

Dr Kholid Al Walid adalah Dosen Filsafat di UIN SGD Bandung


Mon, 27 May 2019 @11:15

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved