Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Marifat al-Maad: Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian (20) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

FASE berikutnya dalam proses perjalanan di akhirat adalah proses melewati titian yang dalam istilah al-Qur'an disebut sebagai al-Shirath (Jalan) atau al-Jisr (Jembatan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan (Shirath) ke neraka" (QS 37:22-23). 

Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menciptakan Shirath yang berada di atas neraka. Jembatan di atas neraka jahanam yang licin dan menggelincirkan. Padanya ada tujuh penjagaan. Jarak di antara penjagaan adalah tiga ribu tahun perjalanan, seribu tahun menanjak tinggi, seribu tahun mendatar dan seribu tahun turunan yang curam. Dia lebih halus dari sehelai rambut. lebih tajam dari sebilah pedang dan lebih gelap dari malam yang gulita. Setiap penjagaan terdapat tujuh cabang, setiap cabangnya bagaikan anak panah yang ujungnya tajam. Setiap hamba akan duduk di penjagaan dan akan ditanya padanya tentang perintah Allah." 

Al-Qur'an sekali pun tidak berkonotasi langaung sebagai jembatan yang akan dilewati di akhirat menggambarkan beberapa jenis Shirath. Shirath al-Mustaqim (Jalan yang lurus) (QS 1:6), Shirath Rabbika (Jalan Tuhanmu) (QS 6:126), Shirath al-'Aziz (Jalan yang Agung) (QS 14:1), Shirath Sawiya (Jalan yang lapang) (QS 19:43), Shirath al-Hamid (Jalan yang Terpuji) (QS 22:24), Shirath al-Jahim (Jalan ke Neraka Jahim) (QS 37:23), dan Shirat Allah (Jalan Allah) (QS 42:53). 

Sebagian memaknai bahwa jalan yang lurus pada saat yang sama merupakan jalan yang mulia, jalan yang terpuji, jalan Allah dan jalan yang agung. Jalan lurus sesungguhnya adalah sistem kehidupan yang Allah turunkan bagi manusia untuk menuntun manusia menuju kesempurnaan dan keridhaan Allah. Sistem kehidupan seperti inilah yang telah ditempuh oleh para Rasul, Nabi dan kekasih-kekasih Allah. 

"Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat" (QS 1:7). 

Ada pun keadaan jalan dan jembatan yang kelak akan dititi oleh manusia di akhirat pada hakikatnya adalah wujud dari jalan yang telah dititi oleh manusia selama kehidupan di dunia ini.  Rasulullah Saw mengisyaratkan bahwa Shirat yang akan ditempuh manusia kelak di akhirat  memiliki dua karakteristik: "Sesungguhnya Shirat itu lebih halus dari sehelai rambut dan lebih tajam dibanding sebilah pedang." 

Dua karakter Shirath ini, yaitu lebih halus dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang menurut Mulla Sadra adalah kesempurnaan dua hal pada diri manusia yaitu Keyakinan dan Akhlak. Sekiranya manusia memiliki keyakinan yang benar dan Akhlak yang mulia maka dia berjalan di atas "Shirat al-Mustaqim". 

Al-Ghazali dalam kitabnya al-Madnun al-Saghir menyebutkan: "Al-Shirath al-Mustaqim, adalah ungkapan keseimbangan di antara akhlak yang saling bertentangan. Sifat Dermawan merupakan hasil keseimbnahan di antara kikir dan boros, sifat Takwa merupakan keseimbangan di antara dorongan hawa nafsu yang menggebu dan hilangnya dorongan hawa nafsu." 

Shirath yang ditempuh oleh manusia selama.kehidupan di dunia inilah yang kemudian akan muncul di ahkirat sebagai jalan dan jembatan yang akan dilewatinya, karena Akhirat tidak lain merupakan alam balasan atas apa yang telah dilakukan dan dilewati manusia di dunia. Sehingga keadaan titian yang akan ditempuh di akhirat nantinya bergantung pada cara kehidupan manusia di dunia. Karenanya Nabi Muhammad Saw bersabda: 

"Kelak akan tersaksikan pada hari kiamat orang yang melewati Shirath dengan cahaya yang lebih benderang dari matahari, ada yang  cahayanya bagaikan kilat, ada yang cahayanya bagaikan cahaya rembulan, ada yang cahayanya bagaikan cahaya lentera, ada yang cahayanya bagaikan cahaya lilin hidup dan mati dan ada yang gelap tanpa cahaya. Mereka yang cahayanya benderang berjalan dengan cepat melewati shirath bahkan ada yang seperti kilat sdengankan mereka yang cahayanya redup tertatih-tatih melewati shirath sdengankan mereka yang tak memiliki cahaya tak mampu berjalan dan tergelincir ke dalam neraka Jahannam." 

Saat ini kita tengah membuat jalan dan jembatan kita di akhirat. Semoga kita berada di Shirat al-Mustaqim sehingga kelak Allah menghadirkan cahaya yang benderang ketika kita tengah meniti jembatan di antara neraka dan surga. *** 

Dr Kholid Al Walid adalah dosen UIN SGD Bandung


Mon, 27 May 2019 @11:34

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved