Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Marifat al-Maad (21) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

SYAFAAT dimaknai para Ahli bahasa Arab sebagai pertolongan yang diberikan kepada seseorang agar mendapatkan manfaat baik duniawi maupun ukhrawi atau melepaskan kesulitan yang terjadi pada diri seseorang. Dalam makna ini Al-Quran menggunakan kata Syafaat baik untuk hal baik maupun untuk hal yang buruk.

"Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS 4:85).

Sebagian menolak adanya Syafaat ini kelak di akhirat dengan dasar ayat al-Qur'an: "Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong" (QS 2:48). 

Namun patut disadari bahwa ayat tersebut bersifat umum dan pada sebagian ayat yang lebih khusus dijelaskan adanya  pengkhususan untuk pemberi Syafaat yaitu mereka yang mendapatkan izin dari Allah: 

"Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu" (QS 34:23). 

"Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya" (QS 21:28). 

Beberapa ayat lain meneguhkan pengkhususan ini dan ulama umumnya meyakini adanya syafaat tersebut. Rasulullah Saw bersabda: "Akulah yang pertama yang memberikan Syafaat di surga" (HR Muslim) dan "Syafaatku meliputi umatku yang melakukan dosa besar" (HR Bukhari). 

Syafaat sesungguhnya merupakan manifestasi nama Allah al-Ghofur (Yang Maha Pengampun) bahwa Allah menampilkan ampunannya setelah seorang hamba melewati fase-fase yang berat akibat dosa-dosanya selama ini.  Tentu saja bahwa Syafaat terbatas kepada mereka yang beriman namun karena dosa-dosanya yang banyak menyebabkan mereka mengalami kesulitan yang sangat berat. Sedangkan orang-orang Kafir karena mereka menutupi substansi dirinya dari kebenaran maka tidak ada potensi bagi dirinya untuk dapat menerima syafaat. 

Seperti air hujan yang menetes hanya dapat ditampung sekiranya gelasnya terbuka namun sekiranya tertutup maka gelas tersebut tak akan mampu menampung air hujan yang tercurah. Demikian juga Syafaat sekiranya manusia tersebut tertutupi hatinya karena kekafirannya maka dirinya tak akan mampu menggapai syafaat. 

Bagi seorang mukmin pendosa, derita yang dilewati dalam fase-fase yang panjang sebelumnya sudah merupakan siksaan yang luar biasa. 

Ada juga hadis yang menunjukkan bahwa Syafaat terjadi disetiap fase yang dilewati seorang mukmin pendosa ketika mereka hampir-hampir tak mampu melewatinya.

Dari Anas ra yang bertanya pada Rasulullah saw: "Apakah engkau akan memberikan Syafaat padaku Ya Rasulullah?" Rasulullah saw berkata: "Akulah pemberi Syafaat." Aku bertanya lagi: "Di mana kudapatkan Syafaatmu Ya Rasulullah?" Rasul menjawab: "Mintalah Syafaatku ketika kalian pertama meniti Shirath." "Jika aku tak berjumpa dengannmu di Shirath?" Rasul berkata: "Mintalah padaku ketika kalian di Timbang (mizan)." "Kalau aku tak berjumpa dengannmu di Mizan?" Rasul menjawab: "Maka carilah aku di Telaga, sesungguhnya aku tidak akan lalai dari tiga tempat ini." 

Ada beragam jenis Syafaat, yaitu Syafaat Allah kepada hamba-hamba-Nya, Syafaat Rasulullah Saw kepada ummatnya, Syafaat Ahlul Bait Nabi Saw kepada para pecintanya, Syafaat ahli surga kepada ahli neraka, Syafaat Syahid kepada keluarganya, Syafaat penjaga al-Quran kepada keluarganya, Syafaat anak yang shaleh bagi kedua orangtuanya. 

Ada beragam lagi kelompok yang diperkenankan Allah untuk memberikan syafaat kelak. Bahwa adanya Syafaat memberikan harapan bagi seorang hamba akan kasih sayang Allah SWT dan amal-amal baik yang dilakukan seorang hamba tidaklah memadai baginya untuk melewati semua tahap yang berat di akhirat kecuali melalui syafaat yang Allah berikan. 

Rasulullah saw bersabda: "Tidakkah kalian ingin aku kabarkan kata-kata yang pertama diucapkan Allah terhadap orang-orang beriman? Para sahabat berkata: "Kami menginginkannya Ya Rasulullah." Rasulullah kemudian berkata: "Sesungguhnya Allah berkata bagi orang-orang yang beriman. Apakah kalian mencintai perjumpaan dengan-Ku?" Mereka berkata: "Ya kami mencintainya duhai Tuhan kami." Allah kemudian bertanya lagi: "Apa yang membawamu pada kecintaan itu?" Mereka berkata: "Ampunan-Mu, Kasih sayang-Mu dan Keridhaan-Mu." Allah kemudian berkata: "Sungguh Aku mewajibkan kasih sayang-Ku pada kalian." 

Ya Ilahi

Banyaknya nikmat-Mu justru melalaikan kami

Panjangnya usia justru menambah catatan dosa-dosa kami

Jika Engkau hukum kami karena keingkaran maka itu hal yang layak bagi kami

Namun kami bergantung dan berharap pada Kasih-Sayang dan Maghfirah-Mu karena sifat itulah yang paling layak untuk-Mu

Sungguh Azab-Mu sangat menyiksa kami tapi Kasih-Sayang-Mu adalah hal yang mudah bagi-Mu

Janganlah Engkau siksa kami dan masukkanlah kami di antara hamba-Mu yang beruntung mendapatkan Syafaat-Mu

Ya Arhaman Rahimin ***

 

Dr Kholid Al Walid adalah dosen UIN SGD Bandung

Mon, 27 May 2019 @11:44

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved