Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Marifat al-Maad (22) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

Al-Quran mengisyaratkan adanya tempat yang tinggi yang menjadi pembatas antara surga dan neraka. Di tempat itu para Nabi, Rasul dan para Kekasih Allah berada mereka mengenali keadaan mukmin dan Kafir, Ahli Surga dan Ahli Neraka. Di samping kanan mereka adalah orang-orang mukmin yang masih ditangguhkan masuk surga karena dosa-dosa dan disamping kiri mereka orang-orang munafik yang zhahir mereka menunjukkan sebagai orang yang beriman tapi bathin mereka penuh kemunafikan. Pada mereka disaksikan dua keadaan surga dan neraka. Tempat itu Allah sebut sebagai "al-'Araf". 

"Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka" (QS 7:46). 

Pada kondisi yang menakutkan ini orang-orang munafik ini mengkhawatirkan keadaan mereka dan meminta pertolongan pada orang-orang yang beriman. 

"Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa" (QS 57:13). 

Hijab yang menjadi pembatas bagaikan dua keping mata uang yang di satu sisi luar merupakan azab dan di sisi dalam merupakan rahmat. Bahwa Surga dan kenikmatan hanya dapat dicapai oleh mereka yang bersih bathinnya sedangkan mereka yang rusak bathinnya maka mereka mendapatkan Azab.

Para Arif memaknai juga bahwa bathin dari Azab sesungguhnya adalah Rahmat, mengapa? Karena dengan Azab itulah manusia kembali murni dan suci untuk menggapai kedudukan di sisi Allah. Seperti besi yang telah penuh berkarat untuk kembali murni maka besi itu harus di masukkan kedalam api yang panas menggelora demikian pula keadaan orang-orang kafir dan munafik karena semua hamba pada hakikatnya akan kembali kepada Allah baik dalam jalan yang di ridhoi maupun jalan yang dimurkai: 

"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya." (QS 84:6) 

Di tempat yang tinggi itu para  penghuni al-'Araf mengetahui dengan jelas keadaan penghuni surga maupun keadaan penghuni neraka. Orang-orang mukmin memohon untuk segera masuk ke dalam surga dan ketika mereka memalingkan pandangan ke neraka mereka menyaksikan orang-orang yang zalim. 

"Dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum". Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu" (QS 7:46-47). 

Hal ini hujjah bagi Allah untuk mukmin yang berdosa karena kelemahan iman mereka atas balasan Allah dan bagi Munafik yang selama ini menampilkan jubah keimanan namun mereka memiliki penyakit di hati mereka. 

Bagi orang mukmin mereka berbahagia karena mereka mengenali di tempat yang tinggi dan agung itu ada manusia-manusia mulia yang akan memberikan pertolongan bagi mereka untuk dapat masuk kedalam surga sedangkan bagi orang-orang munafik mereka menderita karena dahulu memusuhi Nabi, Rasul dan Kekasih Allah dan menyadari keadaan mereka yang segera masuk ke neraka. 

Imam Ja'far al-Shadiq berkata: "Al-'Araf bukit yang berada di antara surga dan neraka. Seluruh Nabi dan seluruh Khalifah akan berhenti ditempat itu bersama para pendosa di zamannya masing-masing, sebagaimana berhentinya panglima perang bersama dengan pasukannya yang lemah. Para Khalifah itu berkata kepada para pendosa lihatlah saudara-saudara kalian yang menjaga diri mereka dalam kebaikan mereka telah mendahului kalian masuk ke dalam surga sehingga para pendosa itu mengucapkan salam untuk mereka para penghuni surga. Kemudian para Nabi dan Khalifah itu memberikan syafaat pada mereka dan berkata: masuklah kalian ke dalam surga tanpa kekhawatiran dan ketakutan". 

Khalifah yang dimaksud Imam Ja'far adalah para kekasih Allah yang terpelihara diri mereka dari beragam keburukan dan menjadi pembimbing ummat manusia di setiap zaman sebagai washi Rasulullah Saw. 

Al-'Araf selain dimaknai sebagai tempat yang tinggi sebagian 'Arif memaknai sebagai tempat pengenalan (A'rafuu) bahwa di tempat itu cahaya keimanan dikenali  bersama manusia yang selama ini membawa cahaya di antara manusia dan membimbing manusia untuk mengenali hakikat sumber dari segala cahaya: 

"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS 5:15-16) 

Hanya hati yang masih memiliki cahaya yang mampu mengenali cahaya kemuliaan yang ada pada para Nabi, Rasul dan Kekasih Allah. Dan begitupun sebaliknya bahwa Nabi, Rasul dan Kekasih Allah mengenali manusia atas cahaya yang ada di hati mereka masing. 

Al-Ghazali dalam Mukasyafah al-Qulub mengisahkan bahwa seorang ulama bermimpi menyaksikan peristiwa di al-'Araf ketika orang-orang menyalami Rasulullah Saw dan Rasulullah Saw memeluk mereka bertanya keadaan mereka dan memberikan Syafaat untuk mereka. Namun Rasulullah Saw sama sekali tak memandang ulama ini. Hingga ulama ini memberanikan diri untuk mendekati Rasulullah Saw dan bertanya: "Ya Rasulullah mengapa engkau sama sekali tak memanggilku, apakah engkau marah padaku?" Rasulullah Saw menjawab: "Aku tidak marah padamu namun aku tidak mengenalimu." 

Ulama itu kemudian berkata: "Bagaimana mungkin engkau tak mengenaliku bukankah telah sampai kepada kami hadismu yang berkata: Kenalmu kepada ummatmu lebih kenal dibanding seorang ibu kepada anaknya." Rasululah Saw menjawab: "Benar, tetapi kenalku kepada ummatku sesuai dengan bilangan shalawat yang mereka sampaikan kepadaku." 

Ya Allah kenalkan kami kepada-Mu sekiranya kami tak mengenal-Mu bagaimana mungkin kami akan mengenal Rasul-Mu. 

Ya Allah kenalkan kami pada Rasul-Mu sekiranya kami tak mengenal Rasul-Mu bagaimana mungkin akan mengenal Hujjah-Mu. 

Ya Allah kenalkan kami pada Hujjah-Mu sekiranya kami tak mengenal Hujjah-Mu maka tersesatlah kami dari agama-Mu. Janganlah Engkau sesatkan kami setelah Engkau berikan petunjuk bagi kami. *** 

Dr Kholid Al Walid adalah dosen STFI Sadra Jakarta

Mon, 27 May 2019 @11:52

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved