Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Marifat al-Maad (23) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

NERAKA merupakan tempat pembalasan (Azab) Allah bagi keburukan yang dilakukan hamba yang ingkar. Dalam al-Qur'an istilah yang umum digunakan adalah kata "al-Nar" (Api). Namun, selain itu ada tujuh istilah lain yang digunakan al-Qur'an yang kerap juga disebut sebagai tujuh jenis Neraka, yaitu "al-Jahiim" (QS 5:10), "al-Hawiyyah" (QS 4:145), "al-Jahannam"(QS 17:9) "al-Ladza"(QS 92:14), "al-Saqar"(QS 74:42-46), "al-Sair" (QS 35:68) dan "al-Hutamah"(QS 104:4-8). Ketujuh istilah ini menunjukkan jenis dan golongan siksa yang berbeda-beda kadang juga disebut sebagai pintu-pintu Neraka. 

Neraka merupakan puncak perjalanan keingkaran manusia. Dan penggambaran al-Quran terhadap Neraka menjelaskan tentang keadaan yang penuh siksa dan sangat ditakuti manusia. Alam Akhirat adalah alam akhir dari sebuah proses kesempurnaan maka sempurnanya derita tanpa kenikmatan sedikitpun juga terwujud di akhirat. Kondisi atau ruang bagi kesempurnaan derita tersebut tidak lain adalah neraka. 

Para Sufi dan 'Arif memaknai Neraka sebagai Tajalli atau manifestasi mutlak dari Nama-nama Jalaliyyah (Keperkasaan) Allah seperti : "al-Ghadab", "al-Muntaqim", "al-Jabbar", "al-Qohar" dsb. 

Orang-orang yang Kafir, Fasiq, Zalim, Munafik dan berlaku buruk maka tempat yang disediakan Allah bagi mereka tidak lain adalah Neraka karena hanya tempat itulah yang dapat mensucikan jiwa mereka kembali, tempat itu pula yang berkesesuaian dengan keadaan diri mereka. 

Penggambaran al-Quran tentang neraka ini cukup kompleks sebagai upaya al-Qur'an untuk mengingatkan akan Keadilan Allah atas setiap keburukan yang dilakukan. 

Dalam riwayat disebutkan bahwa pernah Jibril as datang kepada Rasulullah Saw dalam wajah yang muram dan sedih. Rasulullah Saw bertanya: "Wahai Jibril apa yang telah membuatmu sedih?" Jibril as menjawab: "Bagaimana aku tidak sedih, sekarang api neraka telah ditiup. Seribu tahun dinyalakan hingga memerah. Kemudian seribu tahun lagi hingga memutih dan seribu tahun lagi hingga hitam, gelap dan pekat. Jika satu tetes saja jatuh ke dunia maka seluruh dunia hangus karenanya." 

Neraka bagi sebagian pemikir sesungguhnya adalah efek dari setiap keburukan yang dilakukan manusia. Muhammad Iqbal memberikan gambaran: 

"Surga-Neraka adalah keadaan bukan tempat. Al-Qur'an memberikan gambaran bahwa kondisi itu dihasilkan oleh karakter manusia. Neraka   dalam ungkapan al-Qur'an adalah api yang dinyalakan Allah yang bersumber dari api hati sebagai perwujudan menyakitkan atas kegagalan seseorang sebagai manusia." 

Karenanya bahan bakar yang menjadi sumber api di dalam Neraka tidak lain adalah diri manusia itu sendiri: 

"Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir" (QS 2:24).

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (QS 66:6). 

Al-Qur'an ketika memberitakan Neraka memberikan gambaran beragam sisi yang sama sekali tak ada dimensi kelembutan dan kesenangan. Di antara pola penggambaran tentang keadaan Neraka yang mencekam: 

Pertama, penjaga neraka yang menakutkan. "Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS 66:6). 

Kedua, jenis makanan penghuni Neraka. Di antaranya Al-Zaquum, "Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut seperti mendidihnya air yang amat panas" (QS 44:43-46); Al-Dhori' (pohon yang berduri), "Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar" (QS 88:6-7); Al-Ghisliin, “Dan tiada (pula) makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa" (QS 69:36-37). 

Ketiga, jenis minuman penghuni neraka. Di antaranya, Al-Hamiim, "Bagi mereka disediakan minuman air yang mendidih" (QS 6:70); Al-Shodiid, “Dan di hadapannya ada neraka Jahannam dan dia akan diberi minum dengan air nanah" (QS 14:16); Al-Ghosaaq, "Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah"(QS 78:24-25). 

Keempat, pakaian penghuni neraka. "Pakaian mereka adalah dari cairan aspal dan muka mereka ditutup oleh api neraka" (QS 14:50). 

Kelima, alas penghuni neraka. "Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim" (QS 7:41). 

Keenam, siksaan penghuni neraka. “Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu" (QS 9:35); dan “Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka): "Rasakanlah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan" (QS 39:55). 

Ketujuh, kondisi penghuni neraka. “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup" (QS 20:74); dan “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (QS 4:56); dan "Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala" (QS 69:30-31). 

Kedelapan, azab yang terus meningkat. “Setiap kali nyala api Jahannam itu akan  padam, Kami tambah lagu nyalanya bagi mereka" (QS 17:97). 

Kesembilan, penyesalan di neraka. "Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun" (QS 35:37). 

Beragam lagi berita al-Qur'an yang memberikan gambaran keadaan yang sangat dahsyat dan menakutkan serta sama sekali tiada ruang bagi kesenangan. Neraka adalah wujud derita yang paling hakiki. 

Penggambaran al-Qur'an tentang Neraka bagi orang-orang kafir adalah ancaman dan bagi orang-orang beriman peringatan dan upaya melembutkan hati. 

Datang seseorang kepada Imam Ja'far as dan berkata: "Wahai putra Rasulullah Saw. Lembutkanlah hatiku yang keras!" Imam Ja'far berkata as: "Ingatlah akan neraka karena mengingatnya akan melunakkan hati." 

Allahumma inni A'uzubika min Sakhotika wa al-Naar. Ya Allah Aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan Azab Neraka. *** 

Dr Kholid Al Walid adalah dosen STFI Sadra Jakarta

 

Thu, 30 May 2019 @17:11

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved