Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Marifat al-Maad (26) [by Dr Kholid Al-Walid]

image

Kenikmatan Surga digambarkan al-Quran dalam pola metaforis mengikuti kenikmatan-kenikmatan material sehingga dapat dipahami sekalipun kalangan awwam:

Narasi al-Qur'an tentang kenikmatan surgawi menggambarkan sungai-sungai yang mengalir dan airnya memberikan kenikmatan untuk diminum terdiri dari sungai susu, khamr dan madu (QS 47:15) terdiri atas air Kafur (QS 76:5) air Tasnim (QS 83:27-28), Mata air Salsabil (QS 76:18), Telaga al-Kautsar (QS 108:1) meminum air Zanjabil (Jahe) (QS 76:17) menikmati buah-buahan dan istri yang suci (QS 2:25) makan menggunakan piring emas (QS 43:71) menikmati kebun buah dan kebun anggur (QS 78:31-34)Memakai pakaian sutera dan perhiasan dari perak (QS 76:21), dilayani bidadari (QS 56:22-23) dan anak-anak yang berwajah menarik (QS 56:17), wajah yang berseri-seri (QS 75:22), sebagai perutusan yang terhormat (QS 19:85).

Narasi al-Quran tentang kenikmatan surgawi menunjukkan bahwa surga sebagai tempat curahan kenikmatan dari Allah bagi para penghuninya. "Tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan" (QS 32:17). 

Tentu banyak fenomena surga yang tidak dapat dijelaskan secara literalis seperti fenomena "Huur al-Ayn" yang diterjemahkan dengan istilah bidadari sebagai perempuan yang sangat cantik. Sebagian Mufassir mencoba memaknai sebagai istri-istri shalehah yang mewujud sebagai wujud perempuan yang sangat menawan sebagai efek kesalehannya selama di dunia. 

Penggambaran kenikmatan Surga bukan hanya sebagai upaya memberikan motivasi bagi manusia untuk tunduk dan taat namun juga janji Allah untuk mengantarkan manusia pada puncak kesempurnaan diri. Berbeda halnya dengan Neraka, Surga merupakan hakikat substantif yang memang dituju oleh setiap manusia karenanya surga merupakan hakikat Abadi, Khulud dan Dar al-Qarar. 

Kebahagiaan yang mutlak dan tak berbatas terwujud di surga karena surga adalah hakikat kebahagiaan itu sendiri. 

Dalam hadist Qudsi Allah berfirman: "Padaku ada 100 tetes Rahmat, satu tetes Aku bagikan di dunia sehingga dengannya seluruh makhluk-Ku di dunia merasakan kenikmatan duniawi dan Aku simpan 99 tetes lainnya untuk Aku persembahkan bagi hamba-hamba-Ku penghuni surga" (Kalimatullah Hiya Ulya). 

Karenanyalah Allah menyeru kita semua: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa" (QS 3:133). 

Beragam ujian dan derita yang Allah turunkan di dunia adalah upaya untuk membersihkan jiwa manusia hingga manusia betul-betul sampai pada kemurnian dan kesempurnaannya hingga mampu mempersepsi seluruh kebahagiaan tersebut: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar" (QS 3:142). 

Ketika penduduk melihat Majnun mebiarkan luka-luka di tubuhnya  mengeluarkan darah dan tidak berusaha menyembuhkannya, mereka bertanya "Hei Majnun mengapa engkau biarkan kepedihan luka-luka meliputi tubuhmu ?" Majnun berkata "Akan aku biarkan rasa perih luka ini setiap saat meliputiku karena hanya dengan luka ini aku akan merasakan kelembutan dan kebahagiaan usapan tangan Layla yang membalut lukaku, semakin perih lukaku semakin lembut tangan Layla akan mengusapku." 

Ali bin Abi Thalib berkata: "Hanya dengan kesabaran menahan derita dalam melewati ujian Allah manusia dapat menikmati kebahagiaan dan kenimakatan surga." 

Semoga setiap ketundukkan dan kesabaran kita melewati ujian mengantarkan kita pada keindahan surga. *** [Dr Kholid Al Walid, dosen UIN Bandung]


 

Sun, 2 Jun 2019 @09:47

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved