Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Khutbah Idul Fitri 2019: Syukur dan Sabar [by Miftah Fauzi Rakhmat]

image

Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad.

Asyhadu an laa ilaaha illallah, wahdahu laa syariika lah wa asyhadu anna Sayyidana Muhammadan, ‘abduhu wa rasuluh, laa nabiyya ba’dah. 

Alhamdulillah, alhamdulillahilladzi hadaana. Alhamdulillahilladzi adhaka wa abka. Alladzi amaata wa ahya. Alladzi aghna wa aqna. Alladzi khalaqal basyaraz zawjaini minadz dzakari wal untsa liyabuluwakum ayyukum ahsanu ‘amala. 

Wa shallallahu ‘ala nabiyyihi nabiyyil huda, Sayyidina Muhammadinil Mushtafa, wa ‘ala aalihi ahlis shidqi wal wafa. Allahumaj’alna min manittaba’ahum bi ihsanin ilaa yawmil jazaa. 

Allahu akbar 7 x

Wa lillahi al-hamd

 

KHUTBAH PERTAMA

Hadirin dan hadirat, ‘aaidin dan ‘aaidat, faaizin dan faaizat. Bersabda Baginda Nabi besar Muhammad Saw: “Al-Iimanu nishfaan: nishfun fis shabri. Wa nishfun fis syukri.” Iman itu ada dua bagian. Setengahnya pada sabar. Setengahnya lagi pada syukur. (Tuhaf al-‘Uqul 47)

Fajar hari raya menyongsong kita, dalam ungkap syukur pada Sang Pencipta. Allah subhanahu wa ta’ala. Syukur kita pada Dia yang mengaruniakan segalanya. Syukur kita pada Dia yang anugerahnya tiada tara. Syukur kita pada Dia yang pemberiannya semata adalah cinta. 

Shalawat dan salam kita mohonkan, agar senantiasa dilimpahcurahkan, pada kekasih teramat dirindukan, Baginda Nabi Muhammad Saw yang dimuliakan, keluarganya yang disucikan, dan para sahabat teladan sepanjang zaman. 

Allahu akbar Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd. 

Pagi ini kita berkumpul di tanah lapang, kita bersujud membesarkan nama Tuhan, merebahkan diri di hadapan keagunganNya, mengakui seluruh limpahan nikmatnya. Tahukah kita, bersama syukur kita, pada saat yang sama juga ada permohonan ampunan kita? Ada sesal tak terkira. Ada sesal yang dapat berubah menjadi karunia. 

Islam sungguh adalah agama yang istimewa. Islam mengajarkan untuk selalu melihat kebaikan dalam setiap yang ada. Islam melazimkan kita untuk bersyukur atas semua yang kita terima: baik saat kita bersuka, ataupun raut muka kecewa. Al-Qur’an Surat an-Najm mengisahkan karunia Tuhan itu. 

Wa annahu huwa adhhaka wa abka. Wa annahu huwa amaata wa ahya. (QS. An-Najm [53]: 43-44) 

Dan sesungguhnya, Dialah yang menghidupkan, Dialah yang mematikan. Dan sesungguhnya, Dialah yang membuat kita tertawa, Dia juga yang membuat kita meneteskan air mata. Kita mungkin mengira, kedua hal itu berlawanan. Hidup dihadapkan dengan kematian. Dan tawa bertolak belakang dengan tangisan. Tetapi tidak, ternyata pujian pada Tuhan, dalam semua keadaan itu kita sampaikan. Dalam kematian, kita sampaikan pujian, karena Allah Ta’ala hadirkan pahala dari kesabaran. Dalam tangisan, kita sampaikan syukur karena Dia masih mempercayakan pundak kita menanggung beban dan ujian. Sungguh, inna ma’al ‘usri yusran, bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan.

Demikianlah ketika kini bulan suci meninggalkan kita. Ada rasa sedih, ada rasa haru, ada duka bersamaan dengan kegembiraan menyambut hari raya. Mari kita ucapkan selamat tinggal kepadanya. Selamat jalan waktu terbaik yang menyertai kami. Selamat jalan saat-saat sahur yang diberkati. Selamat jalan berkumpul bersama sanak famili. Selamat jalan bacaan al-Qur’an yang menghiasi. Selamat jalan wahai sahabat, yang menahan kami dari amarah, yang mencegah kami dari laku salah. Selamat jalan wahai sahabat, yang kami rindukan sebelum kedatangannya. Yang kami tangisi sebelum kepergiannya. Ya Allah, kami bersaksi. Kami adalah pecinta bulan ini. Ia telah hadir dengan sebaik-baik karunia. Kiranya ia berkenan menyaksikan kami melepasnya dengan sebaik-baik takwa.

Sungguh, siapa saja yang melepas bulan ini, dan tak ada perubahan pada dirinya, bulan suci belum meninggalkan jejak dalam hidupnya.

Hadirin dan hadirat, ‘aaidin dan ‘aaidat. Karunia Allah Ta’ala selalu indah. Maa ra’aytu illa jamiilan, ucap seorang perempuan tegar keturunan Rasulullah Saw di tengah kecamuk derita. Saudaranya terbunuh, keluarganya dibantai. Anak-anak dan perempuan ditawan. Tapi apa jawabnya melihat semua itu? Sungguh, aku tidak melihatnya kecuali keindahan. Bagaimana bisa, bersyukur dalam derita?  Bagaimana mungkin sesal jadi karunia? 

Sayyidina Ali karramallahu wajhah menasihati sahabatnya untuk tidak segera mengambil kesimpulan. Katanya: Ada yang putih yang kauhindari, dan ada yang hitam yang kaurindukan. 

Putih tak selamanya kita cari. Hitam ternyata tak selamanya kita hindari. Apa itu? Beliau melanjutkan: Putih yang kauhindari adalah kain kafan. Dan hitam yang kaurindukan adalah Ka’bah Baitullah, rumah Tuhan. 

Karunia Allah Ta’ala selalu indah. Sungguh, karunia itu selalu indah. Bahkan kini setelah bulan suci Ramadhan dilepaskan dari kita. Seperti kisah dua orang yang masuk gua, semuanya gelap tanpa cahaya. Mereka berjalan di atas batu kasar dan tajam. Seorang mengambilnya, yang lain mengabaikannya. Ketika keluar, tahulah mereka, batu kasar dan tajam itu intan permata. Yang tak mengambil menyesal atas kesempatan yang hilang percuma. Yang mengambil pun menyesal, karena tak memanfaatkannya dengan sempurna. 

Seperti itu jugalah bulan suci Ramadhan. Mari melepas bulan ini dengan penyesalan. Kita menyesal, tak menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Kita menyesal, kesempatan beramal tak termanfaatkan sempurna. Kita menyesal masih juga puasa kita, tak lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Kita menyesal, berpuasa tapi berbuka dalam pesta. Dan kita melupakan saudara kita yang menderita. Kita menyesal, puasa tak membuat kita mendoakan mereka: yang terusir dari rumahnya, yang tak bisa mengobati keluarganya, yang tak bisa berhari raya bersama. Kita menyesal puasa tak juga mendekatkan kita dengan saudara seagama: yang di Yaman, di Bahrain, atau Palestina. Kita menyesal puasa kita tak menghadirkan manfaat untuk sesama anak bangsa. Tak membuat negeri lebih rukun bersaudara.  

Tapi semua sesal kita, dapat berubah jadi karunia. Bagaimana bisa? Al-Qur’an dengan indah mengisahkannya. Illaa man taaba wa aamana wa ‘amila ‘amalan shalihan faulaaika yubaddilullahu sayyiaatihim hasaanaat. Wa kaanallahu ghafuuran rahiima. (QS. Al-Furqan [25]: 70) 

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; merekalah yang Allah Ta’ala ganti keburukan mereka dengan kebaikan. Sungguh, adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Ayat ini mengisahkan tentang mereka yang putus asa. Mereka yang hidupnya mengumpulkan sesal demi sesal tak terkira. Tentang mereka yang bersalah, yang banyak dosa. Tentang mereka yang bertanya, masih adakah pintu keselamatan tersisa? Sebelum malakal maut membentangkan sayap di atas kepala, dan membuka jendela menuju alam keabadian yang menunggu di seberang sana. 

Yubaddilullahu sayyiaatihim hasanaat. Allah Ta’ala mengubah setiap keburukan dengan kebaikan. Bukan hanya menghapuskan.  Bukan menghilangkan. Tetapi menggantinya dengan sebaik keadaan. Bayangkan bila ada sejuta kemaksiatan, dan ia berubah menjadi sejuta kemaslahatan. Betapa pengasihnya Tuhan kita. Alangkah luas kasih dan sayangNya. 

Lalu apa syaratnya? Taaba wa aamana wa ‘amila ‘amalan shaliha. Bertaubat, beriman, dan beramal shalih. Perhatikan bagaimana kata taubat mendahului kata iman. Seakan-akan Allah Ta’ala menyeru bahkan umat yang meragukan keimanan mereka. Pintu taubat masih terbuka. Allah Ta’ala memanggil bahkan mereka yang kebingungan, yang bimbang dalam keyakinan, yang tak yakin dengan jalan tujuan, kasih sayang Allah meliputi semuanya. 

Taubat adalah pintu kebaikan itu. Syaratnya sederhana, meski teramat beratnya: tak lagi mengulangi dosa. Selamanya. Itulah taubatan nashuha. Sayyidina Ali menjelaskannya: Anjahus syafa’ah, at-taubah. Syafaat (yang sudah pasti) kaumiliki, adalah bertaubat. Syafa’at para kekasih Allah terikat syarat dan ketentuan. Taubat adalh syafaat yang bisa kaugenggam di tangan. Dengan tak lagi mengulangi setiap keburukan, maka Allah Ta’ala akan mengganti jejak gelap terdahulu dengan cahaya kebaikan. Lihat, betapa pengasihnya Tuhan kita. Betapa karunianya teramat indahnya. 

Aquulu qawli hadza wa astaghfirullaha lii wa lakum.

 

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillah, alhamdulillahilladzi ja’ala min a’yaadihi, ‘idil fitri wal adha. Wa shalallahu ‘ala habiibihi khairil anbiya, wa alihi atqal awshiya, wa ashabihi wa manittaba’ahum bi ihsanin ilaa yawmil huda. 

Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Sayyidana Muhammadan Rasulullah. Allahu akbar 5 x wa lillahil hamd.

Hadirin dan hadirat, ‘aidin dan ‘aidat. Faaizin dan Faaizat. Hari raya ini, marilah mengumpulkan sesal. Mari jadikan itu sebaik-baik bekal. Dengan bertaubat dan berniat untuk tidak lagi mengulanginya. Allah Ta’ala menambahkan syarat yang ketiga, agar keburukan itu berubah menjadi kebaikan: yaitu beramal salih, menjaga diri dalam kesalehan, sebagaimana bulan suci telah mendidik kita. 

Mari lihat kiri dan kanan kita. Dosa kita bukan hanya pada Allah Ta’ala. Ada hak sesama manusia. Mari kita kenang segalanya. 

Mari kita ingat ketika orangtua memanggil kita dan kita tidak bersegera menjawab seruan. Sekarang yang ada hanya penyesalan. Mungkin sebagian mereka sudah terbaring dipeluk duli, melangkah di alam keabadian. Bagaimana bertaubat, bagaimana memohonkan maaf mereka? Kenanglah saat kita meninggikan suara di hadapan mereka. Saat pinta kita didahulukan dari keinginan mereka. Adakah saat kita membuat mereka berderai airmata? Atau raut wajah mereka yang menyimpan kecewa. Dan tetap mengalir doa-doa indah mereka untuk kita? Ya Allah, ampunilah kami. Jadikan ini sesal yang mengubah segalanya. Sungguh kami merindukan kedua orangtua kami. Kami ingat senyumnya. Betapa hangat genggamannya. Betapa gelombang samudera kehidupan kami berubah tenang di hadapannya.  

Mari kita ingat pasangan kita. Betapa banyak hak mereka pada diri kita. Sebaik-baik syafaat bagi seorang perempuan, adalah ridha suami mereka. Demikian Baginda Nabi Saw bersabda. Sebaik-baik laki-laki adalah yang paling memuliakan istri mereka. Demikian hadits Baginda Saw yang lainnya. Sudahkah para istri beroleh rela suami mereka? Sudahkah para suami memperlakukan para istri dengan mulia? Mari kita kenang semua itu. Kerja keras mereka, kesetiaan mereka, kepatuhan dan perkhidmatan mereka, setiap doa, setiap ungkap cinta. Mari bertaubat dengan berniat untuk menguba setiap laku kita. Lebih menahan diri, lebih bersabar, sebagaimana bulan suci telah mendidik kita. 

Mari kita ingat anak-anak kita. Betapa banyak kesempatan bercengkerama dengan mereka direnggut oleh kesibukan kita. Betapa banyak hasrat pelukan mereka, tertahan keengganan kita. Betapa cepat waktu berlalu, dan kita kehilangan senyum itu. Entah kapan. Entah mengapa. Betapa dunia telah mengalihkan kita dari mereka. Padahal merekalah sebaik-baik bahagia. Betapa sering kita limpahkan kecewa kita pada orang lain di telinga mereka. Kerasnya kehidupan kita tak membuat kita berlaku lemah lembut pada mereka. Ampuni kami Ya Allah. Jadikan sesal kami ini kebaikan untuk masa depan mereka. 

Mari kita ingat keluarga kita, sanak saudara, handai taulan dan tetangga. Mari kita ingat guru-guru kita dan mereka yang meringankan pekerjaan dan membantu hidup kita. Mari kita ingat sesama anak bangsa, sesama saudara seagama. Betapa banyak yang berbuat baik pada kita dan tidak sempat kita ucapkan terima kasih kita. Ada yang meminta maaf dan tidak kita terima maaf mereka. Ada yang sakit yang tidak kita kunjungi dan antarkan doa. Ada yang berpulang, dan kepada keluarganya tidak kita ucapkan belasungkawa. Ya Allah, pada hari raya ini, inilah doa kami bagi mereka. Jadikan sesal kami ini niat untuk berkhidmat setelahnya. Untuk selalu mendatangkan manfaat bagi sesama. Untuk agama, negeri dan bangsa. 

Mari kita ingat saudara kita, yang kini tak lagi berhari raya bersama. Sebagian mendahului kita ke alam baka. Setahun lalu masih kita ingat candanya. Sebulan lalu masih kita lihat senyumnya. Seminggu lalu masih membekas pesannya. Dan mari kita ingat kesalahan kita pada mereka. Bagaimana hendak memohonkan maaf. Bagaimana sesal dapat mengubah keadaan? 

Mari kita ingat mereka yang kita sakiti dengan lisan kita. Dengan tuduhan tak berdasar pada status media sosial kita. Dengan ujaran kebencian, fitnah, dusta, yang mungkin kita sebarkan atas satu kaum dengan jari kita. Bagaimana mungkin memohonkan maaf mereka? Bila kita sebut satu umat adalah pelaku aniaya, tak mungkin memohon maaf pada semua mereka. Bagaimana sesal kami bisa bermakna? Bagaimana menghadapi beratnya pertanggungjawaban ketika tiba? 

Dan puncaknya, mari kita ingat kasih sayang dan kerinduan Baginda Nabi Saw dan keluarganya pada kita. Bagaimana kita yang mengaku sebagai umatnya, tak menghias agamanya. Bagaimana kerinduan kita kepadanya, tak tercermin dalam laku kita. Ya Allah, bagaimana kami memohon maaf pada Baginda? 

Ya Allah, perkenankan kami berdoa di awal syukur kami di hari raya ini. Jadikan setiap sesal kami kebaikan. Untuk kedua orangtua kami, keluarga dan anak-anak kami. Setiap orang yang punya hak atas diri kami. Karuniakan pada kami kemampuan untuk menjaga taubat kami dalam amal salih yang kami syukuri, yang mengantarkan kami pada nikmat yang abadi, di surgaMu nanti. Anugerahkan bagi kami semangat menanti janji pertemuan, untuk sebuah reuni agung dalam sukacita kebahagiaan. Izinkan kami tersungkur di haribaan orangtua, di pusara mereka, mendekap erat pasangan dan anak-anak yang kami cintai. Izinkan kami mengisi hidup kami dengan membahagiakan mereka. 

Ya Allah,

Lidahku telah kelu karena banyaknya dosaku

Telah hilang wibawa wajahku

Maka dengan wajah yang mana aku harus menemuiMu, setelah dosa-dosa membuat wajahku muram.

Dengan lidah yang mana aku harus menyeruMu, setelah maksiat membuat lidahku bungkam.

 

Tuhanku, akulah yang bertambah panjang usiaku bertambah banyak dosaku

Bertambah panjang musibatku karena banyaknya dosaku

Tapi bertambah panjang juga harapanku karena luasnya ampunanMu.

Tuhanku, dosa-dosaku besar, tapi ampunanMu jauh lebih besar dari dosaku.

 

Tuhanku, buruk benar apa yang kulakukan

Karena banyaknya dosa dan kemaksiatan

Indah benar yang Kaulakukan

Dengan segala anugerah dan kebaikan

 

Tuhanku, lama deritaku. Rapuh tulangku. Ringkuh tubuhku. Sedangkan dosaku bertumpuk di atas punggungku. 

KepadaMu duhai Junjungan, aku adukan kefakiran dan kemiskinanku, kelemahan dan ketidakberdayaanku. 

Maka kami menyerumu, pada hari Fitri kami. Perkenankan doaku, penuhi hajatku. Cepatkan ijabahku. Kami menunggu ampunanMu, seperti yang ditunggu para pendosa. Aku tidak akan pernah berputus asa dari rahmatMu. Selamanya. 

Tuhanku, apakan akan Kaubakar dengan neraka, wajah kami yang sudah rebah beribadah kepadamu di bulan suci Ramadhan?

Apakah akan Kaubakar dengan neraka, lisan kami yang telah membaca Al-Qur’an?

Apakah akan Kaubakar dengan neraka, hati kami yang sudah mencintaimu? Yang memanggilmu penuh harap di waktu-waktu sahur yang kini kami rindukan.

Apakah akan Kaubakar dengan neraka, tubuh kami yang sudah rukuk dan sujud di waktu-waktu malam? 

KepadaMu kami beribadah, dan kepadaMu juga kami mohonkan pertolongan.

kepadaMu kami mohonkan penjagaan. Terimalah taubat kami dalam sebaik penyesalan. ***

 

Bandung, 05052019

KH Miftah Fauzi Rakhmat

Thu, 6 Jun 2019 @09:43

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved