Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Otoritas Agama Islam Menurut Mazhab Syiah

image

Dalam sejarah diketahui ketika ada Nabi Muhammad saw, umat Islam merujuk kepadanya dalam urusan agama dan kehidupan. Setiap persoalan diajukan kepadanya dan dijawabnya. Jadi, seluruh masalah agama di bawah wewenang Rasulullah saw.

Selanjutnya pascawafat Nabi, kaum Muslim Syiah atau pengikut Ahlulbait meyakini bahwa otoritas agama Islam berada pada Imam-imam dari Ahlulbait. Mereka meyakini Nabi telah menetapkan Imam Ali bin Abu Thalib ra sebagai washi, maula, dan khalifah setelah Rasulullah saw. Hal ini berdasarkan hadis ghadir khum dan hadis tsaqalain yang menyebutkan umat Islan harus merujuk kepada Al-Quran dan Itrah Ahlulbait (hadis tsaqalain). 


Setelah Rasulullah saw
Meski kekuasaan dipegang oleh Abu Bakar dalam ketetapan sidang terbatas di Saqifah Bani Saidah, tetapi terkait agama yang dijadikan rujukan adalah Ahlulbait, khususnya Imam Ali bin Abu Thalib ra. 

Dalam hal ini Imam Ali sering diminta pendapat dalam urusan agama Islam oleh para sahabat. Bahkan menjadi penasihat dari khalifah Abu Bakar dan khalifah Umar bin Khaththab.

Imam Ali sendiri menjadi khalifah setelah wafat khalifah ketiga, yaitu Utsman bin Affan. Utsman meninggal dunia akibat penyerangan orang-orang yang tidak setuju dengan tindakan nepotisme yang mengangkat pejabat dari keluarga Umayyah seperti Marwan, Muawiyah, dan lainnya. Imam Ali dan dua putranya turut mencegah gerak amuk massa, tetapi tidak terbendung hingga berakhir dengan kematian Utsman di tangan perusuh. 

Muawiyah bin Abu Sufyan selaku pejabat gubernur Suriah tidak memberikan bantuan ketika Utsman dikepung. Namun, setelah wafat Utsman mereka mempersoalkan pembunuhnya dan menentang Imam Ali yang terpilih sebagai khalifah.

Selain karena ingin menuntut balas atas kematian Utsman, Muawiyah tidak mau diganti posisinya oleh pejabat baru yang ditunjuk oleh Khalifah Ali. Hampir semua pejabat yang ditetapkan oleh Utsman diganti dengan pejabat baru oleh Khalifah Ali. Maka tindakan menuntut balas menjadi momentum yang tepat dalam rangka berontak kepada khalifah yang sah. 
Dikarenakan situasi yang tidak kondusif, Imam Ali sebagai khalifah memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah, Irak. 

Pemerintahan Khalifah Ali di Kufah tidak berjalan mulus. Dirongrong oleh pemberontakan di daerah-daerah yang disokong oleh Muawiyah. Terjadilah perang Shiffin, Nahrawan, dan Jamal. Tiga perang besar ini terjadi di antara sesama umat Islam, yang sebagian besar adalah para sahabat Nabi. 

Dalam perang Nahrawan, pasukan khalifah Ali melawan kelompok Islam yang menentangnya, yaitu Kaum Khawarij, yang memisahkan diri dari barisan pendukung Khalifah Ali. 

Dalam perang Jamal, Khalifah Ali melawan kelompok Islam yang menggugat jabatannya sebagai khalifah. Kelompok ini dipelopori oleh Aisyah (istri Nabi) yang mengendarai unta (jamal), Thalhah dan Zubair, yang keduanya sahabat Nabi. Dalam perang, pasukan Aisyah kalah dan banyak menelan korban. Saat ditangkap, Aisyah dibebaskan oleh Khalifah Ali dan diantar pergi ke Makkah.  

Dalam perang Shiffin, pasukan Khalifah Ali melawan Muawiyah dan tentaranya yang berakhir dengan tahkim. Dalam tahkim ditetapkan harus ada wakil dari Ali dan Muawiyah, yang bersepakat untuk memilih kembali khalifah. 

Dalam perundingan kedua pihak sepakat untuk menurunkan Ali sebagai khalifah dan menurunkan Muawiyah sebagai penguasa Suriah. Abu Musa Asyari selaku wakil dari Khalifah Ali yang pertama menurunkan.

Selanjutnya pihak Muawiyah yang diwakili Amr bin Ash menyalahi kesepakatan dengan menetapkan Muawiyah sebagai khalifah. Sehingga umat Islam terbagi antara yang pro dan kontra. Khalifah Ali dan pengikut setianya yang disebut Syiah Ali, berdiam atas persoalan tersebut.

Kelompok yang menolak, yang disebut Khawarij, melakukan penyerangan dan sabotase. Jumlah mereka kecil sehingga bisa dipadamkan. Mereka melakukan serangan kepada tokoh yang terlibat dalam tahkim: Ali bin Abu Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Amr bin Ash. 

Dari ketiganya, hanya Imam Ali yang berhasil diserang kaum Khawarij oleh Abdurrahman bin Muljam At-Tamimi pada malam 19 Ramadhan dibacok saat shalat subuh posisi sujud dan tanggal 21 Ramadhan 40 H. (661 M) khalifah Ali meninggal dunia/wafat.

Setelah Khalifah Ali, kekuasaan dipegang Dinasti Umayyah yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan di Damaskus, Suriah. Pada masa itu, umat Islam terbagi dalam tiga kelompok: Syiah Ali, Khawarij, dan pendukung Muawiyah. Dari sini berkembang dan muncul aliran Jabariyah, Qadariyah, Mutazilah, Asyariyah, Maturidiyah, Ahlussunnah, dan lainnya.

Saat sakit dan sebelum meninggal dunia, Muawiyah bin Abu Sufyan menetapkan khalifah selanjutnya adalah putranya, Yazid bin Muawiyah. Ini menyalahi kesepakatan antara Muawiyah dengan Imam Hasan putra Khalifah Ali yang menetapkan akan dipilih oleh umat setelah Muawiyah berkuasa. Ternyata Muawiyah melanggar janjinya dan ini menjadi cacat moral dari sosok raja pertama Dinasti Umayyah.

Dari Yazid bin Muawiyah beralih kepada Marwan kemudian kepada keturunan Bani Umayyah secara turun temurun. Bentuk pemerintahan bukan lagi seperti Khulafa Rasyidun, tetapi monarki (kerajaan) mirip dengan kerajaan Kisra.

Meski berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah, para pengikut Syiah Ali tetap mengikuti Imam Hasan bin Ali, Imam Husain bin Ali, Imam Ali Zainal Abidin, dan Imam Muhammad Al-Baqir. Kaum Muslim Syiah mengikuti para Imamnya dalam urusan agama dan kehidupan.

Setelah Imam Husain
Perlu diketahui pascawafat Imam Husain yang dibantai di Karbala (Irak) oleh pasukan Umayyah atas perintah Yazid bin Muawiyah, pengikut Syiah Ali terbagi dalam dua. Pertama adalah pengikut Zaid bin Ali (yang disebut Zaidiyah) dan kedua adalah pengikut Muhammad bin Ali yang bergelar Al-Baqir.

Dari Zaidiyah muncul golongan Rafidhah yang menentang keputusan Zaid bin Ali. Kaum Rafidhah ini menyalahkan kepemimpinan tiga khalifah sebelum Imam Ali bin Abu Thalib ra dan menjadi firqah tersendiri yang berasal dari Syiah Zaidiyah.

Sementara dari Imam Muhammad Al-Baqir ini lahir Imam Jafar Shadiq sebagai tokoh Syiah Jafari. Dari Imam Jafar Shadiq ini lahir Ismail dan Musa. Setelah wafaf Imam Jafar, Ismail menjadi Imam Syiah Ismailiyah ditetapkan oleh pengikutnya dan Musa menjadi Imam ketujuh dari Syiah Itsna Asyariah/Imamiyah yang belanjut kepada Al-Mahdi sebagai Imam kedua belas.

Perlu diketahui pemerintahan Dinasti Umayyah berakhir tahun 750 Masehi yang diruntuhkan oleh keturunan Abbas melalui penyerangan berdarah yang dibantu kaum Syiah. Gerakan ini dilancarkan oleh anak keturunan Abbas bin Abdul Muthalib dari putranya Abdullah bin Abbas, yaitu Abbas Assafah. Bersama Abu Muslim Khurasani, Assafah mempelopori lahirnya Dinasti Abbasiyah tahun 750 Masehi di Baghdad, Irak. Berakhirlah kekuasaan Umayyah di Suriah dan muncul kembali Dinasti Umayyah di Andalusia dipelopori oleh Abdurrahman Addakhil, keturunan Muawiyah yang lolos dari pengejaran pasukan Abbas Assafah.

Saat Dinasti Umayyah berkuasa, empat Imam Syiah Itsna Asyariyah/Imamiyah wafat. Imam Hasan wafat akibat diracun, Imam Husein diperangi sampai dipenggal kepalanya, Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad dan Imam Muhammad Al-Baqir juga diracun.

Dinasti Abbasiyah ini awalnya dibantu oleh kaum Syiah yang sama-sama memiliki musuh bersama: Umayyah. Mulanya kaum Syiah diapresiasi kemudian diawasi gerakannya. Bahkan oleh penguasa Dinasti Abbasiyah, para Imam Syiah (yang keenam hingga yang sebelas) dibunuh dengan racun dan ada yang dipenjara disertai dengan siksaan hingga wafat.

Dinasti Abbasiyah secara mazhab negara berganti-ganti dari Asyariah, Mutazilah (seiring bergantinya penguasa) dan mendukung Ahlulhadis dari kelompok Ahmad bin Hanbal. Pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini mazhab Maturidiyah dan Asyariah bertahan sebagai aliran Islam karena mendapat dukungan dari Dinasti Abbasiyah, yang selanjutnya kedua aliran tersebut menjadi Ahlussunnah. 

Sekadar diketahui Imam Syiah yang keenam hingga Imam keduabelas hidup pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Setelah wafat Imam kesebelas, Hasan Askari (yang sejaman dengan ahli hadis Bukhari dan ahli sejarah Ibnu Jarir Thabari) maka Muhammad bin Hasan Askari menjadi Imam kedua belas yang bergelar Al-Mahdi as.

Dinasti Abbasiyah merasa khawatir dengan kaum Syiah yang semakin hari berkembang sehingga orang-orang Syiah diancam dan dietapkan sebagai buruan. Termasuk para Imam Syiah pun berada dalam kondisi tekanan, bahkan dibunuh dengan cara diracun dan dipenjara. 

Karena situasi itu, Imam yang keduabelas mengalami kegaiban. Imam Mahdi as yang gaib ini hanya bisa ditemui oleh empat Naibul Imam. Karena itu, kaum Syiah berinteraksi dalam urusan agama hanya dengan empat wakil Imam Mahdi tersebut. Setelah wafat yang empat, maka hubungan Imam Mahdi as dan kaum Syiah terputus sehingga merujuk kepada para ulama Syiah yang dari ilmu dan keturunan bersambung kepada Naibul Imam. 

Imam Mahdi as

Dalam buku Teladan Abadi Imam Mahdi (Penerbit Alhuda Jakarta) disebutkan bahwa Imam Mahdi lahir 15 Syaban 255 H/29 Juli 870 M. Pada tahun 260 H./873 M. ayahnya (Imam Hasan Askari) wafat dan Imam Mahdi menjadi pemimpin Syiah saat usia 5 tahun. Kemudian mengalami gaib sughra hingga 329 H./939 M. (selama 69 tahun) ditandai wafatnya Naibul Imam yang keempat dan terjadilah gaib kubra.

Saat gaib kubra ini kaum Syiah masih berada di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah dan dinasti-dinasti kecil yang disebut Muluk Ath-Thawaif.

Selanjutnya memasuki abad pertengahan Masehi, yaitu dunia Islam secara umum dikuasai oleh tiga dinasti, yaitu Safawiyah di Persia mencakup Iran dan Irak, Mughal di Anak Benua India, dan Turki Utsmani di Turki.

Kaum Muslim Syiah di kawasan Persia pada masa ini berada dalam naungan pemerintahan Dinasti Safawiyah. Masa ini juga para ulama Syiah bergiat dalam keilmuan dan muncul tokoh-tokoh ternama seperti Muhammad Baqir Majlisi, Mulla Shadra, Mir Damad, dan lainnya. Kaum Sufi dan para filosof pun mendapatkan ruang gerak dalam keilmuan pada masa kekuasaan Safawiyah di Persia.

Setelah berakhir Dinasti Safawiyah dan digantikan oleh penguasa-penguasa dan dinasti yang berkerjasama dengan kolonial asing, dan di Persia terdapat Syah Pahlevi dengan kekuasaannya yang dzalim. Selanjutnya dinasti ini diruntuhkan oleh para ulama dan umat yang menginginkan perubahan pemerintahan di negeri Iran.

Perlu diketahui saat gaib kubra ini, kaum Muslim Syiah (Imamiyah/Itsna Asyariyah) secara pemahaman keagamaan terbagi dalam dua kelompok, yaitu Akbariyah dan Ushuliyah.

Kaum Syiah yang berpaham Akbariyah merasa cukup dengan rujukan hadis dari Rasulullah saw dan para Imam Syiah tanpa perlu penalaran (ijtihad). Langsung terima apa adanya sesuai hadis yang berasal dari Ahlulbait atau Imam Syiah. Mereka tidak melakukan studi kritis atas hadis dan tidak merujuk ulama dalam amaliah beragama. Kaum Akbariyah mengamalkan ibadah dengan langsung merujuk pada hadis dan riwayat.

Sementara kaum Ushuliyah, meski merujuk pada hadis, juga menggunakan nalar dan ijtihad dalam urusan beragama. Sehingga hadis dan riwayat diseleksi kebenaran atau keasliannya dan diberi penjelasan oleh para ulama Syiah agar bisa diamalkan oleh kaum Syiah. 

Dari perkembangan keilmuan para ulama (kaum) Ushuliyah ini terbentuk institusi hawzah dan sosok ulama yang ditetapkan sebagai marja' taqlid; yang setiap kaum Syiah agar merujuk pada ulama tersebut. 
Ulama atau cendekiawan Syiah yang bukan lulusan hawzah (apalagi bukan mujtahid atau tidak diakui sebagai marja' taqlid) maka dianggap tidak valid dalam mengeluarkan pendapat tentang agama maupun fatwanya. 

Meskipun ia seorang cendekiawan dari universitas yang cerdas dalam ilmu agama,  pun tidak dirujuk kalau tidak ditetapkan oleh para ulama sebagai mujtahid dan marja' taqlid. 

Menariknya dalam keilmuan atau fatwa, ternyata di antara sesama marja' taqlid pun terjadi silang pendapat meski sama-sama kaum Ushuliyah. Meskipun sekarang ini didominasi oleh kaum Ushuliyah, tetapi masih juga ditemukan Muslim Syiah yang mengikuti paham Akhbariyah. 

Di luar paham Akhbariyah dan Ushuliyah, juga ada kelompok Syiah yang secara ajaran bertentangan dengan pendapat ulama Syiah yang muktabarah. Tentu mereka yang non mainstream ini layak dipertanyakan akurasi ajaran dan praktik agamanya. 

Khulashah
Secara umum dapat disimpulkan bahwa otoritas agama Islam menurut Syiah Imamiyyah/Itsna Asyariyah diawali dari periode Nubuwwah (Nabi dan Rasul sampai masa wafat Sayyidina Muhammad Rasulullah saw). Berlanjut periode Imamah dimulai dari Imam Ali bin Abu Thalib as sampai masuknya masa gaib kubra Imam Keduabelas (Mahdi) tahun 939 M. 

Saat gaib kubra ini maka masuk periode Marjaiyyah bahwa umat Syiah Imamiyyah/Itsna Asyariyah berada di bawah (kepemimpinan) ulama Syiah yang faqahah dan berkedudukan sebagai marja' taqlid. Mereka merujuk kepada ulama dan mengikuti riwayat atau hadis yang direkomendasikan ulama sebagai dalil dalam amal dan beribadah.

Dengan demikian, pengikut Syiah Imamiyyah/Itsna Asyariyah mengikuti para ulama Syiah sambil menunggu hadirnya Imam Mahdi as sebagai Imamnya. Karena itu, posisi Muslim Syiah sekarang ini disebut intidzar, menanti kehadiran Al-Mahdi as. 

Sekadar tambahan: Muslim Syiah Imamiyyah/Itsna Asyariyah sekarang ini lebih populer disebut pengikut Ahlulbait saja ketimbang Syiah. 

Termasuk di Indonesia ada dua organisasi yang menggunakan nama Ahlulbait, yaitu Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) berdiri di Bandung pada 1 Juli 2000 dan Ahlul Bait Indonesia (ABI) ditetapkan tahun 2010 di Jakarta. *** (Ahsa al-Banduni)

Mon, 10 Jun 2019 @06:23

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved