Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kuliah Ilmu Kalam: Bagian Pertama [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Mulai hari ini aku berniat untuk mendiskusikan sedikit tentang ilmu Kalam berdasarkan sebuah manuskrip yang aku tulis pada tanggal 4 Juli 1996 di Tangerang (segera setelah aku kembali dari Chicago), seperti yang bisa dilihat dari gambar di bawah ini: Ilmu Kalam tentu saja penting kita ketahui karena ia menyangkut masalah keimanan kita. 

Dan diperkenalkannya berbagai sekte teologis, bukan saha akan memperluas wawasan kita tetapi juga akan menghilangkan sikap fanatis yang berlebihan, karena ternyata tafsir keagamaan tidak bisa besifat tunggal dan bentak tergantung pada perspektif yang digubakan. Sayang tulisannya sebagian sudah pudar, tetapi insya Allah isinya (yang merupakan bagian dari otobiografiku) akan kita sana-sama bahas di sini: 

Apa itu Ilmu Kalam?

Kata Kalam (كلام) berarti “Pembicaraan” atau “Firman” (Kata). Terma ini digunakan sebagai terjemahan Arab dari kata “Logos” dalam arti yang bermacam-macam, seperti “kata,” “akal” dan “argumen.” 

Ilmu kalam (‘Ilm al-Kalām) menurut Ibn Khaldun (w. 1406) adalah “Kalam (pembicaraan) tentang butir-butir keimanan (al-aqa’id al-imāniyah) yang meliputi keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab Suci-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir (baik atau buruk). Maka dapat disimpulkan bahwa “kalam” adalah teologi (ilmu ketuhanan) yang dapat dibedakan dengan “fiqh”. Diskusi tentang butir-butir keimanan inilah yang menurut Ibn Khaldun membentuk apa yang disebut dengan “Ilmu Kalam.” 

Menurut Syahrastani (w. 1153), kalam dalam arti ini telah ada sebelum dibentuknya aliran Mu’tazilah oleh Washil bin Atha’ (w. 748) dan bahwa ‘kebesaran’ Ilmu Kalam telah dimulai selama masa pemerintahan Harun al-Rasyid (786-805). *** (bersambung)

Mulyadhi Kartanegara adalah Pakar Filsafat Islam

Fri, 19 Jul 2019 @07:55

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved