Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kuliah Ilmu Kalam: Bagian Kedua [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Topik-topik Utama: Sifat-sifat Tuhan

Kata sifat (Shifah) berasal dari kata kerja ‘washafa’ yang artinya ‘memerikan’ (to describe). Meskipun sebagai kata kerja ‘washaf’ terjadi 13 kali dalam al-Qur’an, namun kata “shifah” tidak pernah terjadi dalam al-Qur’an. Istilah yang menggambarkan Tuhan tidak pernah dirujuk dengan kata “shifah” tetapi dengan istilah ‘nama’ yakni ‘nama-nama’ yang indah (al-asmā’ al al-husnā) (7:179; 17:10; 20:7).

Kapan kata “sifat” sebagai pengganti “nama” muncul dan siapa yang menggunakannya tidaklah diketahui. Yang jelas istilah sifat disinggung dalam laporan tentang pendiri aliran Mu’tazilah, Washil bin Atha’. Orang Sunni yang menggunakan istilah “sifat” ini adalah Ibn Kullāb (w. 854). Ia-lah, menurut al-Asy’ari (w. 923), yang menggantikan ‘nama-nama’ (asmā’) dengan sifat-sifat Allah. 

Bagaimana para teolog Muslim memahami sifat-sifat Allah beserta keberadaan mereka? Kaum Mu’tazilah menolak keberadaan sifat-sifat ilahi ini, dalam pengertian sifat Allah yang nyata dan abadi. Alasan kaum Mu‘tazilah dalam menolak sifat-sifat Allah, dalam pengertian di atas, ada dua: (1) Mereka beranggapan bahwa apapun yang bersifat abadi haruslah ia bersifat Ilahi (Tuhan). (2) bahwa kekuasaan Allah tidak menerima keanekaan internal apapun dalam Tuhan, sekalipun bagian-bagian dan kemajemukan (tarkīb) ini menyatu secara lekat sejak azali. Washil pernah berkata: “Tuhan itu abadi (qadim) dan keabadian adalah “pemerian” yang paling khas dari Zat-Nya. Mu‘tazilah menolak sama sekali sifat-sifat abadi, karena kata mereka, “jika sifat-sifat itu berbagi dengan Tuhan dalam keabadian, mereka akan berbagi dalam ketuhanan (al-Ilahiyah).” Karena itulah kaum Mu‘tazilah disebut sebagai pendukung keesaan (Ashāb at-Tauhīd). 

Meski pun Tuhan digambarkan memiliki banyak sifat, tapi tiga sifat yang berikut ini, yaitu pengetahuan (‘īlm), kekuasaan (qudrah) dan kehidupan (hayy)-lah yang membentuk pokok perdebatan dalam perkara sifat-sifat tersebut antara kaum Mu‘tazilah, yang menolak keberadaan sifat-sifat tersebut, dan yang menerimanya yang biasa disebut kaum “Atribut” (Muwashshifūn). Tetapi dua sifat lagi kemudian ditambahkan kepadanya, yaitu ‘perkataan’ (kalām) dan kehendak (irādah). Adapun yang termasuk golongan yang menerima keberadaan sifat-sifat Tuhan yang nyata dan abadi adalah kaum Asy‘ariyah, yang tokoh atau perwakilan utamanya adalah Imam al-Ghazali (w. 1111). 

Afirmasi terhadap realitas sifat-sifat Allah oleh Muslim ortodok diturunkan dari konsepsi yang relatif (longgar) dari keesaan Allah, yang tidak menolak adanya sifat-sifat nyata Allah, yakni yang telah ada bersama-Nya sejak azali dan tak pernah terpisahkan. Kritik al-Ghazali kepada Mu’tazilah—dan para filosof yang menolak sifat-sifat Tuhan yang nyata—tercermin dalam pernyataan retoriknya: “Mengapa harus tidak mungkin untuk menyatakan bahwa seperti halnya Zat Allah yang bersifat niscaya itu abadi dan tidak memiliki sebab efisien, maka demikian juga keadaan sifat-sifat-Nya yang ada bersama-Nya, sejak azali dan tidak punya sebab efisien. *** (bersambung)


Fri, 19 Jul 2019 @08:01

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved