Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kuliah Ilmu Kalam: Bagian Ketiga [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Pertanyaan utama teologis berkenaan dengan Alquran ini adalah apakah Alquran ini abadi atau dicipta. Ada tiga pernyataan Alquran yang menimbulkan kepercayaan pada Alquran yang diciptakan sebelum penciptaan dunia, yaitu (1) AlQuran sebagai Bacaan yang Mulia  (al-Qurān al-Karīm), dan sebuah kitab yang tersembunyi (al-Kitāb  al-Maknūn) 56:76-77. (2) Bacaan yang Mulia di atas Lauh yang terpelihara (al-Lauh al-Mahfūzh) (85:22); dan (3) “sebagai bacaan dalam bahasa  Arab” dan sebagai induk kitab (Umm al-Kitāb). Dari sini muncullah kemudian dua kelompok teolog: pertama, yang percaya kepada keabadian  al-Qur’an, dalam arti al-Qur’an tidak dicipta dan kedua, yang percaya bahwa al-Qur’an adalah dicipta. 

Kepercayaan kelompok pertama pada keabadian al-Qur’an bersandar pada pernyataan Nabi, “bahwa sebuah  Kitab Suci telah diturunkan kepadanya dari langit.” Kata diturunkan dari  ‘langit’ diartikan oleh mereka sebagai abadi bukan diciptakan. Pemahaman di atas telah menimbulkan stidaknya dua isu besar: berkaitan dengan hubungan antara firman Tuhan yang tidak dicipta dalam  arti al-Qur’an abadi yang ada sebelum penciptaan dunia, dengan al-Lauh  al-Mahfūzh dan yang serupa dengan itu, al-Kitāb al-Maknūn atau Umm al-Kitāb. 

Al-Lauh al-Mahfūzh dipahami sebagai tempat di mana al-Qur’an ditulis dan dipelihara sebelum diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad Saw. Menurut sebuah hadis, Lauh Mahfūzh bersama-sama dengan “Qalam,” “Arsy” dan “Kursi” adalah dicipta oleh Tuhan sebelum penciptaan alam semesta. Persoalannya adalah bagaimana, mereka, yang percaya bahwa al-Qur’an telah dicipta sebelum dunia, merekonsiliasi kepercayaan mereka dengan pernyataan bahwa, sebelum penciptaan dunia dan sebelum diturunkan kepada Nabi, al-Qur’an telah mengambil tempat di Lauh Mahfūzh, padahal Lauh itu sendiri adalah dicipta (baru). Inilah isu teologis yang pertama. Ada pun isu kedua adalah berkenaan dengan hubungan antara firman Allah, yang tidak dicipta (abadi), dan al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw?

Bagaimana jawaban para teolog tentang ini? Bagi para pendukung keabadian al-Qur’an sebelum  penciptaan dunia, Firman Allah—dalam arti al-Qur’an sebelum penciptaan  dunia—telah mengalami dua tahap sebelum diturunkannya kepada Nabi. Tahap pertama: dari azali, sebagai sifat Allah, yang kedua, dengan diciptakannya Lauh Mahfūzh. Persoalan kemudian timbul: apakah telah terjadi pembukuan al-Qur’an yang abadi ke dalam al-Qur’an yang  diturunkan kepada Nabi Muhammad? 

Dua sarjana, Ibn Kullāb dan Ibn Hanbal, memberikan jawaban yang berbeda kepada persoalan ini. Ibn Kullāb (medio  abad IX) menolak istilah pembukuan al-Qur’an. Ia berkata bahwa firman  Tuhan tidaklah terdiri atas huruf-huruf dan suara. Ia adalah makna  tunggal pada Allah, yang tidak bisa dipisah-pisah, dipenggal-penggal, maupun dibagi-bagi.

Ada pun Ibn Hanbal berpendapat bahwa al-Qur’an, baik sebelum atau sesudah pewahyuan adalah abadi. Firman Allah adalah  pengetahuan-Nya yang abadi dan karena itu ia (firman tersebut) adalah abadi. Kaum Hanbaliyah dan kaum Salafiyah sepakat bahwa apa yang ada di antara jilid adalah firman Allah (Kalam Allah), dan apa yang kita baca dan dengar adalah firman Allah yang sejati. Dan karena telah disepakati  bahwa firman Allah adalah abadi, maka kalimat dan huruf (al-Qur’an)  adalah juga abadi dan tidak dicipta.

Kelompok kedua percaya bahwa al-Qur’an itu dicipta atau baru. Penolakan terhadap keabadian al-Qur’an  datang bersamaan dengan penolakan terhadap sifat-sifat Tuhan yang abadi  lainnya. Orang-orang yang menolak realitas sifat-sifat di atas, menafsirkan semua istilah yang ditujukan kepada Allah semata-mata  sebagai nama belaka. 

Dalam hal firman Allah, dalam arti al-Quran sebelum penciptaan, mereka hanya menolak keabadiannya, tapi tidak  realitasnya. Mereka meyakini bahwa al-Quran sebelum penciptaan  memanglah ada, tapi ia adalah dicipta (baru). Dalam penolakan mereka terhadap al-Qur’an yang abadi, Mu‘tazilah berpendapat bahwa kepercayaan  seperti itu, yakni bahwa al-Qur’an itu abadi bertentangan dengan konsep  keesaan Allah (Tauhid). 

Kepercayaan kepada kebaharuan al-Qur’an terbagi ke dalam dua kelompok: kelompok pertama percaya bahwa yang  dimaksud dengan al-Qur’an itu baru, adalah al-Qur’an yang dicipta dari  langit sebelum penciptaan alam. Sedangkan kelompok kedua sama sekali menolak keberadaan al-Qur’an yang dicipta sebelum dunia. Kepercayaan kepada kebaruan al-Qur’an kemudian menjadi pandangan umum kaum Mu‘tazilah, yang seperti dikatakan oleh Ibn Hazm percaya bahwa firman Allah adalah sebuah sifat dari sebuah tindakan yang dicipta (baru). Inilah ringkasan topik kedua teologis, yaitu tentang al-Qur’an. *** (bersambung)


Fri, 19 Jul 2019 @08:15

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved