Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Kuliah Ilmu Kalam: Bagian Kelima [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Bukti bukti Penciptaan

Para Mutakallimun mengemukakan delapan bukti atau argumen tentang Penciptaan Dunia.

Bukti dari Keterbatasan (al-Nihāyah). Bukti ini didasarkan pada tiga proposisi: (1) dunia adalah terbatas  dalam kebesarannya; (2) kekuatan dalam dunia yang menjaga kelestarian  dunia adalah terbatas; (3) kekuatan yang terbatas seperti itu tidak akan  bisa melahirkan wujud yang tidak terbatas. Dari sini disimpulkan bahwa  dunia haruslah memiliki “permulaan dan akhir.” 

Bukti dari Analogi benda-benda di Dunia

Melalui dalil ini para Mutakallimun berusaha membuktikan bahwa dunia  ini dicipta. Abu al-Hasan al-Bahili, misalnya, menunjukkan bagaimana  kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan manusia dari benih tidak bisa  dikatakan disebabkan oleh manusia itu sendiri, atau oleh orang tua atau  oleh orang itu sendiri, tetapi oleh seorang Pencipta Abadi yang Maha  Kuasa dan Bijaksana. Dari sini disimpulkan bahwa alam adalah dicipta atau baru. 

Bukti dari Penyatuan dan Pemisahan Atom

Kalau kita beranggapan bahwa atom-atom itu abadi, niscaya ia tidak akan mampu, melalui tabi’atnya sendiri, melaksanakan penyatuan dan pemisahan  dirinya. Padahal kita melihat bahwa penyatuan dan pemisahan itu betul-betul terjadi di dunia ini. Oleh karena itu, haruslah ada seorang  Pencipta yang menciptakan proses penyatuan dan pemisahan atom tersebut.  Dengan demikian lokus, di mana proses ini terjadi haruslah diciptakan. 

Bukti dari diciptakannya Aksiden-aksiden dan Bagian-bagian dari Komponen Dunia

Pembuktian ini didukung oleh kaum Asy‘ariyyah terutama al-Juwaini (w. 1065) dan al-Baqilani (w. 1013). al-Baqilani mengatakan bahwa dunia ini  tidak bisa dipisahkan dari dua genera: substansi (atom-atom) dan  aksiden. Dalam membuktikan diciptakannya dunia, ia mengajukan tiga  proposisi: (1) bahwa aksiden-aksiden tersebut ada pada atom-atom dan  benda-benda. (2) bahwa aksiden tersebut adalah peristiwa-peristiwa  temporal (hawādits) yakni punya awal dan akhir—atau dicipta. (3) bahwa jasad-jasad itu dicipta dengan alasan bahwa mereka tidak mendahului  peristiwa-peristiwa temporal (yang merupakan aksiden pada dirinya) yang  tidak ada sebelumnya, dan apapun yang tidak mendahului yang dicipta  (baru) adalah juga dicipta (baru) sepertinya. 

Bukti dari Kemustahilan Suksesi yang Tak Terhingga

Didasarkan pada premis bahwa yang tak terbatas tidak bisa dilampaui (qath’), al-Nazhzham mengatakan “Sesuatu yang telah melampaui  jasad—yaitu revolusi-revolusi pertama benda-benda angkasa haruslah  bersifat terbatas atau tidak terbatas. Kalau terbatas, maka ia akan  menghancurkan kepercayaan pada keabadian alam, kalau ia tak  terbatas—berdasarkan diktum bahwa yang tak terbatas tidak bisa  dilampaui, maka ia tidak bakal punya suksesi revolusi hingga hari-hari  tertentu. Kenyataan bahwa ia telah melampaui sampai pada beberapa waktu  tertentu adalah bukti bahwa ia adalah terbatas—dan karena itu dicipta  dalam waktu. 

Bukti dari Partikulaisasi (al-Takhshīsh)

Bukti ini disampaikan oleh al-Juwaini yang menjelaskan: “Telah  ditegakkan bahwa dunia adalah dicipta, dan telah jelas pula bahwa ia  mempunyai permulaan.” Mengenai sesuatu yang dicipta (sebelum penciptaan),  wujud atau tidak wujudnya, menurutnya, adalah mungkin (ja’iz), dan  bahwa kapan saja penciptaan dunia itu terjadi, kajadian itu bisa saja  telah didahului oleh selang waktu atau tertangguh beberapa saat. Ketika wujud yang mungkin telah dicipta pada waktu tertentu, maka akal kita  akan menyimpulkan bahwa kejadian itu akan membutuhkan sesuatu pengkhusus  (mukhashish) untuk mewujudkannya, sebagaimana yang terejawantah pada  waktu-waktu tertentu di masa lalu. Pengkhusus tersebut bukanlah sebab  niscaya ataupun kekuatan alami, melainkan Tuhan yang, melalui kehendak  bebas-Nya, telah menciptakan dunia pada waktu tertentu. 

Bukti dari Pengaruh yang lebih Besar (Tarjīh atau Preporandation)

Imam al-Ghazali menyatakan bahwa dunia hanyalah mungkin dari sudut  wujudnya. Kemudian karena wujud dunia secara keseluruhan pada hakikatnya  adalah mungkin, maka wujudnya haruslah disebabkan oleh seorang Murajjih dan wujudnya haruslah niscaya pada dirinya sendiri (wājib al-wujūd  bidzātih). Jika murajjih tersebut diasumsikan sebagai dicipta, maka ia  akan membutuhkan murajjih yang lain dan seterusnya. Tetapi karena proses ini tak mungkin tanpa akhir, maka murajjih tersebut, yakni kehendak  Allah, haruslah abadi. Dunia ini sendiri meskipun tergantung pada  murajjih tadi tidaklah bisa ada sama-sama dengan Sang Murajjih sejak azali. Ia haruslah baru dalam arti dicipta dalam waktu. 

Terakhir Bukti dari Jiwa Yang Tak Abadi

Menurut pembuktian ini diciptakannya dunia ditegakkan melalui apa yang  para filosof pandang sebagai keabadian jiwa-jiwa setelah kematian (baqā’  al-nafs). Mereka berpandangan bahwa jika dunia ini abadi, maka jumlah  manusia yang meninggal pada masa lalu yang tak terbatas, haruslah tak  terbatas, dan karena itu harus ada sejumlah tak terbatas dari jiwa-jiwa  yang ada secara bersamaan. Tetapi hal itu telah dibuktikan secara  meyakinkan sebagai tidak mungkin. Dari sini disimpulkan bahwa dunia  adalah tidak abadi, atau dengan kata lain diciptakan. *** 

Mulyadhi Kartanegara adalah Pakar Filsafat

 

Fri, 26 Jul 2019 @11:23

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved