Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kuliah Ilmu Kalam Bagian Ketujuh [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Teori Kumun (Latensi) dan Lompatan (Thafrah)

Di samping kelompok Mutakallimun yang menerima atomisme, ada juga  kelompok lain yang menolaknya dan mengajukan teori Latensi (Kumūn) dan  lompatan (Thafrah). Bersamaan dengan dikenalkannya teori atom, diperkenalkan juga teori yang mengatakan bahwa materi bisa dibagi secara  tak terhingga. Pendukung pandangan ini adalah Hisyam dari aliran  Rafidhiyah dan al-Nazhzham dari aliran Mu‘tazilah, teman sezamannya. 

Al-Nazhzham meski percaya bahwa jasad itu terbatas dalam arti  memiliki sebuah akhir dan batas dalam hal ukuran dan luas, menyatakan  bahwa tidak ada satu bagianpun dari sebuah jasad yang tidak bisa dibagi oleh akal ke dalam dua bagian. 

Hisyam bin al-Hakam dan beberapa dari kaum Rafidhah menyatakan bahwa suatu bagian dapat dibagi tanpa akhir dan  tidak ada satu bagian kecuali bahwa ada bagian lain dari padanya, dan  seterusnya tanpa suatu akhir, kecuali dari sudut keluasan karena memang  ada akhir bagi keluasan sebuah jasad, namun bukan kemampuannya untuk dibagi. Hal ini menjadikan kemampuannya untuk dibagi secara tak terbatas  hanyalah bersifat potensial bukan bersifat aktual. 

Teori atom  Asy’ari mengandaikan adanya teori penciptaan terus menerus (berkesinambungan) oleh Tuhan, tetapi tidak didukung oleh al-Nazhzham  dari Mu’tazilah yang pada umumnya mendukung teori kausaltas. Untuk  menolak teori penciptaan yang befkesinambungan, al-Nazhzham mengambil  teori kausalitas ala Aristoteles, di mana dinyatakan, antara lain, bahwa  semua benda yang ada dengan sendirinya (by nature) memiliki, dalam  dirinya, prinsip gerak dan diam, sehingga akan dipertahankan sebagai  sebab transisi dari potensialitas ke aktualitas. 

Meskipun ia menerima  pandangan dari Aristoteles tentang tabi’at yang ada pada benda-benda  dunia, namun sebagai seorang Muslim ia menolak ajaran bahwa dunia adalah sama-sama abadi bersama dengan penggerak pertamanya, yaitu Tuhan. 

Baginya thabī‘at (daya alam) adalah sesuatu yang ditanamkan Tuhan pada saat penciptaannya. Tujuan utama dalam mendukung teori ini adalah untuk menghilangkan dari saudara Muslim suatu kepercayaan yang keliru tentang penciptaan yang berkesinambungan. 

Dengan menjelaskan bagaimana pada benda-benda yang diciptakan Tuhan ada sesuatu, yakni thabi’at, yang  sama-sama diciptakan Tuhan, dan yang menyebabkan benda-benda tersebut  dapat diubah menjadi benda-benda yang lainnya. Ini menimbulkan kesan  seolah-olah dalam setiap benda, ada sesuatu yang tersembunyi dan yang  dimunculkan oleh alam. Inilah yang disebut dengan teori penyembunyian (kumūm) dan penampakan (zhuhūr) atau yang disebut dengan teori latensi. 

Tentang ini al-Nazhzham mengatakan, “Tuhan menciptakan manusia, sapi,  hewan, mineral dan tumbuh-tumbuhan, semuanya pada suatu masa yang  bersamaan (serempak) dan bahwa penciptaan Adam tidak mendahului  penciptaan anak-anaknya. Demikian juga penciptaan ibu tidak mendahului  penciptaan anak-anaknya. Tuhan, menurut al-Nazhzham, telah  menyembunyikan (akman) hal-hal tertentu pada yang lainnya, sehingga prioritas atau posterioritas diimplikasikaan hanya pada penampakan  (zhuhūr) dari benda-benda tersebut, dari tempat-tempat mereka  (makanikum) dan bukan pada penciptaan mereka. 

Teori latensi  dipilih oleh al-Nazhzham sebagai ganti teori penciptaan berterusan. Ini juga berarti bahwa ia menolak konsepsi atomis mengenai ruang dan waktu. Kemampuan ruang untuk bisa dibagi secara tak terhingga ini mendapat  kritik yang tajam dari Zeno—sehingga terkenallah apa yang disebut “Paradox Zeno.” Berdasarkan 4 argumen, terhadap mana al-Nazhzham mencari  solusinya dalam menjawab argumen pertama Zeno, al-Nazhzham menciptakan sebuah teori yang disebut Teori Lompatan (Thafrah). 

Menurut Zeno adalah  tidak mungkin bagi sesuatu untuk dibagi secara tak berhingga atau untuk  “menyentuh” benda-benda yang tak berhingga satu persatu dalam satu waktu yang tidak berhingga, dengan mengandaikan kemampuan jarak untuk dibagi  secara tak berhingga, adalah tidak mungkin bagi Zeno, bagi sebuah objek untuk melampaui atau melalui suatu jarak terbatas apapun dalam suatu waktu yang terbatas. Karena seandainya jarak terbatas apapun dapat  dibagi secara tak berhingga, maka objek yang bergerak di atasnya haruslah melalui dan menyentuh sejumlah tak terbatas dari bagian-bagian  jarak tersebut dalam waktu yang terbatas. 

Solusi al-Nazhzham  dalam kesulitan ini adalah Teori Lompatan (Thafrah) yang dapat  dijelaskan sebagai berikut: adalah mungkin, menurut Nazhzham, bahwa  sebuah benda berada pada sebuah tempat dan kemudian mencapai tempat  ketiga tanpa harus melalui tempat kedua. Ini dilakukan melalui sebuah  lompatan. 

Ada pun alasannya adalah sebagai berikut: “Dalam kasus  puncak-puncak yang bergelombang (spinning tops)—di mana jarak yang  dilalui gerakan dari bagian-bagian tersebut adalah lebih (panjang)  dibanding dengan jarak yang dilalui oleh gerakan dari bagian-bagian  bawahnya, yang pertama melalui bagian yang lebih jauh daripada yang  dilalui bagian bawah mereka. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa  titik teratas mereka menyentuh (yumassa) benda-benda yang tidak dapat  dilakukan oleh lawannya, yaitu titik terendah mereka.*** 

MULYADHI KARTANEGARA adalah Pakar Filsafat

Mon, 29 Jul 2019 @10:23

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved