Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kuliah Ilmu Kalam Bagian Kedelapan [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Mutakallimun yang Menolak Kausalitas (Hubungan Sebab-akibat)

Beberapa ayat al-Qur’an Q.S: 10:35: “Katakanlah, ‘adakah salah seorang  tuhan palsumu yang menciptakan sebuah makhluk dan menyebabkannya kembali  kepadanya? Katakanlah: “Tuhanmulah yang menciptakan sebuah makhluk dan  menyebabkannya kembali kepada-Nya.” Atau surat 10:39, “Tuhanlah yang  menciptakanmu dan memberimu makan, kemudian akan menyebabkanmu mati dan  akan membuatmu hidup kembali.” Ayat-ayat tadi memberi kesan bahwa Tuhan  sendirilah, melalui perintah dan kekuasaan-Nya sendiri, yang menjadi  sebab langsung dari semua peristiwa di dunia ini. Inilah kepercayaan  yang mapan selama bagian pertama abad ke delapan, yang tidak mendapat  tantangan apapun.

Kira-kira satu abad kemudian, kaum Muslimin  berkenalan dengan dua pendapat dari filosof-filosof Yunani yang  bertentangan. Ada yang percaya kepada adanya Tuhan—tapi sebagai sebab  niscaya yang jauh dari peristiwa-peristiwa dunia. Di sini Tuhan menjadi  sebab dari semua peristiwa dunia tetapi melalui perantaraan benda-benda  yang bertindak sebagai sebab langsung dari peristiwa-peristiwa tersebut.  Di pihak lain ada juga filosof-filosof Epicurean yang menolak  keberadaan Tuhan dan juga menolak benda-benda sebagai sebab langsung  dari sebuah peristiwa. Bagi mereka semua peristiwa di dunia ini terjadi  secara kebetulan belaka.

Orang-orang Islam membenarkan kepercayaan  kepada adanya Tuhan sebagaimana dikukuhkan oleh pandangan pertama,  tetapi menolak konsepsi Tuhan sebagai sebab yang dingin dan jauh dan  konsepsi benda-benda sebagai pemilik kekuatan kausalitas. Tentang  pandangan kedua, mereka membenarkan pandangan Epikurus tentang kekuatan  kausal terhadap benda-benda di dunia, tetapi mereka menolak  penisbatannya kepada keberadaan Tuhan, dan juga pernyataan mereka bahwa  semua peristiwa di dunia hanyalah suatu kebetulan saja. 

Tetapi di  dunia yang kita ketahui ini, sesuatu tidak hanya ada dan dicipta,  tetapi setelah penciptaannya, mereka juga terus bertahan ada, dan  setelah berlangsung beberapa masa, ia berhenti ada. Hal ini menimbulkan  isu tentang “kelangsungan” (baqā’) dan “kehancuran” (fanā’) dalam  teologi Islam. 

Menurut al-Asy‘ari, orang-orang berbeda pendapat tentang  apakah aksiden-aksiden itu berlangsung atau tidak. Al-Ka‘bi berpendapat  bahwa aksiden-aksiden dan semuanya tidak berlangsung kecuali dua saat.  Kemudian pandangan ini dirujuk oleh al-Baghdadi sebagai “ashhābunā”  yakni kaum Asy’ariyyah. 

Menurut Thusi mereka sampai kepada kesimpulan  bahwa aksiden-aksiden tersebut “diciptakan” baru pada setiap saat.  Dengan demikian menurut pendapat ini, tidak ada perlangsungan yang  sejati dalam aksiden. Namun penciptaan berkesinambungan menimbulkan  kesan adanya pelangsungan. 

Pandangan ini juga membawa konsekuensi  yang lain, yaitu karena aksiden-aksiden tidak punya pelangsungan yang  nyata, maka mereka juga tidak punya kehancuran yang nyata juga. Menurut  al-Asy‘ari, Tuhan menghancurkan sebuah benda dengan tidak menciptakan di  dalamnya suatu pelangsungan pada saat ketika Ia ingin menghancurkannya.  Seperti al-Asy‘ari, al-Ka‘bi juga mengatakan bahwa sebuah benda  dihancurkan ketika Tuhan tidak menciptakan di dalamnya sebuah  kelangsungan.*** 

Mulyadhi Kartanegara adalah Pakar Filsafat

 

Mon, 29 Jul 2019 @10:27

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved