Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Kuliah Ilmu Kalam Bagian Kesembilan [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Mutakallimun yang menolak kausalitas

Adapun al-Baqillani, di pihak lain, berpendapat bahwa aksiden-aksiden tidak memiliki pelangsungan dan bahwa mereka berhenti ada ketika Tuhan berhenti menciptakan mereka lagi. 

Al-Baqillani enggan membenarkan bahwa pelangsungan merupakan sebuah makna yang ditimbulkan dalam wujud sebuah  esensi dari sesuatu yang berlangsung dan mengatakan bahwa kehancuran  sebuah benda bukanlah dikarenakan oleh terputusnya (qatha’) perlangsungan darinya, tetapi karena diputuskannya moda eksistensi  (al-akwān) darinya. 

Penolakan terhadap kausalitas ini telah menimbulkan teori lain yang biasanya disebut teori adat (‘ādah) yang  diformulasikan oleh al-Ghazali. Al-Ghazali memulai pandangannya tentang  keteraturan yang kita lihat di alam semesta, dengan mengatakan: 

(1)  bahwa Tuhan telah menciptakan dalam diri kita pengetahuan bahwa Ia  tidak akan melakukan hal-hal yang aneh, meskipun itu sesuatu yang mungkin. 

(2) Pengulangan kebiasaan (‘ādah) yang terus berlangsung  pada mereka, lagi-lagi menanamkan pada pikiran kita kesan yang lekat  bahwa mereka akan terus mengikuti sebuah cara atau tingkah laku sesuai  dengan kebiasaan mereka yang lalu. 

Karena itu bukanlah hukum alam (thabi‘at) atau hubungan kausalitas—bahkan bukan pula hukum alam atau hubungan kausalitas yang ditanam Tuhan dalam benda-benda, melainkan  kebisaan (‘ādah), plus pengetahuan yang dicipta berulang kali yang  menjalankan keteraturan dan kemampuan fenomena tertentu untuk  diramalkan. 

Mengenai gerhana bulan misalnya yang bisa diramalkan, al-Ghazali mengatakan “adalah kebesaran Tuhan yang menciptakan gerhana  matahari atau bulan secara spontan dengan pengetahuan-Nya, posisi tertentu dari bumi atau bulan. Demikian juga kebiasaan Tuhan, yang  sejalan dengan kejadian-kejadian serempak ini, untuk menciptakan dalam  pikiran kita pengetahuan atau kesan bahwa sebuah gerhana, apakah matahari atau bulan, akan terjadi secara teratur pada saat-saat tertentu di dalam kondisi yang sama, kecuali apabila Ia berkehendak untuk melepaskan kebiasaan-Nya.

Dengan mengganti istilah ‘ādah dengan sunnah dan sebab dengan syarat, maka dalam Ihyā’ ‘Ulum al-Dīn, al-Ghazali mengatakan bahwa benda-benda yang dicipta mengikut satu sama lain dalam tatanan suksesi tertentu, menurut prosedur kebiasaan (sunnah) terhadap benda-benda yang diciptakan. Kemudian, sesuai dengan kebiasaan tadi, sebuah benda yang dicipta merupakan syarat bagi yang  lainnya, sehingga dapat dikatakan bahwa diciptakannya kehidupan  merupakan syarat bagi penciptaan pengetahuan, tapi tidak dalam arti bahwa pengetahuan dilahirkan (yatawallada) oleh kehidupan. 

Menurut al-Ghazali, apa pun perbedaan dalam peristiwa, ia mengacu kepada  perbedaan dalam diri sang sebab, dan ini dapat diketahui melalui  prosedur kebiasaan (sunnah) dalam menjadikan akibat sebagai konsekuensi  sebab-sebab (asbāb). Di sini tentu saja al-Ghazali menggunakan istilah  sebab dalam pengertiannya yang longgar, karena dalam kenyataannya  sebab-sebab itu tidak ada. *** (Mulyadhi Kartanegara adalah pakar filsafat Islam)

Thu, 1 Aug 2019 @09:56

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved