Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Kuliah Ilmu Kalam Bagian Kesebelas [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Mutakallimun yang menerima Kausalitas

Tokoh kedua adalah al-Nazhzham. Ia dan Mu‘ammar sepakat bahwa jasad-jasad memiliki sebuah tabi‘at, dan bahwa tabi‘at mereka adalah diciptakan Tuhan. Namun mereka berbeda pendapat dalam dua hal yang penting: (1) menurut Mua‘mmar tabi‘at yang disebut sebagai “makna” adalah sesuatu yang ada dalam atom-atom dan melalui atom-atom itu dalam benda-benda. Ma‘na atau tabi’at inilah yang menjadi sebab bagi peristiwa yang berubah dalam benda-benda, dan juga sebab bagi keteraturan dalam tatanan yang terikat dari semua peristiwa, yang berubah-ubah ini, dalam benda-benda. Tetapi tatanan yang dipandang runtut ini tidak dipandang oleh Mu‘ammar sebagai transisi dari potensialitas kepada aktualitas. 

Menurut al-Nazhzham tabi‘at, yang ia gambarkan sebagai laten dalam benda, merupakan sebab dari semua peristiwa yang berubah dalam benda-benda tersebut, dan juga sebab dari keteraturan dalam tatanan runtut dalam semua peristiwa yang berubah tersebut, dalam arti sebagai sebab transisi dari potensialitas menuju aktualitas. Kesemuanya ini ia sajikan dalam teorinya yang terkenal: Teori Latensi (Kumūn). 

Dua tokoh ini juga berbeda pendapat dalam cara tabi‘at tersebut bekerja di dunia ini. Menurut al-Nazhzham, tabi‘at dalam operasinya tergantung pada Tuhan dan terkena perubahan melalui kekuasaan luar biasa Tuhan. 

Menurutnya setiap tindakan benda adalah karya Tuhan sesuai dengan bakat atau bawaan alami pada benda tersebut. Atom atau tabi‘at baginya hanya sebuah alat yang bertindak atas perintah (bidding) Tuhan. Mukjizat, sekalipun ia tidak mengakui mukjizat yang dinyatakan oleh hadits, namun ia mengakui kemungkinan adanya mukjizat. Ketika ia menolak ketidakmampuan meniru keunggulan bentuk sastra al-Qur’an, ia memberikan penafsirannya yang berbeda atas ayat yang dijadikan sandarannya oleh kelompok ortodoks. Baginya ayat tersebut tidaklah berarti bahwa manusia betul-betul tidak bisa meniru gaya dan kefasihan al-Qur’an, tapi itu hanya berarti bahwa Tuhan telah menghilangkan keinginan (bagi manusia) untuk melakukannya. 

Secara keseluruhan posisi al-Nazhzham tentang kausalitas dan mukjizat adalah berpadanan dengan apa yang dirujuk al-Ghazali kepada para filosof, yang, menurutnya, tidak menolak secara keseluruhan kemungkinan mukjizat, karena mereka hanya membedakan mukjizat. 

Mukjizat, dalam arti bertentangan dengan alur peristiwa biasa dan sebagai karunia luar biasa yang diberikan kepada para Nabi—hanya terjadi dalam 3 hal yang bisa dilakukan oleh Nabi yaitu: (1) meramalkan masa depan, (2) memperoleh ilmu pengetahuan tentang ma‘qulāt, dan (3) melakukan tindakan supranatural di luar dunia. 

Mua’mmar, di pihak lain, menolak sama sekali kemungkinan mukjizat, karena baginya tabi‘at itu bebas dari Tuhan dan tidak tunduk pada perubahan apapun dari kehendak Tuhan. Menurutnya hanya tabi‘at-lah yang melahirkan aksiden, tak ada satu bagianpun dalam pemunculan mereka yang dirujuk olehnya kepada Tuhan. *** (Mulyadhi Kartanegara adalah pakar filsafat Islam)

Thu, 1 Aug 2019 @10:01

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved