Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Khilafah: Khulafa Rasyidun dan Bani Umayyah [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Khilafah tentu saja terkait erat dengan kata khalifah dan kata khalifah dengan kata khalafa. Kebanyakan ahli tafsir awal seperti Hasan Bashri dan Ibnu Abbas mengartikan khalifah sebagai “penerus” atau “pengganti” (successor). Selain dipahami sebagai penerus, Ibn Ishaq mengartikan khalifah sebaga ‘amir, penghuni. Hanya seorang mufassir awal yang mengartikan khalifah sebagai “wakil Allah di muka bumi” (Khalifatan lahu fil-Ardh). 

Al-Khulafa’ al-Rasyidun

Pada masa al-khulafa’ al-rasyidun, khalifah mengandung arti “khalifat rasulillah,” penerus Rasulullah. Kata tersebut belum diartikan sebagai “wakil Tuhan di muka bumi,” tapi penerus Rasulullah. Banyak orang menganggap bahwa inilah kekhalifahan (khilafat) yang paling ideal. Meskipun sebenarnya dalam kenyataan terdapat banyak masalah, misalnya kenyataan bahwa dari 4 al-Khulafa’ al-Rasyidun, 3 orang meninggal dengan cara dibunuh dengan berbagai motif. Dan khusus kasus pembunuhan ‘Usman bin Affan, ia penuh muatan dan intrik politik. 

Secara politik, kekhalifahan ini mungkin menenuhi kriteria tertentu: pemilihan khalifah secara kurang lebih demokratis (lewat musyawarah) dan hanya ada seorang khalifah untuk seluruh umat Islam. Tetapi pada ujung kekhalifahan Ali, umat mulai pecah, ada dua khalifah: Ali dan Muawiyah. Setelah Ali terbunuh, unat Islam memiliki tiga pemimpin: Husain bin Ali di Kufah, Abdullah bin Zubair di Mekkah, dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Siria. Kesatuan kekhalifahan (khilafat) mulai terusik.  

Khilafah Bani Umayyah

Selelah khalifah Ali terbunuh, Mu’awiyah bin Abu Sufyan menjadi khalifah bani Umayyah yang pertama. Sejak itu kekhalifahan tidak lagi berdasarkan mesyawarah, tetapi bersifat monarkis, di mana kekhalifahan diturunkan berdasar garis keturunan. Mu’awiyah menunjuk anaknya Yazid sebagai penerus. Sebagai penerus, Yazid menghadapi pesaing yang kuat. 

Di Mekkah, Abdullah bin Zubair mengkliam dirinya sebagai khalifah dan mendapat banyak pengikut. Di Kufah, Husain memperoleh dukungan dan pengaruh yang kuat, tetapi Yazid menumpasnya dengan sangat kasar. Memenggal leher cucu Nabi tersebut di Karbala. 

Setelah itu Yusuf bi Hajjaj, si tangan besi, diangkat oleh Abdul Malik bin Marwan. sebagai gubernur di Baghdad untuk menumpas sisa-sisa kekutan Husain di Kufah dan menumpas kekuatan Marwan di Mekkah, dengan memenggal kepalanya dan dikirimkan ke Khalifah Malik. Jadi, demikianlah kekhalifahahan Umayyah ditegakkan. Penuh kekerasan dan pertumpahan darah. Tapi dengan cara itulah bani Umayyah menegakkan kesatuan umat Islam dan setelah keadaan aman mereka melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah yang lebih luas lagi. 

Seperti pada keluarga Muawiyah, sistem kekuasaan bersifat monarki, di mana Marwan yang menggantikan Mu’awiyah bin Yazid, menunjuk putranya Abdul Malik sebagai penerusnya. Adapun sifat dari khalifah Umayyah banyak yang tidak terpuji. Yazid mungkin yang terburuk di antara mereka, pemabuk, taassub jahiliyyah dan sangat kejam. Hanya Khalifah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan, yang terkenal salih dan bijaksana, tetapi hanya sebentar beliau berkuasa. Dan ini yang menyebabkan Ibn Zubair menolak kekhalifahannya dan mengangkat dirinya sebagai khalifah, sampai kepalanya dipenggal oleh gubernur Hajjaj pada tahun 692 M.  

Reaksi ulama terhadap penguasa bani Umayyah

Khilafat Umayyah dibangun dengan cara non-Islami, dan menjalani pemerintahannya dengan kejam, tetapi mungkin dari sudut pandangan politik duniawi merupakan keniscayaan. Oleh karena itu, rekasi para ulama kepada para penguasa Umayyah cukup keras. Misalnya terhadap gubernur Baghdad Al-Hajjaj ibn Yusuf, yang diangkat Abdul Malik bin Marwan, al-Dhahabi, ulama besar saat itu berkomentar: 

“Al-Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan dia adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al-Qur'an. Aku (Imam Adz-Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At-Tarikh al-Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu az-Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al-Haramain (dua tanah haram [berarti suci]), penguasaannya terhadap Irak dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambatkan menunaikan salat, sehingga Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.”

Demikian juga tanggapan Hasan al-Bashri terhadap gubernur Baghdad dan Khurasan Ibn Hubairah yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik, yang menggantikan khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang mengatakan bahwa naiknya khalifah Umayyah telah merupakan takdir Allah, dan karena itu mentaati perintahnya yang kadang bertentangan dengan ajaran Islam merupakan kewajiban. 

Terhadap ini, Hasan al-Bashri mengatakan bahwa khalifah dan penguasa yang kejam harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya, dan tidak boleh mengatakan bahwa itu adalah takdir Allah. Dengan inilah Hasan Bashri dipandang sebagai bapak Qadariyyah. 

Terhadap ucapan sang Gubernur, Ibn Hubairah, yang menanyakan bagaimana tanggapan beliau tentang melaksanakan perintah sang Khalifah yang tidak sesuai dengan ajaran Allah, Hasan al-Bashri berkata dengan tegas: 

“Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Taala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabbnya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabbmu dan Rabb Yazid.

Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepadaNya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.” 

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendirian khilafat Umayyah tidak selalu berdasarkan hukum syari’at atau kesepakatan ulama, tetapi semata didorong oleh kepentingan politik duniawi. Meskipun begitu kadang mereka mencoba menjustifikasi kekuasaan dan tindakan mereka dengan pandangan teologis tertentu (Jabariyah), bahwa semua yang terjadi pada mereka, termasuk penobatan mereka sebagai khalifah sebagai takdir Allah, dan ketaatan kepada mereka sebagai kewajiban rakyat. Namun kemudian pandangan teologis itu ditentang oleh sebagian ulama, khususnya Hasan al-Bashri. (bersambung) 

Mulyadhi Kartanegara adalah pakar Filsafat Islam

CATATAN: Tulisan tersebut diambil dari Grup Facebook “Kuliah Filsafat dan Tasawuf bersama Mulyadhi Kartanegara” dan redaksi Misykat memberi tambahan judul, memperbaiki kesalahan ketik dan tanda baca.

Tue, 13 Aug 2019 @10:37

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved