Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Mengapa Rasulullah saw Melarang (Seseorang) Mendidik Anak dalam Keadaan Marah?

image

Tanya: Mengapa Rasulullah saw melarang (seseorang) mendidik anak dalam keadaan marah? Apakah yang dimaksud di sini adalah marah yang timbul dari kondisi (kejiwaan) sang ayah ataukah kemarahan yang muncul karena kesalahan anak? Rasa marah adalah kondisi yang manusiawi dan sangat wajar bila muncul kesalahan dari pihak anak.

Jawab: Makna marah di sini adalah reaksi kejiwaan yang menghilangkan keseimbangan perilaku manusia. Kemarahan terkadang mengakibatkan hilangnya konsenterasi dalam memegangi prinsip-prinsip syariat dalam pendidikan, sehingga pelakunya terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan terlarang, yaitu bersikap kasar terhadap anak. Padahal sikap kasar tidak perlu dilakukan dalam proses pendidikan anak. ***  

Tanya: Kebanyakan ayah tidak dapat menjaga pendapat (pandangan) mereka terhadap anak-anaknya. Jika seorang anak melakukan sebuah kesalahan, maka sang ayah akan langsung menganggapnya sebagai sebuah pembangkangan. Apa pengaruh hal ini bagi anak? 

Jawab: Setiap metode pendidikan memiliki garis-garis besar yang harus diperhatikan oleh keluarga atau para pendidik. Proses pendidikan bukanlah upaya perubahan dengan mengikuti selera individu, tetapi berdiri pada asas-asas umum pendidikan. Apabila metode pendidikan disesuaikan dengan selera orang tua atau pendidik, maka hal ini justru akan menyakiti hati anak atau murid, dan tidak akan memberikan kebaikan padanya. 

Seorang pendidik harus mempelajari kondisi kejiwaan, perasaan, dan potensi-potensi dalam diri anak, sehingga dia bisa melakukan hal terbaik dalam membangun keperibadiannya. Memutuskan (penilaian) negatif atau positif atas perbuatan anak membutuhkan analisis yang cermat, dengan memperhatikan (seluruh) fenomena dan sebab-sebabnya. Setelah itu, kita harus menemukan cara yang sesuai dalam melakukan perbaikan, agar jangan sampai menzalimi dan mempersulit proses pendidikannya. 

Memang, masalahnya adalah bahwa pada umumnya keluarga-keluarga kita tidak menggunakan metode pendidikan seperti ini. Biasanya mereka beranggapan bahwa anak merupakan bagian kepemilikan mereka yang bisa diperlakukan sekehendak hati. Mereka merasa bebas memperlakukan anak-anak sesuai selera mereka, baik dengan kekerasan ataupun cara-cara kasar lainnya. Metode pendidikan seperti ini akan melukai kepercayaan anak terhadap diri orang tua dan tidak maslahat bagi pendidikannya. ***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)

Wed, 14 Aug 2019 @15:08

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved