Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Karbala Al-Husaini, antara Akal dan Emosional (1)

image

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah dan keluarganya yang suci serta para sahabat pilihannya dan pada para Nabi dan Rasul. 

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Wahai kaum mukminin dan mukminat. Peristiwa Karbala atau gerakan Al-Husain as adalah suatu peristiwa sejarah yang besar sehingga melahirkan banyak adat atau budaya yang tidak memiliki ruh dari peringatan itu sendiri, bahkan semangat Ahlulbait as. 

Untuk itu kita dapat temukan dalam setiap peringatan Asyura sebuah budaya yang dapat kita kategorikan sebagai “perbuatan terbelakang”. Seperti yang diutarakan oleh guru kami almarhum Sayyid al-Khui: “Batasan kemuliaan mazhab yang dapat menjelekkan citra Ahlulbait sebagai poros asli Islam.” 

Untuk itu ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab terdahulu, apakah yang dilakukan Imam Husain adalah gerakan bunuh diri (istisyhadiyah)? Apakah Beliau as keluar untuk dibunuh? Apakah Beliau as keluar untuk mendapatkan gelar kesyahidan bersama keluarga dan sahabatnya? Apakah semua yang Beliau perbuat lahir karena keutamaan kesyahidan? Atau seperti riwayat yang sering kita dengar dari para khatib di mana suatu kali Imam Husain as datang menziarahi makam datuknya Rasulullah saw hingga tertidur dan kemudian bertemu Rasulullah saw dalam mimpinya. Beliau alaihissalam mengatakan ingin segera bergabung bersama Rasulullah saw karena tidak ada lagi manfaat hidup di dunia. Rasulullah saw berkata bahwa engkau ya Husain memiliki derajat yang tidak akan sampai kecuali dengan kesyahidan maka keluarlah dan raih kesyahidan itu. 

Seperti riwayat lainnya, Beliau as bertemu dengan saudaranya, Muhammad Al-Hanafiyah dan ketika ditanya soal keluarnya Beliau as, maka Beliau as menjawabnya: “Insya Allah engkau akan melihat aku terbunuh.” Dan ketika ditanya lagi mengapa wanita-wanita ikut dibawa? Beliau as menjawab: “Insya Allah engkau akan melihat mereka sebagai tawanan.” Dapakah dengan riwayat-riwayat seperti ini kita melakukan sebuah studi ilmiah dengan perbandingan terhadap pribadi Al-Husain as sebagai Imam yang memiliki tanggung jawab terhadap perubahan sosial masyarakat sesuai dengan jalur yang digariskan oleh Rasulullah saw, karena Imamah (kepemimpinan) adalah representatif dari sebuah gerakan Islam yang memiliki kepentingan dalam misi risalah demi perbaikan realitas umat dari kehancuran menuju keadaan yang lebih baik. 

Jika Imam Husain keluar untuk mendapatkan kesyahidan, mengapa Beliau as keluar meninggalkan kota Makkah? Padahal mata-mata Bani Umayyah selalu mengintanya, bahkan mereka siap untuk membunuh Beliau as. Sekali pun bergantungan di atas sitar Ka’bah. Apakah ini untuk menghindari penodaan terhadap kehormatan Ka’bah semata? Atau apa? Untuk itu kita akan mengutip riwayat lainnya yang menyebutkan Beliau as berbicara ketika hendak meninggalkan kota Makkah. Dan kita akan mencoba membandingkan antara hadis ini dengan hadis lainnya. 

Berkata Al-Husain as: “Wahai manusia bahwasanya Rasulullah saw penah bersabda bahwa siap dari kalian yang melihat penguasa yang dzalim, menghalalkan apa yang dilarang Allah, berpaling dari janji-Nya, melawan sunnah-sunnah yang dilakukan Rasulullah saw, memperlakukan hamba Allah dengan dosa dan permusuhan, lalu tidak ada yang mau mengubah penguasa itu, baik dengan perbuatan maupun dengan perkataan, maka merupakan hak Allah untuk memasukkan kaum tersebut ke tempat yang Allah mau (yaitu neraka).” Jadi, setiap manusia memiliki tanggung jawab, apa lagi seorang Imam dihadapan Allah Swt. 

Oleh karena itu, tidak ada pilihan untuk bersikap netral terhadap realitas seperti ini. Seperti contoh penguasa yang dzalim, bahkan sebuah keharusan untuk mengubahnya berikut keadaan sosial di mana ia sebagai penanggung jawab. Ini adalah hadis Rasulullah saw yang menjadi landasan syar’i, hal ini banyak perbedaan dengan sebagian fuqaha di mana mereka mewajibkan taat kepada Ulil‘Amr sekalipun mereka adalah penguasa yang zalim dan cukup tanggung jawab kita mengingatkan dan memberikan masukan saja. 

Sekarang kita akan coba untuk melanjutkan khotbah Beliau as dan kita akan coba hubungkan antara teori yang digariskan Rasulullah saw dengan praktik dari teori itu sesuai dengan realitas kondisinya. 

Imam Husain menyampaikan: … “Mereka adalah sebuah kaum yang mewajibkan kita untuk taat kepada setan dan menyuruh kita meninggalkan ketaatan kepada Ar-Rahman, menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharakan apa yang dihalalkan Allah dan menjadikan semua menjadai kacau balau dan saya lebih berhak dari yang lain, dan saya bergerak untuk merubahnya dan membenahi kondisi yang rusak ini yang telah menyerah dihadapan penguasa ini.” 

Dari khotbah ini dapat kita petik sebuah kesimpulan bahwa Beliau as melakukan suatu gerakan perubahan dan bukan sebuah gerakan untuk mendapatkan kesyahidan sekalipun Beliau as siap jika diakhir gerakannya berakhir dengan kesyahidan. Beliau as telah mengungkapkan bahwa kondisi saat itu sangat bertentangan dengan Islam dan Beliau as berbuat untuk mengembalikan kondisi itu sesuai dengan Islam; karena Islam adalah amanat yang diberikan Allah kepadanya. 

Sebagaimana kita dapatkan kritik Beliau as kepada kekuasaan saat itu: “Mereka telah mengambil harta Allah untuk kekuasaan.” Maksudnya adalah harta umat yang berada ditangan sesama mereka demi mengenyangkan nafsu dan kepentingan mereka dan mengubah ibadah umat yang seharusnya kepada Allah menjadi hamba untuk diri mereka. 

Hal ini dapat terlihat pada tahun-tahun dari pemerintahan Yazid bin Muawiyah, di mana mereka memaksa baiat dari penduduk Madinah untuk taat dan menjadi hambanya. Setelah itu, mari kita membaca perkataan dari Al-Husain yang terkenal: “Sesungguhnya aku tidak keluar untuk memprovokasi, atau berbuat dzalim atau berbuat kerusakan, tetapi semata-mata untuk menuntut perubahan umat kakekku, aku ingin menyeru kepada yang makruf dan menentang segala yang mungkar, siapa yang menjawab ajakanku berarti Allah lebih berhak terhadap kebenaran dan siapa yang menentangnya aku harus bersabar sampai datang pengadilan Allah dan Allah sebaik-baiknya Hakim.” 

Di sini kita dapati bahwa Beliau as melakukan gerakan reformasi ditubuh umat. Beliau as dilihat sebagai penanggung jawab umat karena kepemimpinannya adalah mewakili kenabian, di mana meluruskan yang didapatinya menyimpang dan membenahinya jika didapatinya rusak. Dari hadis ini kita dapat melihat bahwa Imam Husain as tidak keluar untuk berperang. 

“Siapa yang menentangku maka aku harus bersabar sampai pengadilan Allah tiba dan Allah sebaik-baiknya Hakim.” 

Seperti yang dilakukan Rasulullah sebelum peistiwa hijrah, yaitu sebuah usaha damai dengan akhlak dan nasihat yang baik, membuka dirinya untuk berdialog, perkataan yang baik, cara yang baik pula seperti pada ayat “hanya karena dengan rahmat Allah lah kamu berlaku lemah lembut, jikalau hatimu keras maka mereka semua akan berpaling darimu” dan perkataannya “siapa yang menentangku maka aku harus bersabar sampai pengadilan Allah tiba dan Allah sebaik-baiknya Hakim”. Inilah ajakan yang dilakukan oleh Imam Husain a.s sampai ketika dalam sebuah riwayat beliau banyak menerima surat-surat (dukungan) dari kufah yang mencapai 18.000 surat dan begitu juga surat beliau pribadi kepada penduduk Basrah yang menjelaskan bahwa dirinya lebih berhak dalam urusan ini ketimbang siapa pun sebelum kami dimana kami lalui itu semua, dan kami bersabar. Dan Imam Husain as tidak bergerak atas dasar tujuan untuk berperang atau kesyahidan. 

Maka kita perlu mengulang riwayat-riwayat yang menguatkan hal tu. Jika Beliau as keluar untuk berperang lalu mengapa Beliau as membawa anak-anak bersamanya? Membawa kaum wanita bersamanya? Jika Beliau as ingin mencari kesyahidan, lalu mengapa Beliau paksakan kesyahidan itu pada mereka? Walaupun Beliau siap untuk menerima kesyahidan dalam usahanya tersebut. Dan problematika yang kita hadapi adalah adanya budaya ratapan dan tangisan yang menunjukkan penekanan pada dramatis peristiwa melebihi penekanan terhadap inti permasalahan, dan para khatib mengarahkan umat ke arah ini. 

Begitu juga para penyair. Kita sering mendengar dari para khatib mimbar membawakan sebuah riwayat: “Jika agama Muhammad tidak tegak kecuali dengan kematianku,” padahal awalnya ini adalah sebuah syair dari seorang di Karbala. Kemudian menjadi terkenal dan diulang-ulang dan menjadi perkataan Imam Husain as. Bagaimana agama Muhammad tegak karena kematian Al-Husain as? Tentu perkataan seperti ini bertentangan dengan misi Al-Husain itu sendiri, yaitu membenahi umat kakeknya. Bagaimana mungkin Beliau mengatakan: “Wahai pedang-pedang ambillah aku!” 

Untuk itu dapat kita katakan bahwa Imam Husain as bergerak untuk pembenahan dan reformasi atau kalau kita ingin menggunakan istilah di zaman sekarang kita katakan Imam Husain keluar untuk melakukan revolusi. Yaitu pemahaman revolusi sebagai suatu usaha perubahan dari akarnya dan merubahnya menuju suatu yang baik. Dan itulah suatu usaha dari kita yang harus kita lakukan untuk memahaminya. Dan banyak juga buku-buku sejarah menampilkan Imam Husain lewat sebuah hadis yang mengambarkan adanya sisi kelemahan beliau. Kita semua sepakat bahwa Imam Husain as adalah seorang manusia yang memiliki perasaan terhadap anak, keluarga dan sahabat-sahabatnya, tetapi bukan dengan potret di mana Beliau as tak mampu mengendalikan emosinya. (bersambung) ***

 

SUMBER https://embaagil.wordpress.com/2019/08/30/karbala-al-hussain-antara-akal-dan-emosional/

Tue, 3 Sep 2019 @10:26

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved