Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Karbala Al-Husaini, Antara Akal dan Emosional (2)

image

Ada sebuah riwayat yang terkenal di mana dalam suatu malam ketika Beliau as tidur dan bangun mengajak bicara Ali Akbar kemudian menangis, lalu beliau tidur lagi dan bangun kemudian mengajak bicara Qasim bin Hasan kemudian menangis lagi. Yakni yang tampak adalah bagaimana Beliau as tak mampu menguasai dirinya menghadapi peristiwa tersebut.

Memang menangis adalah satu hal yang manusiawi, tetapi dengan cara seperti itu di mana kaum wanita pun menjadi terbawa emosi mendengar tangisan Beliau as, malah merendahkannya sendiri.

Seperti yang dapat kita lihat bagaimana ketika Zainab sa tampak berduka kemudian menangis tatkala melihat sejumah pasukan lawan datang mendekat. Lalu Imam Husain as memintanya untuk dapat mengendalikan emosinya. Bahkan, dapat dilihat ketika Beliau as mendekat dan menghampiri sahabat-sahabatnya yang terbaring dan telah mendapatkan syahadah. Bahkan lebih dari itu ketika kita mendengar Beliau tinggal seorang diri di antara kerumunan pasukan lawan di mana itu merupakan puncak dari peristiwa itu sendiri, tetapi Beliau as tetap dapat mengkontrol emosi dirinya dengan harga diri dan kemuliaan.

Sebagian perawi menceritakan bagaimana sikap Beliau as yang tampak dihadapan musuh: ”Demi Allah saya tak pernah melihat Beliau as tampak sedang dirundung musibah ketika anak-anaknya, anggota keluarganya dan sahabat-sahabatnya satu persatu terbunuh”. Beliau as laksana ayahnya, ‘Ali bin Abu Thalib as dalam keberanian dan ketegarannya. Untuk itu, Beliau as masih sempat mengajak bicara Ibnu Saad: “Apakah engkau tahu siapa yang engkau hendak perangi?” Lalu bagaimana mungkin manusia yang seperti ini digambarkan begitu lemah atau memberikan sinyal lemah kepada musuh-musuhnya atau sahabat dan anggota keluarganya? Bukankah Beliau as adalah pengemban risalah? Beliau justru ingin mengubah dunia Islam dan membenahi kefasadan dalam tubuh umat, mengajak kepada kebaikan dan menolak kemungkaran.

Untuk itu sudah sepatutnya bagi kita untuk meluruskan gambaran tentang Beliau as. Lalu kapan Imam Husain memutuskan untuk memulai peperangan? Ketika Beliau dipaksa untuk mengakui legalitas dari kekuasan Yazid melalui Ibnu Ziyad, seorang bawahannya dengan pasukannya.

Sejak itu Imam Husain melihat bahaya sudah sampai pada puncaknya di mana legalitas dipaksa untuk diberikan kepada yang bukan pemiliknya. Saat itu Beliau as ucapakan: “Demi Allah, aku tak akan berikan pemberian yang hina dina, suguhan seorang hamba sahaya, sungguh jauh bagi kami kehinaan. Allah menolak kehinaan, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” Dari situ Imam Husain as memutuskan mengangkat pedang.

Dari sini mungkin bagi kita dapat mempelajari kepribadian Beliau as, syiar-syiar yang diperjuangkannya. Dan jika mau kita mengadakan peringatan asyura dengan tema “syiar Imam Husain a.s”, yaitu bukankah kita sekarang ini menghadapi banyak penguasa yang dzalim, dengan sifat seperti yang disifatkan oleh Imam Husain. Dan seharusnya bagi kita untuk memiliki sebuah rancangan program yang harus dilaksanakan, di mana semua penguasa terutama di negara-negara Islam tunduk terhadap kekuatan adidaya yang memang membantu penguasa-penguasa itu dalam kelangsungan kekuasaannya. Inilah yang harus kita hadapi dan tentunya banyak dari elemen-elemen pendukung mereka dari para politisi dan birokrat yang dibeli dengan harta dan kekuasaan agar melawan keadilan dan menentang pejuangan Islam rakyat Lebanon dan Palestina dan turut memberikan jalan bagi tentara Zionis dalam pembunuhan dan penyembelihan rakyat dan anak-anak Palestina serta seluruh warga sipil, termasuk usaha-usaha untuk menghilangkan faktor pendukung (Palestina) agar masalah Palestina dapat menjadi barang jualan dengan Israel, Amerika dan Uni Eropa.

Kita harus bergerak sesuai dengan perkataan Rasulullah saw: “Siapa yang tidak mengubah dengan perkataan dan perbuatannya maka Allah berhak untuk memasukkannya ke tempat yang Dia kehendaki.” Karena umat bertanggung jawab terhadap jatuhnya sebuah kekuasaan yang dzalim. Jadi, sudah seharusnya semua melakukan segala daya upaya dalam rangka revolusi terhadap penguasa seperti itu karena mereka (para penguasa itu) telah memberikan sumbangsih negatif kepada umat, yaitu sebuah usaha untuk melemahkan umat.

Di mana dapat kita perhatikan mereka melemahkan umat ini sehingga meredam semua usaha penolakan dan protes terhadap mereka di banyak negara. Untuk itu wahai saudara-saudaraku tercinta merupakan keharusan bagi kita untuk konsekwen dengan syiar Imam Husain as, yaitu “perbaikan umat kakekku, menyeru kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar.”
Kita harus segera merancang sebuah program tentunya sesuai dengan kemampuan karena “Sesungguhnya Allah tidak membebani setiap jiwa melebihi kemampuannya”.

Pembenahan yang saya maksud adalah pembenahan terhadap kerusakan dibidang politik, keamanan, ekonomi dan budaya di tengah masyarakat kita. Begitu juga bagi kita agar menjauhkan mereka yang telah memberikan andil dalam menjelekkan dan merusak cerita Karbala dan Imam Husain as.

Karena problematika yang sedang kita hadapi adalah sebuah problem perpaduan antara pembaca maqtal dan umat itu sendiri. Saya melihat teramat banyak, bahkan prosentase melebihi 90% dari para khatib mimbar dan pembaca maqtal tidak memiliki pengetahuan. Mereka tidak paham sekali pun mereka membaca dan menulis. Mengapa? Karena merekalah yang membawa khurafat kepada kita, yaitu khurafat dramatisasi yang memiliki tujuan menguras air mata. Dan kita sebagai umat lebih senang mencari pembaca maqtal yang memiliki kemampuan suara layaknya seorang biduan, di mana mampu melantunkan nashid-nashid Karbala yang penuh dengan ratap-tangis. Kalau saja ada orang yang memiliki pengetahuan sejarah dan sastra, di mana orang-orang tersebut mempelajari dengan benar urutan sejarah dan syair-syair dengan objektif. Karena sekarang banyak dari syair-syair yang berada di tengah-tengah kita justru dianggap oleh umat ini sebagi suatu yang muqaddas (suci).

Sebagian syair-syair itu bertentangan dengan akal kita seperti syair yang dinisbahkan kepada Abu Fadl Abbas: “Kalau bukan karena qadha Allah semua akan kutebas dengan pedang”. Apakah ini dapat diterima akal? Atau yang lainnya seperti yang dinisbahkan kepada Imam Husain: ”Jika agama Muhammad tidak dapat tegak kecuali dengan kematianku, maka wahai pedang ambillah aku.” Hal seperti ini justru menghina Imam Husain. Berarti Beliau as mengharap pedang-pedang itu datang kepada Beliau as atau logika yang dibalik jika Imam Husain as hidup berati agama Muhammad saw tidak dapat tegak. Padahal Imam Husain adalah seorang Imam, reformis, revolusioner, sekarang telah berubah menjadi buruk seperti apa yang ada dalam benak umat ini. (bersambung) ***


SUMBER https://embaagil.wordpress.com/2019/08/30/karbala-al-hussain-antara-akal-dan-emosional/

Tue, 3 Sep 2019 @11:04

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved