Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Karbala Al-Husaini, Antara Akal dan Emosional (3)

image

Masih banyak lagi syair-syair yang dibawakan dalam peringatan Asyura, baik yang fushah maupun syair rakyat yang tak sesuai dengan gambaran sebenarnya. Seperti Zainab as pahlawan Karbala, seorang wanita pemberani dan kuat, seperti suara lantangnya terhadap Yazid dan Ibnu Ziyad.

Dan mungkin bagi kita untuk menawarkan bagi dunia pribadi seperti beliau sebagai model wanita muslimah yang tangguh, kokoh dan heroik tapi sekarang digambarkan sebagai wanita badui yang hanya meratapi sanak keluarganya. Karena jika kita mempelajari Zainab akan kita dapati seorang saudara perempuan Imam Husain dalam perjuangan dan misi dan beliau begitu mengenal Imam Husain dengan segala pemahamannya baik pribadi maupun misi sucinya. Tetapi kita justru menjatuhkan segala keagungan Zainab dengan membawakan syair-syair agar umat dapat menangisi Zainab as dan tanpa kita sadari Zainab menjadi materi untuk tangisan bukan materi untuk ketaladanan.

Beginilah. Sekarang justru adat istiadatlah yang memberikan gambaran tentang Imam Husain, bagaimana ini? Memukul kepala dengan pedang. Sampai-sampai kelompok non Muslim sekarang mengatakan: “Dahulu orang-orang Syiah mengangkat pedang dan diarahkan kepada musuh-musuh mereka, tetapi sekarang justru kebalikannya mereka mengangkat pedang dan diarahkan pada kepala-kepala mereka sendiri.” Dan adat istiadat seperti ini dianggap sesuatu yang suci tak dapat disentuh. Padahal budaya seperti ini bukan dari para Imam Ma’shumin, justru dari orang lain yang dalam sebuah cerita dari seorang Turki yang mendengar apa yang terjadi terhadap Imam Husain kemudian memukulkan pedang pada kepalanya. Dan kita justru mengikuti orang Turki ini berabad-abad.

Sekarang coba kalian lihat dilayar televisi, seperti yang terjadi di Nabatiyah (Lebanon Selatan), seorang ayah memaksa dirinya untuk melukai kepala anaknya yang masih di bawah umur. Lalu seluruh televisi, media cetak meliput peistiwa ini. Saya sendiri membaca sebuah harian Kanada yang meletakkan sebuah foto di mana seorang ayah menggendong anaknya sedang menangis. Ada pun komentar koran tersebut di bawahnya “ini dilakukan dengan nama Allah”, yaitu penyiksaan terhadap anak. Kita mengatakan menyiksa diri itu haram hukumnya. Lalu bagaimana menyiksa anak-anak? Jelas haram hukumnya, bahkan termasuk kategori kriminal.

Tidak boleh dengan alasan apa pun seorang ayah atau ibu melakukan hal seperti itu kepada anaknya. Karena wilayah atau hak orang tua yang diberikan oleh Allah adalah melindungi anak dan berbuat untuk kemaslahatan anak. Tapi yang aneh kita menjadikan perbuatan seperti itu sebagai sesuatu yang muqaddas (suci), bahkan tak jarang para ulama kita mengeluarkan fatwa mustahab (dianjurkan) untuk perbuatan ini. Bahkan sebagian ulama kita (semoga Allah memberikan mereka hidayah) mengatakan budaya seperti ini dapat menjadikan Syiah menjadi besar dan terkenal.

Ada lagi budaya memukul punggung dengan rantai yang diletakan sesuatu yang tajam sehingga dapat melukai punggung mereka. Budaya seperti ini, bahkan masih ada di Iran. Dahulu almarhum Sayyid Muhsin al-Hakim ra pernah mengharamkan sebuah budaya jalan di atas api dalam memperingati Asyura.

Kita menyaksikan ada yang berjalan dengan menyeret pipi mereka dengan dalih demi Imam Husain. Ada juga sekarang budaya berjalan menuju haram Imam Husain dengan merangkak seperti jalannya seekor anjing dengan dalih tawadhu di hadapan Imam Husain. Jadi, setiap waktu ada sesuatu kreasi baru. Cara-cara seperti ini yang saya katakan merusak atau memburukkan citra Syiah.

Seperti yang dikatakan almarhum guru kami, Sayyid Al-Khui ketika ditanya: “apakah budaya seperti ini dapat dikatakan sebuah syiar dan apakah boleh dilakukan?” Sayyid Khui menjawab: “Jika dapat menginjak-injak kesucian mazhab maka hukumnya tidak boleh.” Lalu beliau ditanya lagi: “Apakah batasan menginjak-injak kesucian mazhab?” Jawabnya: “Yang dapat membuatnya menjadi bahan tertawaan dan ejekan orang lain.” Sekarang semua yang ditampilkan di media televisi sudah menjadi bahan tertawaan orang.

Saya sejak lama mengatakan sebuah ekspresi kesedihan bukan dengan cara seperti ini. Kalau kita umpamakan anak kecintaan kalian ada yang meninggal dunia, apakah kalian akan memukulkan pedang di atas kepala kalian sebagai sebuah ekspresi kesedihan kalian? Ini semua bukan jalan berpikir orang yang menggunakan akalnya. Apakah mereka tidak mempunyai akal?

Saya selalu katakan orang yang mencintai Imam Husain adalah mereka yang berperang menghadapi Israel di Lebanon Selatan. Atau para pemuda-pemuda kita dalam perang Juli 2006 lalu atau pada perang-perang sebelumnya, mereka adalah para pemuda pejuang yang ikhlas dan baik yang mencintai Imam Husain yang sebenarnya. Karena Imam Husain berjuang, terluka dan syahid. Lalu bagaimana kita bisa menafsirkan orang yang memukulkan pedang ke kepala mereka?

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta, sesungguhnya Karbala adalah sebuah kekayaan yang besar dan Karbala merupakan suatu contoh yang dapat kita persembahkan kepada dunia bahwa ada sebuah perjuangan yang memiliki spirit kemanusiaan dalam menghadapi kebuasan yang diwakilkan para pembunuh Imam Husain as.

Saya tegaskan di sini bahwa kita harus menggabungkan antara perasaan dan masalah sesungguhnya. Karena kita tak ingin pesan sejarah kemudian menjadi hilang dengan eksploitasi perasaan yang berlebihan. Kita perlu membimbing perasaan itu ke jalan yang tepat dan mereformasi perasaan itu sampai semuanya menjadi satu kesatuan yang sempurna di mana perasaan melayani pesan dari misi Karbala dan perasaan itu sebagai puncaknya. Dan dengan sudut pandang kemanusiaan dari misi itu akan menjadikannya sebagai pendorong untuk memberikan sumbangsih dalam menghadapi semua problematika dunia.

Sebagaimana hari ini sebagian kita berada dalam cengkraman dan kesemena-menaan Zionis yang didukung oleh AS dan Uni Eropa seperti yang terjadi di Gaza sekarang. Jika kita menolak bentuk kesemena-menaan dalam peristiwa Kabala berarti kita juga harus menolak kesemena-menaan yang terjadi di dunia hari ini, terlepas apakah mereka satu agama dan kepercayaan dengan kita atau tidak, karena dalam isu itu sendiri sebenarnya adalah isu kemanusiaan. Kritik yang saya lontarkan sekarang ini sama sekali bukan ingin menjauhi perasaan, tapi justru ingin menempatkan perasaan pada tempatnya.

Jika kita memukul dada kita maka hendaknya pukulan itu pelan dan tenang, bukan seperti pukulan yang saling sahut menyahut. Tapi sekali lagi pukulan yang mengekspresikan kesedihan di dalam hati dan di sisi yang lain mengikuti perkembangan setiap isu dan menjauhi setiap perbuatan jahiliyah yang timbul dan berjalan di atas dasar khurafat hanya semata-mata untuk menguras air mata.

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta mari kita peringati hari Asyura ini dengan peringatan yang Islami, yang membawa misi, yang sadar terhadap permasalahan, yang menginspirasi perjuangan, yang menegaskan bahwa perkataan Allah itu adalah tinggi dan perkataan setan itu adalah rendah. Walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh. (tamat) ***

SUMBER https://embaagil.wordpress.com/2019/08/30/karbala-al-hussain-antara-akal-dan-emosional/

Tue, 3 Sep 2019 @20:47

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved