Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Asyura di Kabuyutan Gegerkalong bernuansa Tradisi Lokal Sunda

image

Senin malam (9/9/2019) adalah momentum Asyura. Sebuah peringatan untuk mengenang sekaligus bentuk duka cita atas wafatnya cucu Rasulullah saw di Karbala, Irak, 10 Muharram tahun 61 Hijriah. Momentum ini tidak dilupakan oleh sejumlah komunitas Muslim di dunia, khususnya kaum Muslimin Syiah.

Dari 1 Muharram sampai 10 Muharram menggelar kegiatan majelis duka cita Imam Husain putra Ali bin Abu Thalib ra. Terkait dengan peringatan ini, di Bandung kawasan Gegerkalong Girang sejumlah warga dari berbagai golongan dan komunitas mengikuti peringatan Asyura 10 Muharram di Masjid Nurul Huda.

Menariknya dari peringatan Asyura di Kabuyutan Gegerkalong ini diisi dengan nuansa tradisi lokal masyarakat Sunda. Dalam kegiatan ini, warga yang hadir khusyuk mendengarkan wejangan atau nasihat, dengan diiringi musik gamelan dan tembang khas Sunda. Dilengkapi dengan berbagai sajian makanan khas Sunda, termasuk dawegan (kelapa muda) yang merupakan tradisi khas Kabuyutan Sunda. Tampak juga bubur suro (berwarna merah dan putih) yang melambangkan rasa cinta Indonesia.

Menurut Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong, Abah Yusuf Bahtiar bahwa peringatan Asyura ini merupakan peringatan syahidnya cucu Rasulullah saw, yaitu Imam Husain yang wafat dibantai oleh ribuan pasukan atas perintah Khalifah Yazid bin Muawiyyah. 

“Jamaah yang hadir dari seluruh Indonesia, bahkan dihadiri juga tokoh-tokoh lintas agama seperti Hindu, Budha, Kristen dan Penghayat,” ungkapnya.

Abah Yusuf menyampaikan, peringatan Asyura atau Syuraan di Tatar Sunda merupakan budaya Sajaja Padjajaran. Tradisi ini sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.

Dari peristiwa tragedi 10 Muharam ini, menurut Abah Yusuf, dapat mengambil hikmah berupa nilai-nilai perjuangan, kepahlawanan, dan pengorbanan Imam Husain dalam menegakkan kebenaran.

“Di sini kita benar-benar mejunjung tinggi keberagaman, toleransi beragama dan tetap berpegang teguh pada Pancasila,” katanya. 

Sekadar diketahui masyarakat Indonesia di Bengkulu, Padang Pariaman, Madura, Jawa, dan daerah lainnya senantiasa menghidupkan momentum 10 Muharram dengan kegiatan bertemakan budaya dan keagamaan Islam berupa tahlil dan baca surah Yaasin serta doa-doa dan shalawat. *** (Abu Misykat)

Tue, 10 Sep 2019 @14:55

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved