Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Tragedi Karbala dalam Hadis dan Athar

image

Telah banyak riwayat-riwayat yang mengisahkan akan terjadinya pembunuhan terhadap al-Husayn as yang datang dari Nabi saw, bahkan beliau telah menuturkan lokasi dan kronologi kejadian itu. Di mana kejadian tersebut adalah sebagai ujian pada umat Nabi Muhammad SAW, apakah mereka membela atau meninggalkan cucu beliau sebatangkara? 

‘Imarah ibn Yahya berkata, “Kala itu kita berada di tempat Khalid ibn ‘Urfutah saat terbunuhnya al-Husayn ibn ‘Ali ra. Dan Khalid berkata pada kita, ‘Ini ucapan yang aku dengar dari Rasulullah saw, ‘Sesungguhnya kalian akan diuji dengan ahl al-Baytku sepeninggalku’”.(1)

Demikian pula apa yang diriwayatkan A‘ishah ra atau Umm salamah ra pada salah satunya Rasulullah saw berkata, “Telah datang padaku Malaikat yang sebelumnya tidak pernah masuk ke rumah, dia berkata, ‘Sesungguhnya putramu Husayn akan terbunuh, jika engkau mau, akan aku perlihatkan padamu tanah tempat terbunuhnya’, lalu dia tunjukkan tanah berwarna merah”. (2)

Riwayat lain sebagaimana yang di tulis oleh al-Hakim al-Naysaburi dari Umm al-Fadl dia berkata, “Saat al-Husayn berada di pangkuannya, Rasulullah saw berkata padaku, ‘Sesungguhnya Jibra’il as memberitahukan aku bahwa umatku akan membunuh al-Husayn”. (3) 

Masih seputar kesyahidan al-Husayn, berkata Ibn ‘Abbas, “Aku melihat Rasulullah saw dalam mimpi di siang hari dalam keadaan kumal berdebu, beliau membawa sebuah botol (4) yang di dalamnya terdapat darah. Aku berkata, ‘Demi ayah dan ibuku, ‘Apa ini wahai Rasulullah?’ dia berkata, ‘Darah al-Husayn’. Aku senantiasa memperhatikan hari itu, berkata Ammar, ‘Aku mengingat-ingat hari itu dan kami dapatkan bahwa tepat di hari itu ia (al-Husayn) terbunuh’”. (5) 

Dalam riwayat lain dari Umm Salamah ra berkata, “Suatu hari Rasulullah sedang duduk di rumahku, dia berkata, ‘Jangan ada yang boleh masuk’, aku menunggu lalu al-Husayn masuk, lalu aku mendengar isak tangis Rasulullah saw, aku lihat sementara al-Husayn berada di pangkuannya, dan Nabi mengusap dahinya sambil menagis. Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak tahu ketika dia masuk’, Rasulullah berkata, ‘Jibra’il as tadi bersamaku di dalam rumah dan berkata, ‘Engkau mencintainya?’ Aku jawab, ‘Ya’. Lalu dia berkata, ‘Umatmu akan membunuhnya di daerah bernama Karbala, lalu Jibra’il menunjukkan padaku tanahnya…”. (6)  

Hal ini dikukuhkan pula oleh sayyidina ‘Ali as, “Al-Husayn akan dibunuh dengan keji, sesungguhnya aku mengetahui tanah tempat dibunuhnya dekat dengan dua sungai”. (7) 

Bahkan terdapat banyak kejadian ‘aneh’ saat dan pasca terbunuhnya al-Husayn as sebagaimana telah diungkapkan oleh al-Zuhri, berkata padaku ‘Abd al-Malik “…Apa pertanda saat terbunuhnya al-Husayn ibn ‘Ali”? … “Tidak satu pun batu yang diangkat di Bayt al-Maqdis kecuali terdapat di bawahnya darah yang menetes”.(8)  

Riwayat lain juga dari al-Zuhri, “Tidak diangkat batu di negri Sham (Suriah, Yordania, Libanon dan Palestina) saat terbunuhnya al-Husayn ibn ‘Ali kecuali ada darahnya”.(9)  

Sementara Umm Hakim berkata, “Ketika terbunuh al-Husayn, saat itu aku adalah seorang budak, aku saksikan langit selama berhari-hari laksana gumpalan darah”.(10)  

Dan masih seputar tragedi pembunuhan al-Husayn, berkata Abu Qubayl, “Saat terbunuhnya al-Husayn ibn ‘Ali, terjadi gerhana matahari dan bintang-bintang bercahaya disiang hari hingga kami menganggap bahwa itu adalah dia (matahari-pen)”.(11) 

Dari Shahr ibn Haushab berkata, “Aku mendengar Umm Salamah ketika mendengar kabar kematian Husayn ibn ‘Ali dia melaknat penduduk Iraq, dia berkata, ‘telah dibunuh!! Semoga Allah swt membunuh mereka, mereka telah dipengaruhi dan jadi terhina, semoga Allah melaknat mereka’”. (12)  

Bahkan Umm Salamah ra menuturkan, “Aku mendengar Jin meratapi (atas terbunuhnya) Al-Husayn ibn ‘Ali”. (13)  

Begitu pula apayang dikatakan Maymunah ra, “Aku mendengar Jin meratapi (atas terbunuhnya) al-Husayn ibn ‘Ali”. (14) 

فَلَعَنَ اللهُ أُمَّةً قَتَلَتْكَ ، وَلَعَنَ اللهُ أُمَّةً ظَلَمَتْكَ ، وَلَعَنَ اللهُ أُمَّةً سَمِعَتْ بِذلِكَ فَرَضِيَتْ بِهِ 

Referensi

(1). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadisnomor 15142 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 311. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani dan al-Bazzar telah meriwayatkan dan para perawi Tabarani adalah perawi sahih selain ‘Imarah, dia dithiqahkan oleh Ibn Hibban”. 

(2). A. Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadisnomor 15113 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 301. Berkata Al-Haythami, “Ahmad telah meriwayatkan dan para perawinya adalah perawi sahih”. 

B. Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal, Fada’il al-Sahabah, tahqiq Wasiy Allah ibn Muhammad ‘Abbas, cetakan keempat, juz 2 hadis nomor 1357 (Dammam: Dar Ibn al-Jawzi, 2009), 965. Berkata muhaqqiq, “Sanadnya sahih”. 

(3). Muhammad ibn ‘Abd Allah al-Naysaburi (al-Hakim), al-Mustadrak ‘Ala al-Sahihayn, tahqiq Mahmud Matraji, juz 3 hadis nomor 4887 (Bayrut: Dar al-Fikr Li al-Taba’ah Wa al-Nashr Wa al-Tawzi’, 20032), 388. Berkata al-Hakim, “Hadis ini sahih sanadnya sesuai syarat Bukhari-Muslim namun keduanya tidak meriwayatkan dalam kitabnya”. Berkata al-Dhahabi, “Sahih”. 

(4). Hadis seputar ‘botol’ banyak dimuat dalam kitab-kitab hadis dan sejarah.Contohnya ialah dalam kitab Tahdhib al-Kamal Fi Asma’ al-Rijal karya Yusuf ibnZaki al-Mazzi.  

(5) A. Yusuf ibn ‘Abd Allah ibn Muhammad ibn ‘Abd al-Bar al-Qurtubi (w. 463 H), al-Isti’ab Fi Ma’rifah al-Ashab, tahqiq ‘Ali Muhammad Mu’awwad dan ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Maujud, cetakan kedua, juz 1 (Bayrut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002), 445. 

B. Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15180 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 321. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani dan Ahmad telah meriwayatkan, para perawi Ahmad adalah perawi sahih”. 

C. Ahmad ibn ‘Ali al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad Madinah al-Salam, tahqiq Sudqi Jamil al-'Aththor, juz 1 (Bayrut: Dar al-Fikr Li al-Taba’ah Wa al-Nashr Wa al-Tawzi’, 2011), 114. 

(6). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15116 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 302. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dari berbagai jalur, sedangkan pada salah satu jalur, para perawinya adalah perawi sahih”. Juga hadis senada dengan nomor hadis 15121 pada kitab yang sama. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan sanadnya baik”. 

(7). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadisnomor 15124 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 301. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan para perawinya adalah perawi thiqah”. 

(8). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15159 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 319. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan para perawinya adalah perawi thiqah”. 

(9). A. Ahmad ibn Yahya ibn Jabir al-Baladhari (wafat 279 H), Kitab Jumal Min Ansabal-Ashraf, tahqiq Suhayl Zakkar dan Al-Riyad Zarkali, cetakan pertama juz 3 (Bayrut: Dar al-Fikr Li al-Taba’ah Wa al-Nashr Wa al-Tawzi’), 425. 

B. Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15160 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 316. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan para perawinya adalah perawi sahih”. 

(10). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15124 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 301. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan para perawinya  melalui jalur Umm Hakim adalah perawi sahih”. 

(11). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15163 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 316. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan sanadnya baik”. 

(12). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15145 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 312. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan para perawinya adalah perawi thiqah”. 

(13). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15179 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 321. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan para perawinya adalah perawi sahih”. 

(14). Nur al-Din ‘Ali ibn Abu Bakar Al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id Wa Manba’ al-Fawa’id, tahqiq ‘Abd Allah Muhammad al-Darwish, cetakan pertama, juz 9 hadis nomor 15180 (Bayrut: Dar al-Fikr, 2005), 321. Berkata Al-Haythami, “Al-Tabarani telah meriwayatkan dan para perawinya adalah perawi sahih”. 

***

Ditulis oleh Alwi Husein Al-Mohdar dalam akun facebooknya, 10/09/2019.

Wed, 11 Sep 2019 @08:33

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved