Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kajian Mazhab Syiah: Apa itu Wilayah?

image

Wilayah

Wilayah dan seluruh cabang kosa katanya bermakna perwalian; termasuk dari kata-kata yang banyak digunakan dalam Al-Quran yang memiliki arti kepemilikan, pengaturan dan pemilik ikhtiar. Wilayah terkadang sebuah pekerjaan Allah seperti Tauhid dan salah satu dari asma dan sifat-sifat-Nya. Wilayah semacam ini adalah wilayah takwiniyah dan hubungannya antara sebab dan akibat antara khaliq (pencipta) dan makhluq (yang dicipta) dan ini hanya terbatas pada Allah Tuhan semesta alam. Wilayah Allah swt sifatnya intrinsik.

Oleh karena itu, wilayah sebagian dari para nabi dan Imam-imam Maksum adalah jelmaan dan manifestasi dari wilayah Tuhan. Terkadang juga wilayah atas pensyariatan; kontrak dan legalisasi yang berarti meletakkan perundang-undangan di alam penciptaan, wilayah ini juga milik Allah Swt.

Terkadang wilayah juga pekerjaan manusia yang dalam keadaan ini maka wilayah tersebut dari jenis wilayah tasyri'iyah (pensyariatan). Wilayah semacam ini dibahas dan dikaji dalam ilmu fikih yang mencakup wilayah atas orang-orang penyandang cacat dan wilayah terhadap kalangan masyarakat elit dan wilayatul Fakih.

Para teolog Muslim Syiah meyakini bahwa tidak semua dari para nabi adalah wali. Sesuai dengan ayat-ayat Alquran hanya sebagian dari para nabi yang mencapai derajat tersebut seperti Nabi besar Islam Muhammad saw dan Nabi Ibrahim as. Mereka juga meyakini bahwa wajib bagi Allah untuk memperkenalkan mereka sesuai dengan kaidah lutf (kaidah yang mendekatkan manusia kepada Allah swt). Untuk perealisasian kaidah tersebut maka merupakan suatu kelaziman bahwa wali tersebut harus maksum dan diperkenalkan oleh maksum lainnya.

Dengan mengingat bahwa wilayah dalam pembahasan irfan (sufi) memiliki sisi kebatinan agama dan merupakan harta yang terpendam, menurut keyakinan sebagian arif bahwa setiap pesalik dengan meniti perjalanan suluknya bisa dapat menggapainya. Wilayah adalah makam kedekatan yang menurut keyakinan sebagian orang, makam tersebut dikhususkan bagi Nabi dan para Imam Maksum.

Wilayah yang bermakna Perwalian

Wilayah, Wali dan cabang-cabangnya memiliki arti yang berbeda-beda.  Tetapi, sebagian orang meyakini bahwa kata ini dengan berbagai bentuknya yang berbeda-beda tersebut digunakan dalam makna-makna yang tidak keluar dari hal-hal berikut: "cinta dan persahabatan", "membela dan membantu", "mengikuti dan mematuhi" serta "perwalian", yang mana sisi keumuman dari semua makna di atas adalah kedekatan dari sisi spiritual rohani. 

Wilayah yang dimaksudkan di sini adalah wilyah yang memiliki arti perwalian dan kepengurusan segala hal yang mana wilayah dalam pengartian seperti ini dibagi menjadi dua macam yaitu wilayah atas suatu objek atau beberapa objek dan wilayah atas seseorang atau beberapa orang; wilayah atas suatu objek seperti wilayah atau perwalian seseorang atas harta kekayaan seseorang yang sudah meninggal dan wilayah atas seseorang atau beberapa orang seperti perwalian seorang wali dari segala sisi atas harta anak kecil, seorang anak dan orang gila atau wilayah Tuhan serta para malaikatnya seperti sebagian dari para nabi dan para imam maksum dalam urusan-urusan dunia dan akhirat orang-orang mukmin. 

Oleh karena itu, wilayah adalah semacam kedekatan dua atau beberapa hal yang menyebabkan atau lisensi khusus untuk campur tangan dan mengatur suatu kepemilikan, ada sebuah pengertian yang mana konteks sebagian ayat-ayat Al-Quran juga mengacu pada hal itu. 

Pendekatan Al-Quran pada Kata Wilayah

Sebagian kata wilayah dan semua cabangnya di dalam Alquran disebutkan sebagai salah satu kata yang paling pragmatis. Meskipun cabang dari kata-kata ini, seperti "wali" dan "maula", sebanyak 233 kali digunakan dalam Alquran dalam beragam maknanya(110 kali secara verba dan 123 kali sebagai kata benda). Namun kata "wilayah" hanya dua kali disebutkan dalam Alquran; satu di antaranya dalam ayat 72 dari Surah al-Anfal dan yang lainnya di ayat 44 dari Surah Al-Kahfi, yang dalam kedua ayat tersebut digunakan dalam bentuk wilayah.

Sebagian meyakini bahwa antara kata “walayah” dan “wilayah” tidak ada perbedaan, dan kedua kata tersebut berarti kedekatan dan perwalian. Tapi sebagian yang lain mengatakan bahwa antara dua kata tersebut berbeda dan meyakini bahwa “walayah” berarti kesetiaan, kasih sayang, pertolongan, kesinambungan dan berhubungan. Sedangkan “wilayah” berarti pemerintah dan kekuasaan, selain itu walayat juga berhubungan dengan pencipta dan wilayah berhubungan dengan makhluk. 

Allamah Thabathabai meyakini bahwa wilayah dalam Al-Quran tidak berarti cinta dan kasih sayang, tapi memiliki arti mengatur suatu kepemilikan, sahib ikhtiar dan berhak mencampuri secara resmi dalam segala urusan yang mana hal itu mengharuskan orang lain untuk mengikuti dan mematuhinya dan kewajibannya untuk ditaati oleh orang lain. Beliau juga meyakini bahwa cinta dan kasih sayang keluar dari makna hakiki wilayah.

Sebagian meyakini bahwa salah satu dari ayat-ayat terpenting kalangan Syiah adalah ayat 55 dari surah al-Maidah, yang dikenal dengan ayat "Wilayat".

Menurut pandangan sebagian besar cendekiawan Syiah dan Sunni seperti Zamakhsyari, Thabari, Neisyaburi, Fakhrurrazi ayat ini turun dalam mendeskripsi Imam Ali as. Dan dalam sebab-sebab peurunan ayat ini dimuat bahwa ayat ini diturunkan saat Imam Ali memberikan cincin kepada seorang peminta-minta dalam keadaan rukuk. 

Mungkinkah Manusia memiliki Wilayah

Berdasarkan ayat-ayat Al-Quran, Allah Swt sebagai pencipta manusia dan sebagai Tuhan baginya, memiliki hak untuk menerapkan wilayah atas manusia dan hanya Ia yang menjadi wali bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya: “Patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah, sedang Allah Dia-lah pelindung (yang sebenarnya), Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” 

Oleh karena itu, wilayah atau semua jenis-jenis wilayah terkhususkan bagi Allah swt, hanya Ia yang merupakan wali dan selain-Nya tidak memiliki hak untuk menerapkan wilayah atas hamba-hamba-Nya. Sebagian manusia, menerima wilayah ini dan menempatkan dirinya dalam perwalian Tuhan, namun sebagian manusia yang lainnya melarikan diri dari wilayah-Nya dan menjadikan dirinya berada di bawah perwalian setan. Kaum Mukminin menerima wilayah Allah swt dan Allah swt juga menjadi pelindung bagi kaum Mukminin dan menghantarkan manusia menuju kebahagiaan serta membimbing manusia untuk menjauhi kegelapan dan kesesatan menuju ke lembah cahaya. 

Orang-orang yang tidak menerima wilayah Allah swt, maka mereka telah menerima wilayah patung-patung dan taghut. Padahal anggapan mereka adalah batil dan orang-orang kafir tidak memiliki wilayah atas orang lain. Hanya Allah swt yang mampu menerapkan wilayah. Allah swt juga memilki kemampuan dan memiliki hak untuk bercampur tangan dalam urusan takwini. Hanya Ia yang memiliki kewenangan untuk membuat hukum, dan dengan membuat hukum yang disebut dengan ajaran-ajaran agama, maka perbedaan-perbedaan kemasyarakatan akan teratasi dan akan membawa manusia kepada kebahagiaan yang abadi. 

Allah swt mendelegasikan wilayah sesuai dengan kelayakan dan kapasitas hamba-hamba-Nya. Tentu saja, wilayah orang-orang ini tidak seukuran dengan wilayah Allah swt namun berada dalam jajaran wilayah Allah swt secara vertikal (di bawah) dan orang-orang ini menerapkan wilayah berdasarkan kehendak dan keridhaan Ilahi. ***

TULISAN diambil dari WikiShia dengan link http://id.wikishia.net/view/Wilayah (diakses 15/09/2019; jam 17.27 wib)

Sun, 15 Sep 2019 @17:32

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved