Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Memahami Fiqih dan Ikhtilaf

image

JIKA direnungkan dari kajian agama Islam yang punya manfaat banyak bagi umat Islam adalah ilmu Fiqih. Kajian akidah, kajian tarikh, tasawuf, dan akhlak, kemanfaatannya bersifat personal. Kemudian juga mudah diakses orang lain dalam bentuk buku-buku atau bincang-bincang dengan orang yang punya kualifikasi dalam bidang tersebut.

Namun, secara umum dalam kehidupan yang banyak ditanyakan atau ingin penjelasan biasanya seputar Fiqih. Wajar karena Fiqih menyangkut keseharian umat Islam. Fiqih menyangkut hidup umat Islam di tengah masyarakat. Meski memang bersifat individu dalam ibadah, tetapi masih ada aspek sosial dalam Fiqih yang mesti diperhatikan. Kadang ini yang menjadi masalah di masyarakat. Yakni tentang ikhtilaf dalam Fiqih. 
​​
Fiqih dalam agama Islam beragam mazhab. Dalam mazhab Sunni saja lebih dari empat mazhab Fiqih. Dalam mazhab Syiah (Imamiyah Ushuliyah) pun terbagi dalam marja-marja sehingga setiap ulama mujtahid (grand ayatollah) memiliki risalah dan fatwa masing-masing. Kemudian pengikutnya (umat Islam atau muqalid) tinggal merujuk kepada ulama tersebut.
 
Sama seperti Sunni, dalam Syiah pun ada perbedaan pemahaman Fiqih di antara ulama atau marja (mujtahid). Dalam hal ini, sikap terbaik adalah memilih salah satu ulama atau marja (mujtahid) yang dirujuk atau yang kita anggap paling berilmu di antara ulama dan marja lainnya. Jika tidak ditemukan jawaban dari ulama atau marja yang kita ikuti maka bisa mencari jawaban kepada ulama atau marja lainnya. Yang dirujuk adalah yang kualifikasi ilmunya di atas ulama yang diikuti oleh kita. Atau bisa juga dengan membandingkan fatwa-fatwa di antara para ulama atau marja yang populer, kemudian diambil fatwa yang menurut kita meyakinkan dan menenteramkan.
 
Sekadar diketahui bahwa pada level muqalid (pengikut ulama atau pengikut marja) pun dalam menerjemahkan dan memahami fatwa dari marja kadang terjadi perbedaan antara sesama muqalid. Tentu tidak mungkin untuk satu persoalan seorang marja mengeluarkan fatwa yang berbeda. Dalam ini sangat diperlukan kecerdasan dan daya kritis kita atas semua informasi yang sampai kita meski berasal dari seseorang yang disebut ustadz. Kecuali kalau kita mengenalnya dan mengetahui keilmuannya dan akhlak mulia melekat padanya. Kualifikasi ini perlu diperhatikan jika kita meminta penjelasan tentang suatu hukum atau amalan ibadah yang hendak dijalankan oleh kita.
 
Tentu yang paling baik adalah belajar ilmu-ilmu yang dikuasai oleh ulama atau marja (mujtahid) agar mampu memahami apa yang ditulis dan difatwakannya. Bukankah dalam agama Islam diwajibkan untuk terus belajar sampai tiba kematian? Karena itu, umat Islam wajib belajar dari berbagai khazanah ilmu Islam, termasuk belajar dari para ulama atau dari para marja. Jangan terbatas dengan satu sumber atau rujukan. Ilmu agama Islam dan pemahaman itu luas dan terbuka. Karena itu, perlu untuk serius dalam belajar agama Islam.
Talfiq 
Sekadar tambahan dalam kaidah ushul Fiqih bahwa prinsip mengambil pendapat dan fatwa dari berbagai ulama atau marja untuk diseleksi (dipilih) kemudian mengambil yang terkuat dalam dalilnya untuk diikuti disebut prinsip talfiq. Apa itu talfiq?
 
Ustadz Jalaluddin Rakhmat menerangkan bahwa "talfiq, yaitu memilih dari berbagai mazhab yang ada yang kita senangi. Hanya, para ahli ushul fiqih menyatakan bahwa talfiq boleh dilakukan oleh seorang mujtahid dan bahwa pertimbangannya bukan ketenangan, kekhusyukan, dan kepraktisan, tetapi karena pertimbangan kekuatan dalilnya" (Jalaluddin Rakhmat, Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer. Bandung: Mizan, 1999, halaman 5-6).
 
Untuk level awam seperti saya mungkin cukup dengan mengikuti yang menenteramkan dan fatwa yang tidak akan menimbulkan dampak negatif di tengah masyarakat atau keluarga.
 
Sesuai dengan kaidah ushul fiqih bahwa Fiqih terbagi dalam dua: taklifi dan wadh'i, yang berkaitan dengan privat dan yang berkaitan dengan sosial. Untuk yang privat mungkin bisa tetap merujuk kepada ulama atau marja yang Anda ikuti, tetapi untuk yang terkait dengan social maka perlu menyesuaikan dengan konteks keberadaan kita. Seperti kasus 1 Ramadhan dan 1 Syawal atau Arafah saat ibadah Haji, adalah contoh Fiqih sosial yang perlu diikuti oleh kita. Tidak mungkin Anda sebagai jamaah haji menentukan pelaksanaan ibadah Arafah berbeda dengan ketetapan pemerintah Arab Saudi. Tentu dalam urusan ini harus mengikuti ketetapan pemerintah Arab Saudi dalam urusan haji.
 
Maaf, itu hanya sekadar berbagi saja dari yang saya baca. Tentu saya masih awam dalam ilmu agama Islam, sehingga perlu banyak dicerahkan. Anda berhak menolak catatan di atas. Bisa saja Anda berbeda dan ingin menunjukkan perbedaan di tengah masyarakat atau merasa benar kemudian tidak mengabaikan konteks sosial. Bila itu dipilih maka silakan nikmati sendiri hasilnya. Saya ingin beragama dan melaksanakan ibadah penuh nuansa ketenangan dan tanpa cibiran dari kaum awam, yang kadang asal jeplak bicara tanpa ilmu. Susah diajak diskusi. Melawannya cukup dengan senyum dan diam. Kemudian sesuaikan dengan paham kebanyakan biar lebih tenang dan terjalin ukhuwah. Ini yang saya pilih ketimbang konflik.
 
Terakhir, mazhab apa pun atau fatwa marja (mujtahid) siapa pun yang Anda ikuti dalam praktik beragama Islam, ada baiknya untuk berupaya belajar dan memahami khazanah ilmu-ilmu Islam agar mampu mencerna fatwa dengan baik dan benar. Nah, hanya ini yang bisa saya tulis sekarang ini. Moga bermanfaat.  *** [Ikhwan Mustafa]

 

Fri, 20 Sep 2019 @14:21

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved