Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Salah Pilih Pengajian

image

Kita bersyukur saat ini makin banyak orang yang ingin belajar Islam. Mereka tertarik dan terdorong untuk mempelajari dan mengetahui Islam. Orang-orang yang sebelumnya jauh dari agama atau keberagamaan, kini banyak yang mulai menggandrungi hal-hal yang bersifat keagamaan. 

Untuk belajar, sebagian ada yang rajin buka-buka link internet yang mereka anggap menjelaskan tentang Islam, baik berupa tulisan maupun video. Mereka juga mengikuti grup-grup medsos atau sosok-sosok yang mereka anggap ustadz, agar mereka bisa mendapatkan informasi-informasi keagamaan.

Sebagian lagi banyak juga dari mereka yang rajin mengikuti pengajian di suatu tempat, bersama ustadz fulan. Baik berdasarkan ajakan teman, atau berdasarkan rekomendasi, atau informasi yang mereka terima. Mereka mencari pengajian dan menghadirinya. Tidak hanya di suatu tempat pengajian, tetapi juga beberapa. Tidak hanya mengikuti pengajian seorang ustadz, tetapi juga beberapa.

Kalau hendak mencari ilmu, begitulah memang seharusnya pencari ilmu. Harus berusaha, mencari, menemui dan menyimak. Tidak boleh diam, dan harus benar-benar belajar. 

Akan tetapi, semangat saja tidak akan cukup mengantarkan seseorang pada tujuan belajar.  Tempat yang salah, sumber yang salah, bacaan yang salah, justru akan membuat seseorang makin jauh dari tujuan pembelajaran. Alih-alih makin pintar dan mendapatkan pengetahuan, pencerahan dan kebijaksanaan, malah bisa-bisa makin menjauhkan dari kebenaran. 

Sebagaimana orang sakit mencari kesembuhan, jika ia salah mendatangi dan menemui dokter, maka bukannya kesembuhan yang ia dapatkan, malah penyakitnya kian parah dan membahayakan. Karena salah pilih, niat dan semangat mencari kesembuhan, yang didapat malah penyakitan. Karena salah pilih pula, niat dan semangat mencari pengetahuan, yang didapat malah pembodohan, atau bahkan penyimpangan. 

Sebagaimana dalam dunia medis ada malpraktik, begitu juga dalam dunia keagamaan. Jangan sampai orang-orang awam yang sedang haus agama itu salah menemui orang atau mengikuti pengajian yang sedang melakukan malpraktik atas nama agama. Ketika Al-Quran memerintahkan "fas'aluu ahladzdzikri in kuntum laa ta'lamuun" (bertanyalah kepada ahlidzdzikri jika kalian tidak mengetahui), itu artinya perintah agar seorang Muslim selektif memilih dan menentukan siapa yang akan didatangi untuk belajar. Juga harus selektif terhadap pengajian mana yang sepantasnya diikuti agar mendapatkan ilmu dan pengajaran yang sebenarnya. 

Mengapa? Karena "pengajian" yang salah bukan saja tidak akan memberi ilmu yang benar dan bermanfaat, bahkan juga akan merusak kepribadian dan akhlak. Bukan saja ilmu yang diterimanya salah dan menyesatkan, bahkan cara berpikir akan rusak dan perilaku tidak mencerminkan keluhuran akhlak. Lebih rusak lagi ketika kerusakan itu dikhayalkan sebagai bagian dari agama. 

Saking tidak selektifnya memilih pengajian, atau video keislaman, atau konten keilmuan, sampai-sampai materi provokasi dianggap sebagai informasi. Penghujatan dianggap sebagai penyampaian kebenaran. Menyebarkan kebencian dan fitnah dianggap sebagai dakwah. Mengkafirkan sesama Muslim yang berbeda pendapat, baik dalam mazhab keagamaan, maupun pilihan politik. Merasa diri sudah menjadi ahli surga, dan menganggap selain diri dan kelompoknya ahli neraka. Pengumpat (hammaaz), pencela (lammaaz), pengadu domba (nammaam), penyulut-provokator (hammaalatal hathab) dianggap ustadz-ustadzah atau menjadi penceramah. Dan lain sebagainya. 

Pengajian yang salah bisa mengubah perempuan-perempuan lembut menjadi pembenci dan penebar fitnah. Pengajian yang salah bisa menciptakan orang-orang merasa diri paling benar dan mengkafirkan sesama. Pengajian yang salah bisa mengubah manusia-manusia sopan dan beradab menjadi kehilangan kemanusiaannya: tanpa simpati, tanpa empati, tanpa hati. Pengajian yang salah telah menjadikan simbol-simbol keberagamaan (jilbab atau lainnya) menjadi negatif dan tidak bermakna luhur. 

Sehingga jilbab-jilbab anggun yang bertengger di atas kepala sejumlah perempuan itu telah dicerabut dari akhlak Islami. Jilbab-jilbab itu malah dijadikan kamuflase untuk menutupi akhlak buruk sejumlah perempuan yang sedang tertutup mata hati, kejernihan akal dan kelembutan rasanya. Mereka bangga menggunakan simbol ketakwaan dan kesalehan, padahal perilaku mereka mencerminkan kebalikannya. Mereka telah salah menggunakan simbol keagamaan untuk memperturutkan nafsu jahiliyah. 

Sepanjang sejarah, selalu ada orang-orang yang membungkus ideologi kebencian dan fitnah dengan kamuflase agama. Mereka menggunakan agama untuk menghancurkan sesama, membodohi manusia, menjauhkan manusia dari fitrah-fitrah sucinya sebagai hamba Allah yang mencintai kebenaran, kebaikan dan kasih sayang. Dan mereka hidup bukan hanya pada zaman dulu, tetapi sekarang juga. 

Karena orang-orang seperti ini selalu ada pada setiap masa dan generasi, maka orang-orang yang sedang haus ilmu Islam itu mesti menyadari kondisi ini. Agar mereka tidak belajar Islam dari orang-orang yang sedang melakukan malpraktik dalam keagamaan. 

Dampak dari salah pengajian bisa lebih buruk daripada salah pergaulan. Orang yang salah pergaulan bisa diajak kepada kebenaran dan kebaikan. Sedangkan orang yang salah pengajian akan sulit menerima kebenaran dan kebaikan, yang bukan dari dirinya. Orang yang salah gaul merasa diri hina, sedangkan orang yang salah pengajian justru merasa diri mulia, merasa diri ahli surga bahkan memonopolinya. 

Sebagaimana salah obat bisa membahayakan orang sakit, begitu pula salah pengajian bisa mencelakakan orang yang ingin tahu kebenaran. 

Teruslah belajar Islam. Dan belajarlah kepada orang yang memiliki kapasitas di bidangnya. Jangan sampai salah pilih tempat pengajian, jangan sampai salah mengustadzkan orang. Belajar Islam pada dasarnya adalah belajar menjadi manusia sesuai fitrahnya, sebagaimana ditetapkan oleh Allah. Menjadi hamba-Nya, mencintai ilmu pengetahuan, mencintai kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan, kedamaian, dan kasih sayang. 

Hanya kepada-Nya kita memohon dibimbing pada jalan yang lurus, al-shirath al-mustaqim. Agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang tulus dan ikhlas, mengikuti kehendak-Nya. Menjadi manusia sebagaimana yang Dia harapkan. Aamiin. *** 

Bandung, 14 Oktober 2019

Ashoff Murtadha

Sumber Fanpage Ashoff Murtadha 

Tue, 15 Oct 2019 @12:45

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved