Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Peran Keluarga dalam Membentuk Hubungan Kemanusiaan

image

Tanya: Terdapat perbedaan tingkat hubungan yang mengikat anak-anak dalam keluarga. Ada hubungan yang terputus dan ada pula hubungan yang sangat akrab. Bagaimana pandangan Islam atas hubungan di antara saudara? Bentuk hubungan bagaimana yang diinginkan Islam? Dan apa peran keluarga dalam membentuk hubungan kemanusiaan? 

Jawab: Islam menghendaki hubungan dalam masyarakat umum terbangun menjadi hubungan kemanusiaan yang senantiasa beranjak dari saling merasakan dan saling menghormati satu sama lain. Banyak hadis yang menekankan pentingnya menjalin hubungan harmonis di antara sesama. Di antaranya hadis, “Salah seorang di antara kalian tidak beriman hingga dia mencintai saudaranya…” Dan ayat Al-Quran: “sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah saudara” (al-Hujurat: 10) maka kita menganggapnya sebagai prinsip bagi hubungan di antara manusia, bukan sekadar kondisi kemasyarakatan.

Dalil di atas menekankan pada jalinan hubungan kekeluargaan dan bertetangga, meskipun pihak atau lain memutuskan hubungan atau mengganggu kita. Dapat kita pahami bahwa salah satu di antara kedua belah pihak harus berani memulainya; demi menjaga hubungan dengan saudara atau tetangga. Atas dasar ini adalah kewajiban bagi para ayah, ketika terjadi pertikaian, untuk mengarahkan anak-anak agar mengalah dan mendahulukan meminta maaf. Ini akan mengajarkan nilai kasih sayang, toleransi, dan saling memaafkan. Akan tetapi, jika kedua orang tua memanjakan salah satu anak di antara anak-anak lain maka hal itu akan menumbuhkan kedengkian di hati anak. Dalam hal ini, anak tak bisa disalahkan. Kesalahan telah dilakukan oleh ayah atau ibu yang memanjakan salah satu anak di antara anak-anak lain.

Dalam al-Quran diceritakan kisah tentang Qabil dan Habil. Keduanya mempersembahkan kurban (kepada Allah); yang satu diterima dan yang lain tidak. Anak yang dengki berkata kepada saudaranya, “Aku akan membunuhmu!” Saudaranya menjawab, “Sesungguhnya Allah menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.” Dari kisah ini bisa diambil pelajaran bahwa keluarga hendaknya mengeluarkan sifat dengki dari jiwa anak-anak mereka dengan mamperlakukan mereka secara adil dan sama rata. 

Perlu diketahui bahwa keluarga tidak selalu bertanggung jawab atas timbulnya perasaan dengki dalam diri anak-anak mereka. Terkadang, salah seorang anak menyombongkan diri di hadapan saudara-saudaranya lantaran kecantikan, kecerdasan, keberhasilan, atau kekuatan fisiknya, sehingga menyebabkan kedengkian mereka kepadanya. Di sini, harus memberikan pengertian kepada anak-anak untuk tidak saling iri di antara saudara sendiri. ***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)

 

 

 

Fri, 25 Oct 2019 @09:08

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved