Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Wajib Qashar dalam Safar

image

Musim Syiah selalu melakukan qashar dalam shalat fardhu ketika ia menjadi musafir. Padahal yang lebih utama, menurut Ahlussunnah, adalah menyempurnakan shalat, bukan memendekkannya.

“Ada perselisihan pendapat tentang, apakah qashar shalat dalam perjalanan itu suatu ‘azimah (keharusan mutlak) yang tidak boleh ditinggalkan, atau hanya merupakan rukhshah (keringanan) yang menjadi pilihan antara mengqashar dan menyempurnakan? Dalam hal ini Hanafi dan Imamiyah berkata: Ia merupakan ‘azimah (sesuatu yang diharuskan). Jadi qashar adalah ketentuan. Sedangkan mazhab lainnya mengatakan: ia hanya rukhshah. Jika mau dikerjakan  qashar, dan  kalau  tidak,  boleh menyempurnakan shalat” (Muhammad Jawad  Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab; halaman 141.).

Menurut mazhab Syiah Imamiyah, dalam perjalanan saat shalat fardhu maka wajib qashar berdasarkan keterangan-keterangan di bawah ini.

Dari Ibn Abbas: Allah mewajibkan shalat melalui lidah Nabi Muhammad saw untuk musafir dua raka’at dan untuk muqim (yang tidak bepergian) empat raka’at (Shahih Muslim 1: 258; Musnad Ahmad 1: 355; Sunan Ibn Majah 3: 119; Sunan al-Baihaqi 3: 135; Al-Jashash, Ahkam al-Quran, 2:307; Ibn Hazm, Al-Muhalla, 4:271).

Kata Ibn Hazm: Kami meriwayatkan hadis ini juga dari Hudzaifah, Jabir, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Ibn Umar semuanya dari Rasulullah saw dengan sanad yang sangat shahih (Tafsir al-Qurthubi 5: 352; Ibn al-Qayyim, Zadul Ma’ad, Hamisy Syarh al-Zarqani 2:221).

Dari ‘Aisyah, ia berkata: (Pada mulanya) shalat diwajibkan dua rakaat dua rakaat baik  waktu berada di tempat atau sedang bepergian. Lalu seterusnya begitu untuk shalat dalam safar  dan ditambah  untuk  orang  yang tidak bepergian. Dalam kalimat Ibn Hazm melalui Al-Bukhari: Shalat diwajibkan dua raka’at. Kemudian Nabi Muhammad saw berhijrah dan shalat diwajibkan dengan empat rakaat. Yang dua rakaat ditetapkan untuk shalat dalam perjalanan (Shahih al-Bukhari 1: 109, 2: 105, 5: 172; Shahih Muslim 1: 257; Muwaththa Malik 1: 124; Sunan Abu Dawud 1: 187; Kitab al-Umm  Al-Syafi’i  1: 159;  Al-Jashash,  Ahkam  al-Quran 2: 310; Tafsir al-Qurthubi 5: 352, 358; Al-Muhalla 4: 265).

Dari Abu Hanzhalah: Aku bertanya kepada Ibn Umar tentang shalat dalam safar, ia menjawab: Dua rakaat, sunnah Nabi Muhammad saw. Dalam kalimat Al-Baihaqi: Shalat harus diqashar sesuai  dengan  sunnah  Nabi  Muhammad saw  (Musnad  Ahmad  2: 57; Sunan  al-Baihaqi  3:136).  Diriwayatkan  juga  Ibn  Umar berkata: Shalat dalam safar itu dua rakaat. Man khalafa al-sunnah  faqad  kafar.  Barangsiapa  yang  menyalahi  sunnah ia sudah kafir (Sunan al-Baihaqi 3:140; al-Muhalla 4:270; Ahkam al-Qur’an 2:310).

Dari  ‘Imran  bin  Hushayn:  Setiap  kali  aku  bepergian bersama Rasulullah saw kapan saja, aku selalu menemukan Rasulullah saw shalat dua rakaat sampai ia kembali. Ketika aku  berhaji  bersama  Nabi  Muhammad saw, ia juga  shalat dua rakaat sampai kembali  ke Madinah.  Ia  tinggal  di Makkah 18 hari. Ia selalu shalat dua rakaat. Ia berkata kepada penduduk Makkah:  Shalatlah  kalian  empat  rakaat,  karena  kami  ini semua  kaum  musafir (Sunan al-Baihaqi  3:135;  Ahkam al-Quran 2:310).

Dari  Umar  bin  Khaththab,  dari  Nabi  Muhammad saw.  Ia  bersabda: Shalat  musafir dua rakaat sampai ia kembali kepada keluarganya  atau  meninggal  dunia  (Ahkam  al-Quran 2:310).

Dari  Hafash  bin  Umar.  Ia  berkata:  Anas  bin  Malik berangkat bersama kami menuju Syam untuk menghadap Abdul Malik.  Kami  semua  40  orang  dari  Anshar.  Ketika kami  kembali dan kami sampai ke Celah Unta (Fajj al-Naqah) kami shalat Zhuhur dua  rakaat. Tetapi  orang-orang  menambah  lagi  dua  rakaat  lainnya  setelah  yang dua  rakaat  itu.  Anas  bin  Malik  berkata:  Semoga  Allah memburukkan  muka-muka  mereka.  Demi  Allah,  mereka tidak mau menjalankan sunnah dan tidak mau menerima rukhshah. Saksikan aku  sungguh  mendengar  Rasulullah saw bersabda: Ada orang-orang  yang  mendalam-dalami (memberat-berati) agama sampai mereka keluar dari agama seperi melesatnya anak panah dari  busurnya (Musnad Ahmad 3: 159; Al-Haitsami dalam al-Mujma’ 2: 155). *** (Misykat)

 

Thu, 14 Nov 2019 @08:01

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved