Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kesamaan Tradisi dalam Syiah dan Sunni

image

Dalam tradisi beragama Islam, Muslimin Syiah hampir sama dengan pengikut Sunni di Indonesia dari Nahdlatul Ulama (NU). Kaum Muslim Syiah senantiasa membaca shalawat ketika disebut nama Nabi Muhammad saw, membaca surah pilihan seperti Yaasin dan doa Kumayl setiap malam Jumat, menyelenggarakan tahlilan ketika ada yang wafat, membaca doa tasawul setiap Selasa malam Rabu dan melafalkan dzikir pagi dan sore dari doa yang tercantum dalam kitab Shahifah Sajjadiyyah dan Mafatihul Jinan.

Muslim Syiah menjalankan puasa Nisfu Sya’ban dan mengisi malamnya dengan ibadah semalam suntuk dengan doa dan shalat sunah, membaca doa pada hari Rebo Kasan (Rabu terakhir bulan Shafar), berpuasa sunah (ayyamul bidh), menggelar acara duka cita untuk cucu Rasulullah saw setiap 10 Muharram (Asyura), dan ziarah pada hari Arbain (empat puluh hari wafat Imam Husein di Karbala). Ziarah oleh kaum Syiah dilakukan tidak hanya kepada Imam yang sudah wafat dan para ulama, tetapi kepada Rasulullah saw dengan membaca doa-doa ziarah secara khusus dari kitab Mafatihul Jinan. Bahkan, ada yang mengajurkan membaca doa ziarah kepada Rasulullah saw dan Ahlulbait setiap selesai shalat wajib yang lima dan dilanjutkan dengan doa. Dan sudah  menjadi  tradisi  bahwa  kaum  Muslimin Syiah memuliakan Rasulullah saw dan Ahlulbait  dengan merayakan  hari  kelahiran mereka (maulid)[1] dan hari wafat  Rasulullah  saw  beserta  Ahlulbait yang diisi dengan doa ziarah dan majelis ilmu tentang sejarah kehidupan Ahlulbait.

Dari tradisi wiladah dan syahadah ini, kaum Muslim Syiah secara tidak langsung diajak untuk mengenal sekaligus mengambil teladan dari orang-orang suci tersebut. Hal ini juga dilakukan sebagian kaum Sunni yang biasanya melakukan tradisi maulid dan haul untuk ulama besar yang telah wafat dengan diisi lantunan shalawat dan pembacaan Al-Quran disertai doa. Sekadar contoh di perkampungan Tatar  Sunda  ada  kebiasaan  melantukan  shalawat  al-kisa, yaitu li khamsatun utfi bihaa, haral wabail khatimah, al-musthafa wal murtadha, wabnahuma wal fathimah. Shalawat  ini  dalam  tradisi mazhab Syiah sebagai  bentuk  permohonan kepada  Allah agar  terhindar  dari  segala  musibah  dengan  menyertakan  nama-nama  orang  suci  dari  keluarga  Rasulullah  saw.  Lantunan  al-kisa  ini  sering dibacakan  ketika  tiba  rabu  terakhir  bulan  Shafar dan di daerah Garut (Jawa Barat) biasanya dilantunkan saat akan menjelang adzan maghrib.

Kemudian di Kota Gede, Yogyakarta, terdapat tradisi pembuatan jenang sura sebagai bentuk menolak bahaya setiap bulan Muharram. Setiap tanggal 10 Muharram, ada ketentuan  dari  Kraton  bahwa setiap malam suro tidak diperkenankan menyalakan lampu dan dianjurkan tidak beraktivitas layaknya sedang berkabung.[2] Kemudian warga Aceh dan Jawa membuat bubur merah dan putih yang disebut bubur suro atau kanji asyura. Bubur putih melambangkan Al-Hasan yang wafat dengan diracun dan bubur merah melambangkan Al-Husain yang bersimbah darah karena dibantai pasukan Dinasti Umayyah. Di Bengkulu setiap tanggal 1-10 Muharram diselenggarakan kegiatan tabot berupa usungan keranda berhias warna warni yang dalam aktivitasnya menyebut nama Al-Husein. Di Padang Pariaman, terdapat Hoyak Tabuik  Hosein  setiap  10 Muharram. Sama seperti di Bengkulu, orang-orang yang terlibat dalam prosesi budaya Hoyak Tabuik Hosein menyeru nama Al-Husein.[3]

Selanjutnya dii  keraton Cirebon, terdapat bendera  kerajaan  dan  patung kraton (istana) raja terdapat lambang pedang Imam Ali yang bernama zulfiqar dan  dua  macan  di  kanan  kiri  pintu  kraton.  Macan  dan  pedang  tersebut merepresentasikan  keperkasaan  Ali  bin  Abu Thalib.  Juga  ada  mitos pertemuan Kean Santang (ada yang menyebut Rakean Karang) dengan Ali yang menyebabkannya memeluk agama Islam kemudian menyebarkannya saat kembali ke Tatar Sunda. Tidak aneh jika tradisi di Tatar Sunda ada yang mirip atau mungkin dipengaruhi dari mazhab Syiah.[4] Bahkan untuk beberapa daerah di Jawa Barat dan Banten, umat Islam saat menjelang Idul Fitri membayar zakat kepada ulama atau kiai setempat. Praktik ini memiliki kesamaan dalam mazhab Syiah bahwa Muslim Syiah saat membayar zakat dan khumus diserahkan kepada ulama Mujtahid (Marja’ Taqlid) atau melalui wakilnya yang telah ditunjuk untuk menerima dan menyalurkannya sesuai dengan aturan fiqih.[5] Tentu ini memerlukan kajian khusus dalam bentuk riset budaya dan keagamaan di masyarakat Indonesia. *** (Misykat)



[1] Dalil tentang Maulid bisa dibaca pada buku Sirah Nabawiyah karya Dr Ajid Thohir (Bandung: Marja Nuansa Cendekia, 2015) halaman 190-195.

[2] Siti Maryam, Damai Dalam Budaya: Integrasi Tradisi Syiah dalam Komunitas Ahlussunah Waljamaah di Indonesia  (Jakarta: Badan Litbang & Kementerian Agama RI, 2012)  halaman 189-190.

[3] Harapandi Dahri, Tabot: Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu  (Jakarta: Citra, 2009) halaman 49.

[4] Lebih jauh tentang tradisi yang dipengaruhi paham dari mazhab Syiah bisa dibaca karya Muhammad Zafar Iqbal,  Kaflah Budaya: Pengaruh Persia terhadap Kebudayaan Indonesia (Jakarta: Citra, 2006).

[5] Tentang fiqih seperti zakat dan khumus dalam Mazhab Syiah bisa membaca karya Muhammad Jawad Mughniyyah, Fiqih Imam Jafar Shadiq (Jakarta: Lentera, 2004), atau langsung merujuk risalah amaliyah (Islamic Rules) dari Marja’ seperti Sayyid Ali Khamenei, Sayyid Ali Sistani, Ayatullah Jannaati, Sayid Kamal Haydari, Sayyid Alhakim, Syaikh Nasir Makarim Syirazi, Syaikh Jafar Subhani, Ayatullah Huseini Nasab, dan lainnya.

Fri, 15 Nov 2019 @08:17

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved